Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Sejarah Karnaval dalam Perayaan Acara Besar seperti di Wonogiri

Sebanyak 25 kecamatan di Wonogiri telah menyelenggarakan karnaval di daerah masing-masing.
SHARE
Sejarah Karnaval dalam Perayaan Acara Besar seperti di Wonogiri
SOLOPOS.COM - Peserta dari Desa Bangsri melintas saat Karnaval Kebangsaan Kecamatan Purwantoro, Kabupaten Wonogiri, Kamis (17/8/2022). (Dokumentasi pribadi Ita Cika Amalina)

Solopos.com, WONOGIRI — Sebanyak 25 kecamatan di Wonogiri telah menyelenggarakan karnaval di daerah masing-masing. Pelaksanaan karnaval itu tidak lain untuk merayakan HUT ke-77 Republik Indonesia.

Karnaval telah identik menjadi salah satu rangkaian dalam perayaan peringatan kemerdekaan Indonesia. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), karnaval adalah pawai dalam rangka pesta perayaan. Biasanya mengetengahkan bermacam corak hal yang menarik dari yang dirayakan itu.

PromosiNimo Highland, Wisata Hits di Bandung yang Mirip Santorini Yunani

Karnaval sebenarnya telah ada sejak abad ke-16. Dilansir dari skripsi berjudul Karnaval sebagai Sumber Ide dalam Penciptaan Seni Lukis oleh Aditya Hadi Prayitno pada 2015, karnaval berasal dari bahasa Latin. Carn berarti daging dan carnelevamen yang berarti berhenti makan daging.

Seiring berkembangnya zaman, karnaval diartikan sebagai peristiwa atau musim perayaan publik dengan parade, kostum, musik, topeng, dan tarian untuk bersenang-senang dan berpesta. Karnaval diadakan dengan tujuan untuk sarana berkumpul dan mencari kesenangan.

Karnaval mengandung kemeriahan pesta dengan menyajikan musik, pameran benda, dan lain-lain. Karnaval bahkan dapat digunakan sebagai sarana promosi kota dalam mengkampanyekan budaya lokal ke daerah lain hingga dunia.

Baca Juga: Ada Fashion Show Batik Ciprat Karya Disabilitas di Karnaval Wonogiri

Karnaval di zaman Renaissance diadakan di setiap kesempatan. Di antaranya kedatangan pangeran tamu, hari ulang tahun sebuah pertempuran besar, pemberangkatan seorang duta besar, dan lainnya.

Dalam pawai itu tertumpah pameran megah dari kaum bangsawan, hakim, dan warga terkemuka dalam pakaian yang indah dan cemerlang. Termasuk juga pasukan tentara, rombongan rohaniawan, kerumunan pemain musik, akrobat dan pelawak.

Lebih dari seribu orang berbaris, bahkan mereka menonton dari pintu, jendela, hingga atap rumah untuk melihat karnaval.

Baca Juga: Karnaval Serentak di Wonogiri, Jalan Kampung Jadi Jalur Alternatif

Karnaval memberikan kesempatan penyaluran represi secara kolektif di mana tidak ada perbedaan antara aktor dan penonton. Semuanya merupakan subjek yang terlibat aktif dalam ritual.

Itulah yang membedakan karnaval dengan aksi individual biasa. Dilansir dari laman citraaryandari.com, karnaval bersifat kosmopolitan di setiap ruang yang menaunginya. Penyesuaian dengan budaya lokal membuat karnaval hadir dalam identitas yang berbeda.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode