Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Rumput Stadion Bagian Penting dari Sport Tourism

Tentu saja, rumput Zoysia japonica hasil pengembangan oleh dosen UNS ini sangat emosional di Manahan Solo karena merupakan arena tampil di kandang sendiri.
SHARE
Rumput Stadion Bagian Penting dari Sport Tourism
SOLOPOS.COM - Rahayu, Dosen Fakultas Pertanian UNS Solo

Keberadaan stadion dalam suatu kota sangat penting untuk mendukung bergairahnya wisata olahraga atau sering disebut sport tourism. Bicara sport tourism, aspek yang perlu ditingkatkan tidak hanya aspek perangkat keras seperti stadion, lapangan sepak bola, lapangan tenis, gedung olahraga. Namun juga tidak kalah pentingnya adalah aspek perangkat lunak, aspek sumber daya manusia dan aspek jejaring.

Aspek perangkat keras seperti Stadion Manahan adalah aspek utama dan menjadi salah satu penopang wisata olahraga. Stadion Manahan bisa dikatakan merupakan sebuah sistem. Yang mana sistem ini berjalan berdasarkan sokongan dari berbagai komponen fungsional yang saling terkait dan mendukung terhadap berjalannya sistem dari Stadion Manahan.

PromosiTokopedia Card Jadi Kartu Kredit Terbaik Versi The Asian Banker Awards 2022

Aspek perangkat lunak seperti peraturan daerah, kebijakan juga penting untuk mendukung sport tourism. Aspek lain adalah sumber daya manusia, meliputi intelektualistas, kekompakan para pihak, keramahan masyarakat. Selain itu aspek jejaring juga sangat mendukung perkembangan sport tourism seperti hubungan persahabatan klub, football traveler, dan persahabatan lain untuk pertandingan.

Rumput merupakan salah satu komponen penting dari sistem Stadion Manahan. Bagaimana pun megahnya stadion, yang dilihat dan dinilai pertama oleh penonton, baik penonton langsung maupun penonton live virtual maupun penonton virtual delay yakni netizen, adalah kondisi rumputnya, tepatnya adalah kondisi hamparan rumputnya.

Hamparan rumput dalam istilah internasional dinamakan sebagai turfgrass. Secara definisi turfgrass adalah tanaman yang bentuknya kurang lebih saling bersebelahan sebagai penutup tanah yang tahan dengan kondisi pemotongan pedek dan tahan lalu lintas injakan.

Turf atau hamparan adalah komunitas rumput hamparan yang saling terhubung dan menempel di permukaan tanah dengan akar dan organ bawah tanah lainnya di bawah permukaan. Penggunaan rumput dapat dibedakan menjadi kategori utilitarian atau fungsional, rekreasi dan hias.

Penggunaan utilitarian terutama untuk stabilisasi tanah melalui pengaruh mengikat dari sistem interkoneksi serat akar untuk mencegah erosi dari angin dan air. Utilitarian lainnya adalah di sepanjang tepi jalan, rumput-rumputan menyerap banyak emisi beracun dari kendaraan, dan di sepanjang landasan pacu bandara, rumput-rumputan mengurangi debu untuk memperpanjang umur mesin pesawat.

Baca Juga: Tuan Rumah Piala Dunia U-20 2023, Stadion Manahan Solo Dipuji FIFA

Penggunaan untuk rekreasi di antaranya adalah olahraga golf, sepak bola, bisbol, soccer, yang berfiungsi untuk keindahan sekaligus keamanan bagi pemain. Penggunaan rumput untuk hias di antaranya adalah halaman rumah, pemandangan di lokasi bisnis dan area area wisata.

Keberadaan stadion di berbagai kota di Indonesia akhir-akhir ini semakin menarin perhatian bagi semua pihak. Terkadang terjadi semacam beauty contest antara kota dan antara netizen di media sosial. Bahkan keberhasilan membangun stadion dianggap sebagai prestasi tersendiri bagi pemerintah, khususnya pejabat pada periode dibangunnya stadion tersebut.

Pertandingan Indonesia dengan Curacau misalnya, di mana tempat pertandingan dilamgsungkan adalah riuh rendah gemuruh pro kontra di media sosial, dan beradu argumen secara sengit tentang kelayakan dan standar, baik standar FIFA maupun PSSI.

Namun demikian kontes kecantikan stadion bagi netizen yang utama adalah rumputnya. Sudah lama stadion stadion di Indonesia memimpikan memiliki lapangan standar Eropa, dan sejak mulai Asian Games rumput-rumput stadion di Indonesia mulai tampil cantik. Tentu saja rumput yang baik adalah rumput yang berkualitas, baik kualitas secara visual mupun fungsional.

Untuk menghasilkan rumput yang berkualitas pada stadion dibutuhkan beberapa faktor. Intinya rumput berkualitas adalah rumput tampil cantik dan menarik sebagai ukuran kualitas visual dan rumput mendukung permainan sepak bola, baik keamanan pemain maupun kualitas dari permainan itu sendiri.

Faktor yang mendukung kualitas tersebut adalah pemilihan jenis rumput, konstruksi media di bawah rumput dan intensitas pemeliharaan dari rumput tersebut. Antara media tanam di bawah rumput, pemilihan jenis rumput dan juga pemeliharaan adalah tiga aspek yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain untuk menghasilkan rumpput yang berkualitas.

Salah satu dari tiga aspek tersebut tidak memenuhi standar maka harapan mendapatkan rumput yang berkualitas adalah isapan jempol belaka.

Rumput yang digunakan untuk stadion Manahan adalah rumput Zoysia japonica. Rumput ini adalah rumput asli Indonesia dan dikembangkan di bawah riset Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, sejak tahun 2013.

Baca Juga: Sejarah Nama Manahan hingga Dibangun Stadion Berstandar Internasional di Solo

Rumput Zoysia yang dikembangkan oleh UNS ini juga telah ditanam di Stadion I wayan Dipta Bali, dan juga Gelora Bung Tomo Surabaya, yang akan digunakan juga untuk Piala Dunia U20 tahun depan.

Tentu saja, rumput Zoysia japonica hasil pengembangan oleh dosen UNS ini sangat emosional di Manahan Solo karena merupakan arena tampil di kandang sendiri. Rumput Zoysia japonica asli ini tentunya akan menjadi kebanggaan tersendiri hingga sampai melayani pertandingan Piala Dunia U20.

Karakteristik rumput ini adalah sangat kuat untuk menahan injakan, resisten kekeringan sehingga agak resisten terhadap kondisi payau sehingga dapat ditanam di daerah pinggir pantai dengan kondisi kegaraman udara sampai batas tertentu.

Rumput ini memiliki perakaran yang sangat dalam dan kerapatan tajuk yang tinggi. Sebagai catatan, kerapatan hamparan rumput yang baik adalah diatas dua ratus tajuk tiap seratus sentimeter persegi.

Rumput yang kurang dari jumlah tajuk ini tidak akan menghasilkan hamparan rumput yang berkualitas, tidak akan dapat memberi perlindungan pemain dengan maksimal karena pemain masih kontak dengan permukaan tanah dan tumbuh rumput jarang akan memberi celah bagi rumput liar untuk tumbuh.

Karena itu pengujian kualitas rumput di laboratoium oleh ahli menjadi penting. Sebab jika ketemu rumput Zoysia di suatu tempat kemudian ditanam, belum tentu akan menghasilkan hamparan yang bagus.

Memang peningkatan tajuk selain dipengaruhi oleh karakteristik asli individu rumput yang dipilih, namun juga dipengaruhi oleh pemeliharaan dan kondisi nutrisi bagi rumput.

Rumput Manahan sendiri tercatat tahun 2021 melayani pertandingan Piala Menpora, Piala Presiden, Liga 2 dan Liga 1 PSSI. Tercatat lebih dari 85 kali pertandingan dalam setahun. Pertandingan dengan jumlah yang sangat banyak dan padat ditambah lagi adanya official training, yakni setiap klub yang akan bertanding mencoba lapangan sehari sebelumnya.

Baca Juga: Termasuk Manahan, 6 Stadion di Indonesia Siap Gelar Piala Dunia U-20 2023

Tentu hanya rumput yang sangat kuat yang sanggup melayani dan tidak rusak. Namun demikian riset tentang rumput tetap dibutuhkan untuk terus menghasilkan rumput yang semakin baik dan berkualitas, maupun perbaikan aspek aspek yang kurang dari rumput terhadulu.

Faktor Media Tanam

Media tanam juga tidak kalah pentingnya untuk menghasilkan hamparan rumput yang berkualitas. Media tanam yang baik, bersama rumput adalah media tanam yang saat musim kemarau rumput tidak mudah kering dan saat musim penghujan tidak terjadi genangan air di lapangan, serta media tanam yang tidak menyebabkan pemain luka saat terjatuh.

Media tanam demikian ada standar pengujiananya di laboratorium. Media tanam lapangan Manahan telah mengalami pengujian di UNS, yakni di laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNS.

Memang laboratorium ini telah melakukan pengujian media tanam untuk Stadion Gelora Bung Karno, dan stadion-stadion lain di Indonesia. Pemilihan media tanam Stadion Manahan adalah media pasir halus, tanpa kerikil dan mengandung sedikit debu dan lempung.

Tercatat ada tujuh kandidat pasir dari berbagai queri untuk diujikan dan terpilih salah satu yang paling mendekati ideal. Setelah melewati serangkaian uji, maka hamparan rumput yang berkualitas dapat dihasilkan.

Sampai dengan saat ini lapangan Stadion Manahan tidak mengalami kekeringan di musim kemarau dengan tidak begitu boros air dan juga tidak ada genangan air meskipun hujan sangat deras saat pertandingan.

Perhelatan Piala Dunia U20 tahun 2023 tinggal beberapa bulan. FIFA sebagai pemegang otoritas tertinggi telah melakukan serangkaian pengecekan terhadap Stadion Mahanan.

Baca Juga: Tinjau Venue Piala Dunia U-20, Ini Permintaan FIFA Terkait Rumput GBT Surabaya

Memang banyak aspek yang dicek seperti lingkungan, akses, perhotelan, kelengkapan stadion dan banyak lagi. Tentu saja hamparan rumput stadion juga menjad objek pengecekan khusus bagi FIFA. FIFA memiliki standar untuk lapangan.

Di antara standar tersebut adalah tinggi tanaman rumput yakni 2 cm, warna yang menarik, ball roll yakni luncuran menggelinding bola minimal 6 meter, pantulan bola minimal 40%, kekuatan rumput dari kerusakan atau traksi dan tentu saja adalah media tanam, yakni tingkat drainasi, dan kehalusan pasir.

Tanggal 23 September pengecekan FIFA untuk kedua kali dilakukan. Dalam menyambut pengecekan FIFA ini maka pemotongan pendek rumput, pembersihan dan pemadatan sangat penting untuk dilakukan. Selama ini rumput di Manahan tampil sangat cantik, namun masih tebal, yakni di atas 4 cm secara simultan.

Banyak faktor yang menyebabkan tebalnya rumput ini, di antaranya adalah penggunaan lapangan yang banyak, seperti Asian Paragames berikut seremoninya, olahraga tradisional dan juga tari tarian, selain tahun lalu dengan beban pertandingan yang banyak.

Rumput yang tebal dapat mengurangi risiko kerusakan akibat penggunaan intensif, dan memudahkan pemulihan dari kerusakan. Rumut yang tebal sangat melindungi pemain jika terjatuh maupun sleeding, tetapi laju bola lambat dan menyebabkan pemain harus mengekuarkan tenaga lebih saat berlari karena terlalu empuk.

Kondisi ini tidak sesuai dengan standar FIFA karena itulah menjukkan rumput dalam kondisi potong pendek dan permukaan tanah sedikit tampak, menjadi memudahkan bagi investigator FIFA untuk pengujian.

Pemulihan masa potong pendek untuk cantik kembali dengan tinggi berkisar dua setengah sentimeter sehingga laju bola lebih cepat adalah berkisar tiga minggu. Jika sebelum tiga minggu sudah ada pertandingan, rumput belum cantik dan itu merupakan kompromi bagi lapangan untuk melayani berbagai pihak.

Baca Juga: Menpora Sebut Piala Presiden Jadi Role Model Piala Dunia U-20

Pemeliharaan juga merupakan faktor yang tidak kalah penting untuk menampilkan rumput yang berkualitas. Pemeliharaan membutuhkan peralatan yang memadahi, tenaga perawat rumput yang komitmen dan konsultasi akademik serta pembuat keputusan.

Singkronnya ketiga hal tersebut dapat menghasilkan lapangan yang bagus dan berkualitas. Peningkatan peralatan, logistik nutrisi tanaman dan juga keterampilan tenaga perawat rumput masih sangat dibutuhkan.

Mentoring dari FIFA tampaknya akan diberikan untuk meningkatkan kualitas hamparan terutama saat pertandingan Piala Dunia U20 nanti.

Pertandingan Piala Dunia U20 adalah kesempatan besar bagi Solo untuk mengenalkan kota dan budaya kepada banyak negara peserta. Di sisi lain bagi FIFA, pertandingan piala dunia adalah bagian tak terpisahkan untuk upgrade fasilitas olah raga suatu negara. Karena itu bagi FIFA bukan hanya pengenalan standar namun boleh jadi pengenalan teknologi untuk lapangan.

Sebagai contoh, di Indonesia, teknologi terbaru lapangan sepak bola adalah hybrid, yakni berdiri bersama antara rumput sintetis dengan rumput alami, dengan kerataan lapangan yang presisi tingkat tinggi.

Jika ini yang akan dikenalkan FIFA maka sangat beruntung bagi Manahan untuk menerima teknologi ini. Pada kondisi ini rumput perlu dilakukan pengelupasan sedalam 2 sampai 3 sentimeter,dan dibiarkan akar dan rimpang rumput asli tetap tinggal di dalam tanah dan akan tumbuh.

Di atas pengelupasan ini akan ditumpangi dengan lembaran lembaran rumput sintetis yang bersela. Sela sela antar tegakan rumput sintetis ini dapat diterobos oleh tunas rumput asli yang tumbuh dari rimpang yang tersisa di bawahnya.

Tegak bersama antara rumput asli denga sintetis ini dapat menghasilkan hamparan rumput yang berkualitas tinggi dan sangat rata. Tentu dengan peralatan canggih yang diikutkan dalam membangun hybrid ini.

Di atas lembaran sintetis dan terobosan rumput alami ini perlu diberikan pasir halus dengan ketebalan berkisar dua sentimeter untuk mendapatkan pantulan dan laju bola yang standar.

Bagaimanapun pemberian rumput sintetis murni tidak diinginkan oleh FIFA. Rumput sintetis murni tidak memberikan oksigen dan uap air bagi pemain saat pertandingan sehingga kurang sehat. Sedangkan hybrid dapat memberikan hamparan yang bagus, tahan, dan juga suplai oksigen dan udara segar bagi pemain dan itu ideal.

Baca Juga: Kick Off Piala Dunia U20 Tepat Saat Harkitnas 20 Mei 2023

Jika hybrid ini yang diberikan oleh FIFA maka sterilisasi lapangan untuk perbaikan dan pembuatan lapangan hybrid ini membutuhkan waktu beberapa bulan. Jika dihitung mundur dari bulan Mei 2023 sebagai waktu pertandingan U20, bisa saja akhir Desember lapangan Stadion Manahan sudah steril.

Akhirnya, rumput tetap merupakan mahkota bagi stadion dam stadion merupakan mahkota bagi kota. Tampil cantiknya mahkota ini akan mendatangkan citra positif dan juga mengundang para pemain, official, klub dan football traveler untuk datang ke Kota Solo.

Jika dalam setahun ada seratus pertandingan dan setiap pertandingan ada tiga puluh kamar hotel yang disewa, sekian kuliner yang dibeli, sekian oleh-oleh dan kerajinan, dan return mereka untuk kembali ke Kota Solo, itu artinya perputaran uang yang banyak dan mendukung perekonomian dan juga bergairahnya sport tourism.

Menjaga fasilitas mahkota sport tourism ini adalah penting dan perlu dijadikan satu visi bersama semua pihak, termasuk klub dan supporter.

Opini ini ditulis oleh Rahayu. Saat ini mengajar di Fakultas Pertanian UNS, dan aktif memberi konsultasi kepada stadion stadion di Indonesia seperti Stadioan Manahan, stadion Gelora Bung Karno dan Jakarta International Stadium Jakarta. Rahayu menyelesaikan studi S1 dan S2 di Universitas Gadjah Mada bidang Ilmu Tanah dan menyelesaikan studi S3 di Dankook University Korea Selatan bidang manajemen hamparan rumput.

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode