top ear
Maria Y. Benyamin (Istimewa/Dokumen pribadi)
  • SOLOPOS.COM
    Maria Y. Benyamin (Istimewa/Dokumen pribadi)

Sarinah Dulu, Kini, dan Nanti...

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (15/5/2020). Esai ini karya Maria Y. Benyamin, wartawan Bisnis Indonesia (Grup Jaringan Informasi Bisnis Indonesia atau JIBI)
Diterbitkan Senin, 18/05/2020 - 21:30 WIB
oleh Solopos.com/Maria Y. Benyamin
6 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Sarinah bukan sekadar nama. Dia ”mbok” alias pengasuh Soekarno kecil. Soekarno banyak belajar dari Sarinah bagaimana mencintai ”orang kecil”. Sarinah sendiri adalah ”orang kecil”.

Belakangan Sarinah kembali ramai dibicarakan. Konteksnya tak langsung soal Sarinah ”mbok” Soekarno. Ini tentang Sarinah, pusat perbelanjaan, persis di sebuah perempatan yang mengingatkan kita pada Serangan Jakarta 2016. Sarinah memang lagi ”naik daun”. Viral di media sosial karena hengkangnya gerai Mc Donald’s (McD)—restoran cepat saji asal Amerika Serikat—dari pusat perbelanjaan itu.

Satu sejarah lain. Gerai perdana McD di Indonesia itu ditutup permanen sejak Minggu (10/5) pukul 22.05 WIB. Sejak McD mengumumkan rencana penutupan gerai secara permanen, warganet langsung bereaksi. Banjir komentar terjadi di dunia maya. Sampai-sampai ada yang ”menyerang” Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir yang tentu saja paling tahu sebab hengkangnya McD.

”Sepertinya Pak Erick Thohir gak pernah merasakan masa muda di McD...” begitu curahan isi hati salah seorang warganet.

Bagi masyarakat Jakarta, ada begitu banyak kenangan akan gerai perdana McD di Indonesia itu. Banyak yang merasa kehilangan. Tak mengherankan, acara penutupan gerai tepat pada pukul 22.05 WIB itu penuh nuansa dramatis. Juga menguras emosi. Hengkangnya McD dari jantung kota Jakarta seperti sebuah kehilangan besar, hingga mereka pun abai pada pandemi Covid-19 yang masih mencari mangsa.

Terlepas dari ”kisah sedih McD pada hari Minggu” itu, mari merunut ke belakang, 58 tahun lalu. Sarinah sejatinya adalah pusat perbelanjaan pertama dan jelas paling tua di Jakarta. Berdiri pada 1962. Mal itu baru beroperasi pada 1966 atau empat tahun kemudian. Pusat perbelanjaan tersebut berada di bawah operasional BUMN PT Department Store Indonesia yang kemudian resmi berganti nama menjadi PT Sarinah (Persero) pada 1979.

Soekarno yang menggagas ide pembentukan BUMN yang ditujukan sebagai wadah kegiatan perdagangan produk dalam negeri sekaligus mendorong perekonomian nasional kala itu. Bukan tanpa alasan Soekarno menyematkan nama Sarinah pada pusat perbelanjaan itu. Di mata Soekarno, Sarinah bukan perempuan biasa. Dia punya tempat yang istimewa di hati Soekarno, sejak masa kanak-kanak.

Kira-kira 15 tahun sebelum Sarinah dipakai sebagai nama gedung, Sarinah bahkan telah menjadi judul salah satu buku Soekarno yang ditulis pada November 1947: Sarinah, Kewajiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia. Hubungan keduanya yang begitu istimewa terungkap lewat lembar pertama buku yang secara khusus dipersembahkan Soekarno sebagai tanda terima kasihnya kepada Sarinah.

”Pengasuh saya itu bernama Sarinah. Ia ’mbok’ saya. Ia membantu ibu saya, dan dari dia saya menerima banyak rasa cinta dan rasa kasih. Dari dia saya mendapat banyak pelajaran mencintai orang kecil. Dia sendiripun ’orang kecil’. Tetapi, budinya selalu besar!” Bisa jadi, dalam mimpi besar Soekarno kala itu, Sarinah yang ada di Jl. M.H. Thamrin tersebut bakal menjadi ikon ‘orang kecil’ di jantung Ibu Kota.

***

Pada zamannya, gedung Sarinah terbilang mewah, apalagi lokasinya strategis. Persis di tengah kota. Tak mengherankan Sarinah kemudian dikenal sebagai sebuah kawasan, bukan hanya merujuk ke suatu gedung. Sejak didirikan hingga kini, Sarinah telah melewati lima dekade penting yang juga menandai sepak terjang sebagai BUMN di Indonesia.

Pada tiga dekade awal, Sarinah memang ditujukan untuk mempromosikan produk kerajinan lokal yang diproduksi UKM. Sarinah ”mbok” Soekarno memang memiliki bakat menyulam. Seiring dengan berjalannya waktu, pada era 1990-an, renovasi gedung Sarinah dilakukan untuk menarik tenant baru. Ini sejalan dengan reputasi yang ingin dibangun pada masa itu, yakni sebagai pusat perbelanjaan terkemuka.

Pada periode inilah, gerai McD mulai masuk. Tepat pada 1991, restoran cepat saji berkonsep waralaba itu hadir di bawah bendera PT Bina Nusa Rama milik Bambang Rachmadi yang kemudian berganti kepemilikan ke tangan PT Rekso Nasional Food, anak usaha Rekso Group, pada 2009. Ruang gerak bisnis Sarinah tak hanya di sektor ritel. Belakangan Sarinah menggeluti bisnis lainnya, seperti perdagangan, ekspor dan impor, properti, perhotelan, valuta asing, hingga makanan dan minuman.

Bisnis Sarinah memang moncer. Hal ini terlihat dari pendapatan yang terus meningkat setiap tahun. Dalam catatan Bisnis Indonesia, pendapatan Sarinah pada 2018 menyentuh Rp724 miliar, ditopang oleh sejumlah bisnis yang dilakoni. Pada 2019, pendapatannya diprediksi mencapai Rp892 miliar. Moncernya pendapatan Sarinah seperti menjadi tanda tanya besar jika melihat kondisi fisik gedung Sarinah yang dihuni 34 tenant, termasuk McDonald’s.

Saya tak ingin menceritakan lebih jauh. Anda mungkin punya pendapat lain. Yang pasti, Sarinah juga jadi korban disrupsi. Tertatih-tatih menghadapi gempuran marketplace dan online shop.  Ketika ”kisah sedih McDonald’s pada hari Minggu” disandingkan dengan rencana transformasi bisnis Sarinah, banyak pihak yang akhirnya mafhum.

***

Setelah 34 tenant angkat kaki, langkah selanjutnya adalah merenovasi gedung. Renovasi gedung bakal dimulai Juni, bulan depan; ditargetkan selesai Mei 2021. Dalam rencana perusahaan, Sarinah akan bertransformasi menjadi etalase atau ruang pamer produk UMKM dalam negeri. Sarinah tidak hanya mengubah wajah fisik saja menjadi lebih cantik. Revitalisasi dan pembenahan manajemen juga akan dilakukan. Di satu sisi, transformasi yang dilakukan Sarinah ini boleh dibilang sangat tepat.

Persaingan bisnis ritel kini semakin sengit. Tengok saja sejumlah pusat perbelanjaan yang seperti hidup enggan mati tak mau karena dilibas pemain bisnis ritel online. Dalam kondisi ini, Sarinah tentu tak mau menjadi salah satu dari pemain kebanyakan. Tak ada pembeda. Oleh karena itu, keputusan berfokus pada produk UMKM menjadi jauh lebih tepat. Ini seperti mengembalikan wajah Sarinah yang lama. Kembali ke khitahnya. Hanya saja, Sarinah juga harus siap bermain di platform online, model bisnis paling relevan saat ini.

”Konsep ritel Sarinah ke depan lebih friendly kepada Indonesia. Ada keberpihakan pada merek lokal dan hasil UKM yang dikuratorkan,” ujar Erick Thohir.

”Kami ingin Sarinah ke depan menjadi suatu ekosistem bisnis UKM Indonesia dan produk lokal,” kata Direktur Utama Sarinah Gusti Ngurah Putu Sugiarta Yasa

Rencana transformasi ini tentu bukan sesuatu yang mustahil. Sarinah pernah ada di ceruk bisnis ini, kendati kondisi dulu jauh berbeda dibandingkan dengan saat ini. Jadi, transformasi Sarinah untuk kembali kepada ”orang kecil” sama halnya mengembalikan Sarinah pada pemilik utamanya. Di sisi lain, tidak mudah memang menempuh langkah transformasi di tengah pandemi Covid-19. Pandemi ini telah ikut meluluhlantakkan ekonomi nasional. Daya beli pun ikut terkikis.

Namun, menilik sejarah masa lalu, bisa jadi pandemi Covid-19 tersebut adalah momentum tepat bagi ”kelahiran kembali” Sarinah. Puluhan tahun silam, Sarinah lahir di tengah kondisi ekonomi yang juga tidak begitu baik. Pada periode 1960-1965, perekonomian Indonesia juga berhadapan dengan problem yang berat. Bedanya, kondisi ekonomi saat itu bukan karena pandemi seperti saat ini.  PDB kala itu rendah. Laju inflasi tinggi hingga di atas 600%. Investasi juga merosot. Ini mirip dengan kondisi saat ini.

Maka, kemunculan Sarinah pada saat itu menjadi angin segar. Produk lokal seperti diberi tempat yang istimewa di tengah merosotnya daya beli. Hari ini, kondisi tersebut kembali terjadi. PDB kuartal I/2020 menyentuh level terendah sejak 2001. Investasi periode yang sama masih tumbuh, tetapi dalam ancaman besar, entah sampai kapan. Dalam ”krisis” kali ini, begitu banyak UKM yang gigit jari. Pandemi Covid-19 membuat mereka harus kehilangan omzet besar.

Oleh karena itu, kelahiran kembali Sarinah pada Mei tahun depan bisa jadi akan memberi angin segar pada produk lokal Indonesia, utamanya produk UKM yang saat ini meringis. Pada saatnya, ketika Covid-19 hengkang dari Indonesia, maka pada saat itu pula produk UKM siap kembali ke rumahnya. Sarinah akan tersenyum kembali di jantung Kota Jakarta.

 

Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja


berita terkait