Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Sapi Suspek PMK di Karanganyar Dijual Murah, Begini Komentar DPRD

Sejumlah peternak di Karanganyar, Jawa Tengah rela menjual murah ternak sapi lantaran khawatir mati di kandang gara-gara sakit.
SHARE
Sapi Suspek PMK di Karanganyar Dijual Murah, Begini Komentar DPRD
SOLOPOS.COM - Ilustrasi pemeriksaan penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak. (Dok. Solopos.com/Antara)

Solopos.com, KARANGANYAR — Sejumlah peternak di Karanganyar, Jawa Tengah rela menjual murah ternak sapi lantaran khawatir mati di kandang gara-gara sakit.

Sejumlah ternak sapi di Karanganyar dijual jauh di bawah harga pasaran. Fenomena jual murah inipun disayangkan kalangan DPRD Karanganyar. Fakta ini muncul saat penyakit mulut dan kuku atau PMK merebak.

PromosiBorong Penghargaan, Tokopedia Jadi Marketplace Favorit UMKM

Menurut Wakil Ketua DPRD Karanganyar, Anung Marwoko, menjual sapi terpapar penyakit mulut dan kuku (PMK) atau malah menyembelihnya bukanlah cara tepat. Pemilik ternak disarankan tetap tenang sambil melakukan pengobatan paling efisien.

“Saat ini terjadi kepanikan dari para peternak. Mereka rela jual murah sapinya,” tutur dia kepada Solopos.com, Minggu (26/6/2022).

Fenomena jual murah sapi sakit dan membawanya ke jagal hewan terjadi di masa pandemi PMK di sejumlah wilayah Karanganyar. Peternak yang tak paham terhadap penanganannya, memilih cara itu meski harus menjual sapi dengan harga murah.

Baca Juga : Karanganyar Akan Terima 2.000 Dosis Vaksin PMK, Sapi Ini Jadi Prioritas

Alasannya daripada menanggung rugi atau tekor lantaran sapi miliknya mati di kandang. Dia mencontohkan ada peternak di Mojogedang yang merugi jutaan rupiah. Peternak tersebut memiliki 11 ekor sapi suspek PMK.

Kondisi sapi sakit parah itu dibawa ke jagal untuk disembelih. Di sisi lain, sapi yang masih relatif bertahan dijual dengan harga murah. Harga sapi dewasa di pasaran Rp25 jutaan, namun peternak rela menjual Rp16 juta per ekor.

Racikan Herbal

“Ini sayang sekali. Padahal kalau peternak tenang dan punya cara menyembuhkan pasti sembuh kok sapinya,” kata Anung.

Anung sempat mendatangi sejumlah peternak Karanganyar untuk mencegah kepanikan massal. Beberapa peternak yang ingin mempertahankan sapinya, ujar dia, bisa menggunakan ramuan herbal. Bisa juga menyuntikkan antibiotik.

Baca Juga : Vaksinasi PMK Boyolali Dimulai Besok, Sapi Perah Jadi Prioritas

Dia mencontohkan kasus lain yang dialami peternak asal Desa Gentungan dan Gebyog, Kecamatan Mojogedang. Mereka berupaya menyembuhkan hewan ternak suspek PMK. Jika terdeksi bergejala, Anung menyarankan peternak langsung mengarantina ternak tersebut.

“Tiap pagi beri obat kumur larutan antiseptik. Masukkan ke lubang hidung. Rutin begitu terus. Sebab itu mengobati sariawan di dalam mulut. Asupan nutrisi dari pakan juga disendirikan. Jangan di tempat sama dengan ternak sehat untuk menghindari penularan,” jelasnya.

Langkah selanjutnya dengan memberikan antibiotik. Penyuntikan dapat dilakukan mandiri supaya hemat dana atau meminta bantuan dokter hewan. Sejumlah peternak memberikan obat-obatan herbal, seperti jahe, kunir, dan temu lawak. Racikan herbal tersebut dicampurkan dengan gula jawa.

Anggaran Rp150 Juta

“Gula jawa itu untuk memberi energi. Ramuan ini mirip untuk menyembuhkan flu. Yang sudah memberikan ramuan ini bertestimoni sapi sakit berangsur sembuh,” tutur dia.

Baca Juga : Catet Lur.. Penutupan Pasar Hewan di Sragen Diperpanjang Hingga 5 Juli

Dia mengakui bahwa penyembuhan sapi terpapar PMK membutuhkan waktu. Peternak harus menanti prosesnya. Di sisi lain, Anung mendorong Pemkab segera mengajukan anggaran mendahului penetapan APBD Perubahan guna membeli vaksin PMK dan antibiotik.

Dikonfirmasi secara terpisah Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Perikanan (Dispertan PP) Karanganyar, Siti Maesyaroch, menyebut ada 270 sapi suspek PMK di enam kecamatan.

Pemkab Karanganyar belum mencabut instruksi menutup pasar penjualan hewan ternak. Penutupan pasar hewan di Karanganyar diterapkan pada pekan lalu.

Saat ini, Karanganyar tengah menanti bantuan vaksin PMK dari Pemprov Jateng. Ia juga mengajukan anggaran Rp150 juta untuk pengadaan obat-obatan. “Jumlah yang diajukan Rp150 juta. Ini hanya stimulan untuk para mantri ternak di wilayah,” katanya.

Baca Juga : Sragen Dapat Jatah 3.800 Dosis Vaksin PMK, Kapan Disuntikkan?



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita
Part of Solopos.com
Punya akun? Silahkan login
Daftar sekarang...
Support - FaQ
Privacy Policy
Tentang Kami
Kontak Kami
Night Mode