Sego Krayahan, Menu BTS Meal Khas Tradisi Sedekah Bumi di Blora
Solopos.com|jateng

Sego Krayahan, Menu BTS Meal Khas Tradisi Sedekah Bumi di Blora

Sego Krayahan yang terdiri nasi dan tiga lauk utama yang dikenal dengan sebutan BTS

Solopos.com,  BLORA — Sego Krayahan Bungkus Godhong Jati merupakan hidangan yang kerap disuguhkan dalam helatan krayahan  yang umum digelar  di Kabupaten Blora. Melalui pantauan Solopos.com di laman Instagram  @ini_blora, Rabu (23/6/2021),  terdapat unggahan berupa video Sego Krayahan yang terdiri nasi dan tiga lauk utama yang dikenal dengan sebutan BTS, yaitu bothok atau olahan daging buah kelapa yang diserut dan dicampur dengan bumbu cabai yang pedas, kemudian telur dan sambel tahu.

Hidangan ini biasanya dibungkus dengan daun dari pohon jati untuk nantinya diberikan kepada tamu di acara sedekah bumi untuk dibawa pulang. Tradisi krayahan ini serupa dengan tradisi sedekah bumi yang merupakan ritual ucapan syukur atas berkah hasil bumi yang diterima. Biasanya acara krayahan ini diadakan jika ada bayi yang baru lahir.

Tujuan dari tradisi ini adalah ungkapan ucapan syukur atas berkah keselamatan  yang diterima karena sang ibu sudah melahirkan bayi dengan selamat. Selain sebagai bentuk syukur, krayahan juga diadakan sebagai bentuk doa supaya bayi yang baru lahir diberi kesehatan dan kelak menjadi anak yang baik.

Baca Juga : Beda dengan Solo, Gurihnya Serabi Khas Blora Kaya Rasa Kelapa

Keunikan dalam tradisi krayahan bayi ini adalah yang diundang semuanya perempuan. Hal ini dikarenakan perempuan dianggap lebih memahami proses  persalinan, selain itu juga sebagai bentuk memberikan dukungan mental kepada ibu yang baru saja melahirkan.

Selain lauk BTS, Sego Krayahan juga dilengkapi dengan lauk-lauk dan makanan pendamping khas pedesaan lainnya, seperti ayam, peyek, tempe,  tahu, ikan teri, embel embel  (olahan tepung jagung dan ketan yang dibungkus daun pisang), serta negosari atau kue pisang sebagai hidangan penutup.

Tradisi krayahan rupaya tidak hanya syukuran ibu yang baru saja melahirkan, namun tradisi krayahan yang memiliki dasar yang sama dengan tradisi sedekah bumi juga diadakan oleh keluarga yang memiliki hewan ternak yang beranak.

Baca Juga : Gedung SMPN 5 Blora Berawal dari Institoet Boedi Oetomo

Seperti yang dilakukan oleh salah satu warga Kabupaten Blora yang tinggal di Dukuh Triteh, Kecamatan Tunjungan, bernama Sarmin. Dirinya menggelar krayahan sapi yang diakuinya merupakan tradisi turun temurun.

Krayahan sapi ini diadakan dengan cara hampir sama dengan acara krayahan bayi, yaitu mengadakan doa bersama ucapan syukur karena sapinya beranak. Di akhir acara, Sego Krayahan yang merupakan hidangan autentik acara krayahan ini dibagikan kepada para tamu yang datang untuk dibawa pulang.

Sego Krayahan ini dianggap sebagai berkah yang harus dibagikan kepada sesama sehingga berkah yang diterima tidak hanya dinikmati diri sendiri saja namun auranya bisa dibagikan ke orang lain. Melalui acara krayahan sapi ini, Sarmin juga  berharap jika hewan ternaknya bisa sehat dan terus berkembang biak dan bisa menjadi sarana Yang Maha Kuasa untuk memberi berkah kepada dirinya dan keluarga.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago