[x] close
top ear
Ilustrasi bakso Wonogiri. (Pictagram)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi bakso Wonogiri. (Pictagram)

Sejarah Bakso Wonogiri hingga Moncer ke Pelosok Negeri

Tahukah Anda kali ini membahas soal sejarah kuliner bakso wonogiri.
Diterbitkan Minggu, 5/07/2020 - 12:00 WIB
oleh Solopos.com/Cahyadi Kurniawan
4 menit baca

Solopos.com, WONOGIRI – Bakso Wonogiri adalah salah satu makanan tersohor di Nusantara. Bukan hal sulit menemukan penjualnya, mulai dari yang berkeliling dengan gerobak hingga restoran mewah.

Lantas, tahukah Anda bagaimana sejarah bakso Wonogiri hingga moncer ke pelosok negeri? Bakso bukanlah makanan asli dari Wonogiri, melainkan hidangan asal Tionghoa. Namun, kelezatannya justru moncer saat diolah tangan-tangan orang Wonogiri.

Kelezatan itu dibuktikan saat Solopos.com menikmati bakso di sejumlah kedai di Kota Sukses itu. Semangkuk bakso Wonogiri berisi beberapa butir bola-bola daging, irisan sawi, bawang goreng, bihun, dan mi kuning. Semua bahan itu disiram kuah campuran kaldu daging sapi dan rempah-rempah yang masih panas. Di atasnya masih ditambah sepotong pangsit goreng yang renyah.

Kisah Suroto Magelang, 10 Tahun Kurung Diri di Kamar Sejak Erupsi Merapi Tak Pernah Mandi 

Desa Giriwarno

Jurnalis Solopos.com, Cahyadi Kurniawan, berusaha menelusuri kisah bagaimana bakso tumbuh dan berkembang di Wonogiri. Perjalanan dimulai dari Desa Giriwarno, Girimarto, sekitar 20 kilometer dari pusat pemerintahan Kabupaten Wonogiri.

Di sana, rumah-rumah menjulang tinggi dengan dinding tembok meski lokasinya di tengah dusun. Pemilik rumah itu rata-rata pengusaha bakso dan jamu di luar Wonogiri.

“Sekitar 70 persen warga sini adalah pengusaha bakso dan jamu di luar kota. Sisanya petani. Hampir tidak ada pegawai,” kata Sekretaris Desa Giriwarno, Wardi, saat ditemui Solopos.com beberapa waktu yang lalu.

Pengusaha bakso itu salah satunya orang tua Wardi, Tarmin. Tarmin mulai membikin bakso sepulang merantau dari Jakarta pada 1970-an.

Bakso itu dibuat dari tepung aci dan daging sapi. Lalu ditambahkan bihun dan mi kuning serta irisan sawi. Tak lupa ditambahkan kuah. Kadang sepotong tempe benguk goreng ditambahkan untuk menemani bakso.

“Dagingnya masih dirajang pakai golok, bukan digiling. Dulu adonannya agak keras bukan lembek seperti sekarang ini,” kenang dia.

Ingat Dulce Maria? Sekarang Makin Cantik, Seksi, dan Jago Nyanyi

Merantau

Setelah matang, Tarmin mendatangi pusat-pusat keramaian seperti pentas wayang kulit, ketoprak, dan hiburan lainnya. Ia memikul dagangannya dari satu tempat ke tempat lain meliputi Jatiyoso, Jatipuro dan Girimarto. Kadang, Wardi ikut menemani ayahnya berjualan bakso.

“Harganya Rp100 per mangkuk. Waktu itu bakso belum populer. Mungkin belum ada yang bikin bakso. Kalau ada  tontonan, jajanan yang dijual biasanya pecel, gorengan, jajanan tradisional lainnya. Mi ayam belum ada,” tutur Wardi.

Pedagang bakso asal Giriwarno, Girimarto, Kamto, 34, menceritakan banyak pedagang bakso asal Wonogiri di perantauan. Di Jabodetabek, misalnya, ada sekitar 10.000 orang pedagang bakso asal Wonogiri yang tergabung dalam Komunitas Pedagang Bakso (KPB). Sebulan sekali para anggota KPB menggelar pertemuan rutin yang dihadiri 500-an anggota.

“Penjual bakso itu sibuk-sibuk. Jadi 500 orang yang hadir setiap bulannya itu seringnya beda orang lagi,” ujar dia, saat ditemui Espos di RSUD dr. Soediran Mangun Sumarso, Selasa (22/10/2019).

Sapi Jumbo 1,2 Ton Milik Petani Boyolali Ini Sering Diajak Berjemur dan Jalan-Jalan Loh

Masakan China

Perkembangan bakso di Wonogiri tak lepas dari peran perantau. Sejarawan dari Universitas Sanata Dharma, Heri Priyatmoko, menceritakan hal itu merupakan pengaruh dari kaum boro asal Wonogiri ke Solo.

Solo merupakan kota dinamis dan surga kuliner. Di sana banyak warung-warung Tionghoa menjajakan kuliner oriental salah satunya bakso. Di warung itulah, kaum boro bekerja sekaligus belajar resepnya. Setelah mahir memasak, mereka pulang dan bikin sendiri di kampung halamannya.

“Mereka berdiri sendiri bukan buka warung melainkan gerobak yang keliling dari kampung ke kampung. Setelah itu, bakso akrab dengan penjual dari Wonogiri,” ujar dia.

Penyebaran bakso dimulai dengan cara paling tradisional, gethok tular. Namun pasca-kemerdekaan, terjadi urbanisasi besar-besaran ke jakarta. Kemampuan menjual dan membuat bakso ini pun dibawa perantau Wonogiri ke Jakarta.

“Akhirnya di Jakarta juga gethok tular. Mereka mengajak adik, tetangga, saudara, dan lainnya,” sambung dia.

Nemu Benda Mirip Jenglot, Warga Mondokan Sragen Alami Kejadian Mistis?

Dari Daging Babi

Awalnya, bakso dibuat untuk dikonsumsi warga Tionghoa. Bakso yang terbuat dari daging babi itu lantas dibikin variasi dengan daging sapi agar komunitas muslim bisa turut menikmatinya.

Kebetulan juga di Solo, pada saat itu, ada pasokan daging sapi yang tak pernah putus yakni adanya rumah jagal (abatoar) di Jagalan. Abatoar dibangun pada era kolonial dengan Kasunanan guna memastikan pasokan daging sapi tidak terputus.

Kementan RI Bikin Kalung Anti-Corona, Apa Fungsinya? 

Mangkunegara VI juga membuka peternakan sapi di Wonogiri mengingat lahan luas dan potensi pakan yang besar. Maka tak heran jika Wonogiri menjadi salah satu daerah pemasok sapi di Jawa Tengah hingga terkenal dengan kuliner bakso.

“Di Wonogiri, ada pasaran untuk khusus sapi di Wuryantoro, Pracimantoro, Giriwoyo. Itu cukup menegaskan bahwa dunia satwa sapi bagi masyarakat Wonogiri sangat erat bukan hanya untuk masalah membajak, tapi rojokoyo itu dipahami sebagai tabungan,” tutur Heri.


Editor : Profile Chelin Indra Sushmita
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini