top ear
Ilustrasi kecap manis di satai. (Freepik)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi kecap manis di satai. (Freepik)

Sejarah Kecap Manis, Bermula dari Tak Lakunya Kecap Asin Pedagang Tiongkok

Inilah yang menjadi sejarah lahirnya kecap manis yang disesuaikan dengan lidah masyarakat Jawa yang doyan cita rasa manis.
Diterbitkan Minggu, 27/09/2020 - 02:00 WIB
oleh Solopos.com/Danang Nur Ihsan
3 menit baca

Solopos.com, SOLO — Kecap memang bukan bumbu penyedap asli Nusantara. Namun, ada sejarah panjang akulturasi kuliner Jawa dan Tiongkok hingga lahirnya kecap manis.

Kecap diperkirakan sudah ada sejak 300 tahun sebelum Masehi (SM). Bangsa Romawi menggunakan sebagai penambah rasa makanan.

Tapi di era Romawi namanya bukan kecap melainkan liquamen. Liquamen sendiri memiliki rasa yang hampir mirip dengan kecap buatan Tionghoa. Diketahui, liquamen terbuat dari semacam petis teri, cuka, minyak, dan merica.

Sebagaimana dikutip dari laman indonesia.go.id, Sabtu (26/9/2020), enam belas abad kemudian pada 1690, bangsa Tionghoa menggunakan saus serupa yang dinamakan dengan ke’tsiap.

Kisah Mbah Dalimin, Bakul Kangkung Berusia 80 Tahun di Alkid Solo

Seturut berkembangnya teknologi, pembuatan ke’tsiap pun mulai memakai kacang kedelai hitam sebagai racikan bahan utamanya.

Ketika sebagian orang Tionghoa ekspansi sampai ke Asia Tenggara, mereka pun menghidupi diri mereka dengan berjualan ke’tsiap di kawasan Melayu seperti Singapura dan Indonesia hingga ke Thailand dan Filipina. Pada saat itulah ke’tsiap mulai masuk ke Indonesia.

Lantaran pengucapannya yang sulit, ke’tsiap pun diubah penyebutannya menjadi kecap. Rasa kecap pun terus dikembangkan di berbagai negara menyesuaikan selera masyarakat setempat.

Sejarah mencatat kecap manis merupakan hasil persilangan budaya Jawa dan Tiongkok. Pada mulanya, para pedagang Negeri Tirai Bambu tersebut datang ke Indonesia membawa berbagai barang yang akan ditukar dengan berbagai hasil bumi dan olahan khas Indonesia.

Terungkap! Kecamatan di Sragen Ini Jadi Pemasok Daging Anjing Terbesar di Soloraya

Salah satu barang yang dibawa dalam ekspedisi tersebut adalah kecap asin (soy sauce). Namun ternyata, kultur budaya masyarakat Jawa, sebagai tempat bersandarnya kapal-kapal dagang Tiongkok tersebut tidak terlalu menyukai kecap asin.

Orang-orang Tionghoa itu akhirnya menambahkan gula kelapa ke dalam kecap asin sehingga berubah menjadi kecap manis.

Inilah yang menjadi sejarah lahirnya kecap manis yang disesuaikan dengan lidah masyarakat Jawa yang doyan cita rasa manis.

Sampai kemudian pada 1882 dibangunlah pabrik kecap pertama di Indonesia. Tepatnya berada di Pasar Lama, Tangerang.

Di Luar Dugaan, Ternyata Ini Penyebab Utang Rp895 Juta Cawali Solo Gibran

Pabrik ini dikelola oleh Teng Hang Soey. Hingga kini, pabrik kecap tertua di Indonesia itu masih beroperasi. Mereknya pun berubah dari Teng Giok Seng menjadi Kecap Cap Istana.

Merek Kecap Tertua di Indonesia

Kecap Cap Istana adalah merek kecap tertua di Indonesia. Setelahnya baru ditempati oleh Kecap Cap Orang Jual Sate yang didirikan oleh Ong Tjin Boen di Probolinggo, Jawa Timur, pada 1889.

Untuk masyarakat Tangerang dan sekitarnya, selain Kecap Teng Hang Soey, ada juga Kecap Benteng Cap SH.

Kecap ini mulai diproduksi sejak tahun 1920 dan masih eksis sampai sekarang. Kecap Benteng Cap SH atau biasa dikenal di pasaran dengan nama Kecap Benteng ini dibuat oleh Lo Tjit Siong.

Gemas! Dalang Cilik Ini Ngamuk ke Ayahnya Karena Salah Nada

Kecap produk masyarakat Tionghoa di Tangerang itu kini juga menjadi panganan oleh-oleh bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Tangerang, khususnya saat berwisata di daerah Pasar Lama dan sekitarnya.

Tidak menjadi sejarah, pabrik itu menjual kecap manis dan varian kecap asin. Produk kuliner ini merupakan bagian dari sisi sejarah peranakan Tionghoa di Tangerang.

Rasanya yang manis dan gurih membuat kecap manis ini kerap menjadi penyedap kudapan, seperti bakmi, bakso, siomay, batagor, bubur ayam, sate, dan gado-gado.

Tak heran, hampir di setiap rumah tangga pasti tersedia kecap manis, begitu pula di warung-warung sampai restoran hotel bintang lima.

Ini Cawabup Paling Tajir di Klaten, Harta Kekayaan Senilai Rp7,2 Miliar

Kini, penyedap hitam manis ini telah menjadi kebutuhan sehari-hari orang Indonesia saat menyantap makanan.

Dari sejarah persilangan budaya Jawa dan Tiongkok, konsumsi kecap manis diprediksi terus mengalami peningkatan selama 2019-2021.


Editor : Profile Danang Nur Ihsan
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini