Salatiga Kota Tertua di Pulau Jawa, Begini Sejarahnya

Prasasti Plumpungan dijadikan dasar informasi terkait hari lahir Kota Salatiga, di mana dalam prasati tersebut tercantum bahwa Kota Salatiga berdiri pada 750 Masehi.
SHARE
Salatiga Kota Tertua di Pulau Jawa, Begini Sejarahnya
SOLOPOS.COM - Taman Tingkir Kota Salatiga. (Wikipedia)

Solopos.com, SALATIGA — Kota Salatiga yang diapit dua kota besar, yaitu Semarang dan Solo, memiliki banyak keunikan. Tahukah Anda jika Salatiga merupakan kota tertua di Pulau Jawa dan salah satu yang paling tua di Indonesia?

Dilansir dari Salatiga.go.id, Minggu (22/5/2022), ada beberapa sumber yang dijadikan dasar yang menyatakan bahwa Salatiga adalah salah satu kota tertua di Indonesia. Dari beberapa sumber tersebut, Prasasti Plumpungan dijadikan dasar informasi terkait hari lahir Kota Salatiga. Dalam prasati itu tercantum bahwa Kota Salatiga berdiri pada 750 Masehi.

PromosiHari Keluarga Nasional: Kudu Tepat, Ortu Jangan Pelit Gadget ke Anak!

Prasasti dengan ukuran panjang 170 cm, lebar 160 cm dan garis lingkar 5 meter ini berada di Dukuh Plumpungan, Kelurahan Kauman Kidul, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga, Jawa Tengah. Sejarahwan yang sekaligus Epigraf, Dr.J.G.de Casparis mengalihkan tulisan tersebut secara lengkap dan kemudian disempurnakan oleh Prof. Dr.R. Ng Poebatjaraka.

Surat untuk Bunda Selvi Gibran

Kawasan Perdikan

Prasati tersebut berisi ketetapan hukum tentang status tanah perdikan atau swantantra bagi suatu daerah yang ketika itu bernama Hampra, yang kini bernama Salatiga. Pemberian perdikan tersebut merupakan hal yang istimewa pada masa itu oleh seorang raja karena tidak semua daerah dijadikan perdikan.

Perdikan adalah suatu daerah dalam kerajaan tertentu yang dibebaskan dari segala kewajiban, seperti membayar pajak atau upeti karena memiliki kekhusuan tertentu. Dasar pemberian perdikan itu diberikan kepada kepala daerah atau kepala desa yang benar-benar berjasa kepada seorang raja.

Prasasti ini diperkirakan dibuat pada hari Jumat, 24 Juli 750 Masehi dan ditulis oleh Citraleka yang sekarang dikenal dengan sebutan penulis atau pujangga, dengan dibantu pendeta atau resi dan ditulis dalam Bahasa Jawa kuno yang berbunyi “Srir Astu Swasti Prajabyah” yang berarti “Semoga bahagia, selamatlah rakyat kalian.”

Baca Juga: Tahukah Kamu? Ini Alasan Lasem di Rembang Disebut Little Tiongkok

Kota Tertua di Pulau Jawa 

Sejarawan memperkirakan masyarakat Hampra telah berjasa kepada Raja Bhanu yang merupakan raja besar dan sangat memperhatikan rakyatnya dan memiliki daerah kekuasaan, meliputi Salatiga, Ambarawa, dan Kabupaten Boyolali.

Penetapan dalam prasasti tersebut merupakan titik tolak berdirinya daerah Hampra secara resmi sebagai daerah Perdikan. Atas dasar prasasti itulah, ditetapkan berdasarkan Perda No 15 tahun 1995 bahwa hari jadi Kota Salatiga diperingati setiap 24 Juli.

Berdasarkan penelusuran Solopos.com, Salatiga menepati urutan kedua dari 10 kota tertua di Indonesia. Posisi pertama adalah Palembang, kemudian posisi ketiga ada pada Kediri, kemudian Magelang, Banda Aceh, Surabaya, Baubau, Ambon, Tegal dan Padang. Dengan melihat posisi tersebut, Salatiga secara otomatis menjadi kota tertua di Pulau Jawa.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago