Saling Menguatkan, Saling Memulihkan

Esai ini telah diterbitkan di Koran Solopos edisi 20 April 2022, ditulis oleh Rini Yustiningsih, Pemimpin Redaksi Solopos.
SHARE
Saling Menguatkan, Saling Memulihkan
SOLOPOS.COM - Rini Yustiningsih (Istimewa/Dokumen pribadi)

Solopos.com, SOLO — Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 WIB, berkali-kali Leni geleng-geleng kepala saat tangannya memencet tombol Delete di tuts keyboard komputer. Berkali-kali rupanya dia salah menginput kode barang di komputer saat dilakukan penghitungan.

“Maaf ya, salah terus ini. Maklum sudah capai, lelah, dari tadi berdiri terus,” ujar Leli yang merupakan kasir di toko sembako kepada saya awal pekan ini.

PromosiTop! Bos Tokopedia Masuk List Most Extraordinary Women Business Leader

Sejak akhir pekan lalu, tempatnya bekerja sudah ramai oleh pembeli. Selama delapan jam kerjanya, nyaris dia lebih banyak berdiri untuk menghitung belanjaan pembeli. Ini berbeda dengan situasi hari-hari sebelumnya.

Masih dua belas hari lagi menuju Hari Raya Idulfitri 1443 Hijriah, namun hiruk pikuk Lebaran sudah terasa. Pusat-pusat belanja busana mulai dijejali warga. Toko-toko sembako dan aneka parsel juga. Terminal bus menunjukkan tren peningkatan penumpang, kursi kereta api (KA) untuk berbagai rute rata-rata hanya menyisakan belasan seat, pun halnya dengan pembelian tiket penerbangan makin bergerak naik. Gairah masyarakat menyambut Lebaran, menggelora.

Suasana Lebaran tahun ini pasti sangat berbeda. Dua tahun sudah selama masa pandemi, pemerintah melarang mudik saat Lebaran. Alasannya, karena kasus Covid-19 masih tinggi. Boleh dibilang sudah dua tahun, masyarakat ngempet mudik, pulang kampung bertemu dengan orang tua, sanak keluarga, kerabat handai taulan.

Kampanye tunda mudik yang digaungkan pemerintah dua tahun ini, cukup efektif menekan laju mobilisasi warga. Masih ingat dalam benak kita, Youtuber almarhumah Mbah Minto, lewat dagelan Jawanya ikutan kampanye lewat lakon #GagalMudik. Sosok simbok, mbah, nenek, dalam drama pendek itu mampu mengemas kesedihan tidak atau batal mudik menjadi ruang komedi yang bikin kita tertawa. Alhasil gagal mudik—waktu itu bukanlah sebagai sesuatu yang diratapi penuh dengan kesedihan, melainkan sebagai ikhtiar untuk saling menyelamatkan.

Kampanye dan gerakan tunda mudik yang diinisiasi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, dan diresonansi media, influencer, hingga semua lapisan masyarakat, sukses besar. Meski pun masih ada juga warga yang curi-curi kesempatan bisa mudik di tengah larangan. Masyarakat Transportasi Indonesia memperkirakan pemudik di masa pandemi 2020 sebanyak 1,3 juta orang, sementara Kementerian Perhubungan mencatat sekitar 900.000 pemudik saat Lebaran waktu itu.

Kerinduan

Lebaran tahun ini, ada kebahagiaan membuncah. Kerinduan panjang tak bersua bakal terobati. Mereka yang ada di perantauan dari pelosok negeri akan memanfaatkan dibolehkannya mudik, sebagai momentum untuk melepas kerinduan dan silaturahmi. Jutaan warga diperkirakan akan pulang kampung.

pemudik motor
Pemudik bersepeda motor terjebak kemacetan saat pengalihan arus lalu lintas di Jalan Ahmad Yani, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (28/4/2022). (Antara/Fakhri Hermansyah)

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) memperkirakan jumlah pemudik Lebaran tahun ini naik sekitar 40% dibanding sebelum pandemi 2019 yang mencapai 33,4 juta orang. Tahun 2022 ini diperkirakan sekitar 85,5 juta warga akan melakukan perjalanan mudik Lebaran, dengan puncak arus mudik pada 29-30 April 2022. Ini didukung dengan kebijakan cuti bersama untuk pegawai negeri sipil (PNS) pada 29 April dan 4-6 Mei 2022.

Sekitar 31% penduduk Indonesia akan melakukan mobilitas. Ini tentu pergerakan warga yang luar biasa yang mempunyai multiplier effect, dampak berantai yang dahsyat terutama dari sisi ekonomi. Karena bagaimana pun juga mobilitas warga merupakan salah satu syarat ekonomi bergerak, tumbuh dan berdampak ke sektor lainnya. Dibolehkannya mudik, menjadi upaya saling menguatkan dari sisi gerakan ekonomi dan saling memulihkan setelah dua tahun terpuruk karena pandemi.

Pemerintah telah mengeluarkan syarat melakukan perjalanan selama masa Lebaran. Vaksin booster bagi pelaku perjalanan, maupun tes antigen/PCR bagi warga berusia di atas 18 tahun yang belum divaksin dosis ketiga. Aturan ini sebagai pengaman, antisipasi penyebaran Covid-19 yang dalam beberapa bulan terakhir ini menunjukkan tren menurun.

Hasil survei serologi antibodi penduduk Indonesia terhadap Covid-19 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri dan Tim Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia, menjadi kabar cukup menyejukkan. Kadar antibodi masyarakat Indonesia terhadap Covid-19 naik menjadi 99,2%, sebelumnya 86,6% pada November-Desember 2021. Kekebalan ini baik berasal dari vaksinasi maupun antibodi infeksi virus.

Tentu saja hasil survei ini tak menjadikan kita lossdol, tidak menjaga protokol kesehatan. Sebagai antisipasi dan menjaga budaya hidup sehat, meski pada akhirnya nanti Indonesia akan memasuki endemi, alangkah lebih baik jika protokol kesehatan juga menjadi bagian dari gaya hidup. Demikian halnya saat Lebaran, memakai masker, mencuci tangan masih perlu dilakukan demi kesehatan.

Semoga kewaspadaan dengan menerapkan protokol kesehatan ini tak mengurangi substansi mudik dan berlebaran. Karena pada hakikatnya mudik Lebaran adalah puncak mengobati kerinduan, dan juga upaya saling menguatkan dan memulihkan.

Esai ini telah diterbitkan di Koran Solopos edisi 20 April 2022, ditulis oleh Rini Yustiningsih, Pemimpin Redaksi Solopos.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago