top ear
Salah satu karyawan Supriadi, perajin bata di Dusun Karakan, Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri, saat mencetak bata ekspos di area pembuatan bata miliknya, Dusun Karakan, Sabtu (21/11). (Solopos.com/M Aris Munandar)
  • SOLOPOS.COM
    Salah satu karyawan Supriadi, perajin bata di Dusun Karakan, Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo, Wonogiri, saat mencetak bata ekspos di area pembuatan bata miliknya, Dusun Karakan, Sabtu (21/11). (Solopos.com/M Aris Munandar)

Satu-Satunya Pengrajin Bata Ekspos dan Tempel di Wonogiri Ada di Kecamatan Tirtomoyo

Supriadi menjadi satu-satunya pengrajin bata ekspos di Wonogiri.
Diterbitkan Sabtu, 21/11/2020 - 17:30 WIB
oleh Solopos.com/Aris Munandar
3 menit baca

Solopos.com,WONOGIRI -- Dusun Karakan, Desa Dlepih, Kecamatan Tirtomoyo merupakan salah satu sentra industri batu bata pres di Kabupaten Wonogiri. Meski demikian, hanya ada satu pengrajin yang membuat batu bata ekspos dan bata tempel. Bahkan jadi satu-satunya di Wonogiri.

Saat Solopos.com mengunjungi Dusun Karakan, Sabtu (21/11/2020), hampir di setiap tepi jalan kampung jadi tempat menjemur batu bata. Maklum saja, sebagian besar warga dusun itu bekerja sebagai pengrajin batu bata.

Menariknya, di kampung sentra batu bata itu ada satu pengrajin yang membuat bata ekspos dan bata tempel. Selebihnya, hanya membuat bata pres biasa.

Selain Kompas TV, Ini Saluran Untuk Nonton Debat Publik Pilkada Wonogiri

Bata ekspos merupakan bata penyusun dinding yang dibiarkan polos tanpa plester dan aci. Sedangkan bata tempel merupakan bata berukuran tipis yang cara menggunakannya dengan menempelkannya pada dinding yang sudah jadi. Kedua jenis bata itu sering dijadikan sebagai hiasan dinding.

Adala Supriadi si pengrajin bata ekspos dan tempel tersebut. Ia sudah sembilan tahun membuat batu bata, namun baru tiga tahun terakhir memfokuskan diri membuat bata ekspos dan bata tempel.

Dari pengalamannya sebagai tukang bangunan yang bekerja di kota-kota besar, ia mempunyai ide membuat bata ekspos dan tempel. Kini, pangsa pasarnya sudah ke luar aerah seperti Semarang, Karanganyar, hingga Jakarta.

Polres Wonogiri Raih Penghargaan, Bikin Rekor Fitur Terbanyak di Aplikasi Pelayanan Publik

Supriadi mengatakan selain untuk menghias rumah, kebanyakan bata ekspos dan tempelnya digunakan untuk membuat gapura, pagar, dan dinding cafe. "Tempat wisata pesona Bali Kitagawa di Kecamatan Sidoharjo, Wonogiri, itu mengambil bata ekspos dari sini. Saat itu membeli 28.000 bata," kata dia saat berbincang dengan Solopos.com di lokasi kerjanya di Dusun Karakan.

Harus Presisi

Bahan dasar bata ekspos dan tempel sama seperti bahan untuk membuat bata biasa. Yakni tanah yang terdiri atas tiga jenis; tanah merah, tanah hitam dan tanah padas. Ketiga jenis tanah itu dicampur sesuai dengan porsi yang sudah ditentukan.

Bedanya, pembuatan bata ekspos dan tempel lebih rumit dan harus ekstra hati-hati. Bentuk bata harus lurus dan halus, tidak boleh bengkok. Di setiap siku bata harus utuh dan sama rata, tidak boleh ada gempil sedikit pun.

Menang Hadiah Mobil dari BRI, Pedagang Nasgor Tak Bisa Tidur

Untuk memperhalus setiap permukaan bata, kata dia, diberi minyak sawit saat proses pencetakan bata. Kehalusan bisa dibuat berdasarkan pemberian minyak sawit dan cara memukul bata saat di cetak. Semakin lama bata dipukul saat dicetak, maka semakin halus.

"Kalau bata biasa gempil sedikit tidak apa-apa. Tapi kalau bata ekspos dan tempel, gempil sedikit kami perbaiki. Jika tidak bisa diperbaiki, bata tidak bisa dijual. Maka kami harus benar-benar teliti. Setiap sudut bata harus sempurna," ungkap dia.

Ia mengatakan, pembuatan diawali dengan menggiling tanah sebanyak dua kali. Alat untuk menggiling yakni molen khusus tanah. Kemudian, tanah dicetak sesuai ukuran. Selanjutnya proses pengeringan. Butuh waktu hingga tujuh hari untuk pengeringan saat musim hujan. Namun hanya butuh tiga hari saat musim panas.

Asyik! Pemkab Wonogiri Berencana Izinkan Tempat Wisata Dibuka

Untuk bata ekspos berukuran 20 cm x 10 cm dengan tebal 5 cm harganya Rp1.000/biji. Ukuran di bawahnya dihargai Rp600/biji. Sedangkan bata tempel berukuran 6 cm x 24 cm, dengan tebal 2 cm harganya Rp1.000/biji. Sedangkan untuk bata biasa harganya Rp500/biji.

"Memang mahal yang tempel. Meski lebih kecil dan tipis, tapi membuatnya lebih sulit dibanding bata ekspos," ujar dia.

Tidak terdampak pandemi

Selama pandemi Covid-19, kata dia, produksi bata ekpos dan bata tempel tidak menurun. Karena permintaan konsumen masih tetap ada. "Yang paling banyak pesanan itu dari Kemuning, Karanganyar dan Semarang. Bata ekspos untuk gapura di daerah Kemuning itu sebagian diambil dari sini," ungkap dia.

Supriadi mengaku bisa memproduksi 1.000 bata ekspos per hari. Pembakaran bata dimulai sejak pagi dan baru selesai pada malam hari, sekitar pukul 19.00 WIB. "Kalau membuatnya itu mudah, tidak lama. Yang lama itu proses pengeringannya. Saat dijemur tidak bisa di balik. Karena bisa bengkok, tidak bisa lurus. Kalau ada yang bengkok pasti kami perbaiki. Karena kalau tidak begitu konsumen tidak mau," kata dia.

Setiap satu rit tanah, kata dia, bisa digunakan untuk membuat 2.800-3.000 bata. "Satu rit tanah harganya Rp200.000," kata Supriadi.


Editor : Profile Kaled Hasby Ashshidiqy
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini