Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Sambut HUT RI, Warga Krakitan Klaten Bikin Es Puter Merah Putih

Warijo, 62, berjualan es puter di Dukuh Bugel, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Minggu (14/8/2022) siang.
SHARE
Sambut HUT RI, Warga Krakitan Klaten Bikin Es Puter Merah Putih
SOLOPOS.COM - Warijo, 62, pedagang es puter asal Dukuh Bugel, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Minggu (14/8/2022). (Solopos.com/Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN — Gerobak jualan es puter terparkir di halaman rumah salah satu warga Dukuh Bugel, Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Minggu (14/8/2022) siang. Gerobak dengan penggerak sepeda kayuh itu langsung diserbu anak-anak hingga orang dewasa seusai mengikuti kirab 77 bendera Merah-Putih.

Warijo, 62, dengan senang hati melayani permintaan mereka yang ingin melepas gerah menikmati secangkir es puter atau yang kerap disebut dengan es tung-tung. Dengan cekatan, Warijo mewadahkan es puter sesuai permintaan mulai dari gelas plastik kecil, besar, serta mangkuk es krim berbahan tepung.

PromosiDaihatsu Rocky, Mobil Harga Rp200 Jutaan Jadi Cuma Rp99.000

Warijo merupakan salah satu warga Bugel yang masih eksis berjualan es puter. Dulu, banyak warga Dukuh Bugel yang merantau dan menjadi pedagang es puter di kota-kota besar terutama di Pulau Jawa.

Warijo termasuk salah satu warga yang menjadi pejuang nafkah untuk keluarganya dengan merantau menjadi pedagang es puter. Warijo merantau sejak 1978 hingga 2019. Dia berjualan es puter di Jakarta tepatnya di wilayah Kemayoran.

“Dulu awalnya diajak adik saya. Di sana saya diajari membuat es puter. Di sini dulu banyak perantauan-perantauan,” kata Warijo saat berbincang dengan Solopos.com, Minggu.

Baca Juga: Berhadiah Motor! Begini Keseruan Panjat Pinang di Rawa Jombor Klaten

Setelah menguasai cara membuat es puter, Warijo lantas mulai mandiri menjadi pedagang es keliling kampung di Ibu Kota. Sesekali dia pulang kampung untuk mengirimkan tabungan dari hasil jualan kepada keluarganya.

Seiring waktu, satu per satu warga yang semula merantau dan berjualan es krim memilih pensiun dan pulang kampung. Salah satunya lantaran faktor usia.

Warijo juga memilih pulang kampung pada 2019 lalu. Namun, Warijo tetap menjalankan usahanya berjualan es puter dari kampung ke kampung di wilayah Klaten selama hampir tiga tahun terakhir.

“Biasanya jualan sampai Wedi,” kata Warijo.

Baca Juga: Kisah Warga Bugel Klaten Lahirkan Sarjana-Bupati dari Jualan Es Puter

Warijo hingga kini masih mempertahankan proses pembuatan es puter secara tradisional. Proses produksi dilakukan Warijo di rumahnya mulai pukul 03.00 WIB hingga pukul 07.00 WIB.

Dia mulai mengolah berbagai bahan untuk membuat es puter dan mulai mengaduk adonan selama 2,5 jam. Seluruh bahan yang digunakan Warijo untuk mengolah es puter dari bahan alami.

Termasuk pewarna es, Warijo menggunakan buah-buahan. Seperti pewarna merah untuk mendapatkan kesan warna es puter merah-putih menyambut HUT Kemerdekaan RI, Warijo menggunakan buah stroberi.

Soal harga, Warijo biasa menjual satu gelas besar es puter Rp2.000 dan satu gelas kecil Rp1.000. Soal omzet, dari modal Rp200.000 untuk membuat es puter, Warijo biasanya bisa meraih omzet Rp350.000.

Baca Juga: Daerah Klaten Ini Dulu Basis Organisasi Terlarang, Kini Desa Pancasila

“Selama dua sampai tiga hari biasanya sudah habis,” kata Warijo.

Meski saat ini bermunculan es krim pabrikan, Warijo tetap bertahan berjualan es krim tradisional. Bagi Warijo, dari hasil berjualan es puter selama puluhan tahun mampu menghidupi keluarganya serta membiayai pendidikan ketiga anaknya.

“Anak saya tiga. Anak pertama sudah lulus SMK dan kini bekerja di salah satu pabrik di Bogor. Mereka dibesarkan, ya dari hasil jualan es puter,” kata Warijo.

Di sisi lain, Warijo setia menggunakan gerobak berwarna kuning dengan penggerak sepeda untuk berjualan sehari-hari sejak dia pulang kampung. Gerobak itu dilengkapi dengan kenong, alat gamelan yang biasa digunakan para pedagang es dung-dung memanggil para pembeli.

Baca Juga: Rayakan HUT RI! Pembajak Sawah Ikuti Balap Traktor di Kebonarum Klaten

Pada bagian samping gerobak dia tulisi ojo dumeh. Dia pun memiliki pesan dari tulisan itu. Dia mengajak agar orang yang melihat tak melupakan asal-usul mereka.

Menjadi pedagang es puter di perantauan dilakoni banyak warga Dukuh Bugel mulai era 1970-an. Hampir 60 persen warga merantau dan berjualan es puter.

“Warga yang kebanyakan tidak punya tanah untuk digarap, akhirnya mereka mencari pekerjaan dengan merantau. Hampir 60 persen warga itu merantau,” kata salah satu warga Dukuh Bugel, Asim Sulistyo.

Dari hasil jualan es puter itu, banyak warga yang mampu menyekolahkan anak mereka hingga ke jenjang perguruan tinggi.

Baca Juga: Sambut HUT RI! 77 Merah Putih Berkibar di Omah Bendera Krakitan Klaten

“Ada yang akhirnya jadi pegawai bank serta dosen ya dari jualan es tung-tung ini. Pakde saya itu dulunya jualan [es puter] di Jakarta dan anaknya menjadi pegawai semua,” jelas Asim.

Asim menjelaskan tren merantau menjadi pedagang es krim itu belakangan mulai memudar. Salah satunya lantaran faktor usia. Hanya segelintir warga yang masih eksis berjualan es puter termasuk Warijo.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode