Saat Informasi Makin Murah, Apakah Hidup Kita juga Makin Mudah?

Era digital menjadikan informasi/berita menjadi kian murah dan kian mudah diakses. Menjadi paradoks karena banyak orang yang kesulitan memilah informasi yang baik dan buruk sementara konten berkualitas tidak banyak yang mengakses karena kultur yang tak mendukung.
Saat Informasi Makin Murah, Apakah Hidup Kita juga Makin Mudah?
SOLOPOS.COM - Infografis Paradoks Era Digital (Solopos/Whisnupaksa)

Solopos.com, SOLO—Arif Apebriyanto adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Buruh bangunan yang tinggal di perbatasan Karanganyar-Solo, sebuah daerah satelit di Jawa Tengah ini, baru berusia 18 tahun saat ini.

Ibunya adalah seorang asisten rumah tangga yang juga membuka usaha laundry di rumahnya. Dari empat bersaudara, Arif berhasil menempuh jenjang pendidikan paling tinggi. Dia adalah lulusan SMP. Kakak sulungnya hanyalah tamatan SD, sementara kakaknya yang nomor dua sama saja. Beruntung si bungsu masih setia bersekolah hingga saat ini. Adik Arif yang bernama Ariel sekarang duduk di kelas VIII.

Arif mengakui tak mudah hidup dengan penghasilan minim, Rp480.000 per pekan, itu pun jika tenaganya selalu dibutuhkan. Dalam satu hari, tenaga yang dia pakai mulai dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB hanya dihargai maksimal Rp80.000. Jadi, dalam satu bulan, tak sampai Rp2 juta yang berhasil Arif kantongi.

Arif tahu dia tak bisa menjadi buruh bangunan selamanya. Dia mengaku ingin punya kehidupan yang lebih baik, seperti berita-berita yang dia baca lewat Facebook. Arif mengaku senang membaca berita-berita tentang orang yang sukses, pengusaha terutama, seperti yang ia cita-citakan selama ini.

Namun, definisi mengonsumsi berita, menurut pemahaman Arif, agak berbeda. Yang dia maksud dengan membaca adalah melihat judul sebuah teks tertulis yang muncul di beranda Facebook-nya. Menurut dia, judul itu cukup memberitahukan apa isi di dalamnya.

Arif mengaku tak pernah mengklik judul itu untuk mendapatkan berita yang utuh karena tindakan tersebut berkonsekuensi pada pengurangan kuota. “Kalau dari judul sudah tahu, ya untuk apa baca sampai habis? Aku tak pernah membaca sampai habis. Cukup judulnya,” kata dia, Sabtu (27/11/2021).

Ada banyak berita yang muncul yang di beranda FB-nya. Berita kriminal dan olahraga selain juga berita inspiratif yang berkaitan dengan para pengusaha sukses selalu menarik perhatian Arif. Tangannya seketika berhenti men-scroll untuk membaca sungguh-sungguh judul tersebut.

Setelah judulnya ia baca sampai habis, tangannya mulai bergerak lagi melihat status teman-temannya pada hari itu. Mengonsumsi FB, seperti juga melihat status Whatsapp teman-temannya, menjadi kegiatan yang menyenangkan bagi Arif setelah seharian bekerja.

Abstraksi Konsep

Tak ada bayangan di pikiran Arif tentang bagaimana meraih kesuksesan sehingga suatu saat dia akan menjadi pengusaha kaya raya seperti impiannya. Dia gagal bercerita mengenai bagaimana cara seseorang dengan pendidikan minim bisa menjadi pengusaha yang sukses kelak.

“Harus bekerja rajin supaya sukses,” begitu penuturannya berulang kali. Judul sukses pada setiap berita selalu Arif korelasikan dengan rajin bekerja tanpa diikuti abstraksi konsep mengenai cara-cara untuk meraihnya secara sistematis.

Berita tentang orang sukses memang banyak jumlahnya, dengan beragam konteks dan narasi pula. Namun, walau ada banyak berita tentang kisah sukses, Arif membuat kesimpulan sama. “Harus bekerja rajin.”

Sebuah pertanyaan muncul, saat informasi makin murah, apakah hidup kita juga makin mudah?

Dibandingkan dengan era ketika surat kabar belum mengalami senja kala, informasi memang kian mudah diakses pada saat ini. Munculnya media sosial, seperti Facebook dan Instagram yang dimediasi Internet, menyebabkan informasi maupun berita bukan lagi barang eksklusif.

Mengutip rilis dari Reuters Institute yang dipublikasikan di https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/digital-news-report/2021/indonesia, media online dan media sosial masih menjadi sumber berita paling populer di Indonesia, menggunakan sampel masyarakat urban. Mayoritas masyarakat urban mengakses berita di Internet melalui smartphone, yakni sebesar 85% dari sampel tersebut.

Hasil survei dari Reuters Institute itu juga menunjukkan ada ketergantungan yang linear antara pemanfaaatan media sosial untuk berbagai kebutuhan komunikasi serta kebutuhan khusus pencarian berita, contohnya. Menurut data itu, Whatsapp berada di urutan pertama (sebagai sarana komunikasi sekaligus mendapatkan informasi/berita), yang diikuti Youtube, Facebook, Instagram, Twitter, dan terakhir Telegram. Informasi kini bertebaran di mana-mana sehingga semua orang bisa mengaksesnya. Namun, apakah banjir informasi itu selalu menguntungkan masyarakat?

Sebuah artikel berjudul The Future Communication: from New Media to Post Media di Jurnal Procedia Social Behavioral Science menyinggung masalah ini. Paradoks adalah hal yang ditekankan Mark Deuze dalam tulisannya. Dia menulis bahwa ketergantungan manusia pada smartphone kian membesar dari waktu ke waktu sehingga benda tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kini semua hal dilakukan dengan bantuan smartphone, termasuk mengakses berita.

Kondisi Paradoks

Menjadi paradoks adalah di saat berita begitu banyak tersedia-berlimpah, banyak orang yang tidak selalu mampu membedakan antara berita/informasi yang baik dan yang buruk. Internet menyediakan saluran bagi kelompok yang berniat buruk, penyebar pesan buruk yang biasanya tidak dapat diterima secara sosial serta di media arus utama. Akibatnya, Internet dengan cepat menjadi metode komunikasi yang disukai untuk kelompok-kelompok ini.

Di sisi lain, menurut Mark Deuze, meski banyak hasil penelitian serta berita bagus yang tersedia di Internet, tak banyak orang yang mau atau mampu mengaksesnya.

Berpijak pada pemikiran Mark, mengutip data Napoleoncat.com, jumlah pengguna Facebook di Indonesia pada November 2021 sebanyak 188 juta atau setara 68% populasi di Tanah Air. Jumlah pengguna ini mengalami kenaikan signifikan dibandingkan bulan yang sama pada 2020 lalu, yakni sebesar 169,7 juta orang atau 61,3% dari total populasi. Lantas, bagaimana populasi sebesar ini mampu memanajemen hidup mereka dari gempuran informasi yang beragam, khususnya yang buruk? Apakah mereka selalu punya daya tahan yang bagus? Di sisi lain, apakah mereka juga punya kemauan dan kemampuan mengakses konten-konten yang berkualitas di Internet?

Menanggapi kondisi ini, pengajar budaya populer di Sekolah Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Susanto, mengatakan teknologi memang membawa paradoks pada masyarakat maju, memberi keuntungan bagi beberapa orang, namun merugikan bagi yang lain. Khusus untuk masyarakat Indonesia dengan tingkat literasi membaca yang rendah maupun disparitas tingkat pendidikan yang tinggi, persoalannya menjadi lebih kompleks.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai potret pendidikan masyarakat Indonesia pada 2020, 1 dari 1.000 siswa SD di Indonesia mengalami putus sekolah, 10 dari 1.000 siswa SMP berada di kondisi yang sama, sementara untuk kategori SMA komparasinya menjadi 11 banding 1.000 orang. Angka putus sekolah tertinggi terdapat pada kelompok usia 16-18 tahun di mana terdapat 22 anak putus sekolah dari 100 anak. Arif Apebriyanto berada di kelompok ini.

Santo, panggilan akrabnya, mengatakan Arif merupakan bagian dari persoalan kompleks yang dihadapi Indonesia. Hak-hak Arif mendapatkan pemberdayaan dari teknologi informasi yang berkembang tidak terpenuhi. Alih-alih mendapatkan keuntungan, yang Arif dapatkan justru kondisi eksploitatif.

“Teknologi menjadi bermanfaat bagi mereka yang mendapat dukungan kultur yang sesuai. Tanpa ada kultur yang mendukung, teknologi menjadi tidak berguna, bahkan merugikan. Pengalaman saya waktu ke Belanda sebagai contoh. Saat saya harus membawa laptop dengan [operating system/OS] Windows genuine, maka saya bertanya ke toko dekat kampus yang memberi saya penawaran beragam, dari Rp500.000 sampai Rp800.000. Tapi, pada akhirnya, saya tidak perlu membayar apa-apa karena tetangga saya yang ahli IT membantu saya mengakses OS itu secara free. Inilah yang saya maksud dengan kultur yang mendukung,” jelas Santo seraya menambahkan bahwa Arif tidak berada pada posisi kultur yang mendukung dirinya untuk mengakses informasi yang berguna, Kamis (2/12/2021). Pendidikan yang rendah menyebabkan Arif tidak punya kemampuan untuk itu.

Keberadaan Internet yang dicita-citakan mampu menghapus kesenjangan informasi di berbagai belahan dunia, menurut Santo, saat ini masih sebatas utopia. “Bagi banyak orang lahirnya Internet justru menjadi mereka semakin tereksploitasi, seperti saat zaman VOC dulu,” kata dia. Orang-orang meramaikan, menghidupkan, bahkan membuat banyak platform, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa dari aktivitas itu. Orang-orang ini justru mengalami kesulitan karena tidak punya kemampuan yang cukup untuk memilah banjir informasi yang menenggelamkan mereka.

Pekerja Digital Sukarela

Apa yang disampaikan Santo ini selaras dengan teori Mark Andrejevic mengenai munculnya digital free labor atau pekerja digital sukarela di era Internet, seperti yang dikutip Rulli Nasrullah di bukunya yang berjudul Media Sosial: Perspektif Komunikasi, Budaya, dan Sosioteknologi.

New media, seperti Facebook, Instagram, Youtube, atau Twitter, tidak akan bisa beroperasi tanda adanya orang-orang yang menjalankannya secara sukarela. Mereka inilah yang disebut Mark Andrejevic sebagai digital free labour. Para pekerja sukarela ini tidak hanya menggunakan satu jenis platform, melainkan beberapa karena kemudahan mengaksesnya.

Informasi yang datang dari berbagai arah disebarkan pula ke berbagai arah oleh mereka. Sebuah informasi dari media massa mainstream bisa disebar di beberapa platform sekaligus. Pekerja digital sukarela ini sangat aktif ‘bekerja’ tanpa menyadari bahwa mereka adalah objek eksploitasi.

“Eksploitasi ini menunjukkan tanda-tanda dehumanisasi. Bukan pemberdayaan yang masyarakat peroleh, namun justru eksploitasi dari kelompok-kelompok tertentu.”

Itu baru di media sosial. Tantangan lain juga dihadapi masyarakat pada era digital, khususnya yang berkaitan dengan perkembangan media massa. Sebuah artikel berjudul Clickbait di Media Online Indonesia di Jurnal Pekommas, membahasnya secara mendetail. Jurnal itu mengungkap bagaimana media online pada akhirnya mengadopsi gaya-gaya media sosial dengan memakai judul clickbait – menggunakan bahasa sensasional, menggoda, dan provokatif – untuk menarik minat baca masyarakat maya agar bisa eksis di tengah maraknya media sosial. Seorang responden, Didik Haryadi, yang dicantumkan dalam jurnal tersebut memberi pernyataan menarik.

“Kembalikan tiga menitku.” Kalimat itu Didik munculkan sebagai respons atas banyaknya judul click bait yang tidak sesuai dengan naskah yang masyarakat baca. Masyarakat kecewa karena harapan mereka untuk mendapatkan berita yang berkualitas untuk memenuhi keingintahuan mereka tidak terjadi. Yang mereka dapat, sebaliknya, berita yang dangkal, tidak bermutu, dan kadang tak bersumber.

“Masyarakat akhirnya terbiasa dengan konten yang instan, dangkal, dan berkualitas rendah. Jadi, sulit menuju masyarakat yang terliterasi. Yang untung hanya media online, sementara audiens justru terjebak pada monopoli media baru. Ya ini memang soal logika pasar dan industri, sementara audiens dikebiri,” kata Didik.

Jadi, kembali pada pertanyaan awal, saat informasi makin murah, apakah hidup kita juga makin mudah?

Infografis Paradoks Era Digital (Solopos/Whisnupaksa)

 

 

 


Berita Terkait
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago