Rumah Versus Sekolah
Solopos.com|kolom

Rumah Versus Sekolah

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat, 19 Maret 2021. Esai ini karya M. Fauzi Sukri, penulis buku Guru dan Berguru (2015), tertarik dengan tema-tema filsafat pendidikan, filsafat agama, dan ekonomi politik.

Solopos.com, SOLO -- Sudah satu tahun para siswa (juga mahasiswa) belajar dari/di rumah. Sejak Maret 2020 kita menyaksikan seruan #dirumahaja karena pandemi Covid-19. Selama tiga bulan pertama peliburan sekolah, orang tua tampak paling menyadari arti sistem sekolah dan ketidaksiapan rumah menggantikan sistem sekolah.

Mereka punya satu kesadaran bersama: ternyata mereka sudah terlalu membebani sekolah hampir sebagai satu-satunya institusi pendidikan-pengajaran yang paling diutamakan seraya mengabaikan fungsi edukatif rumah.

Dalam pengalihan ruang pembelajaran dari sekolah ke rumah dengan fasilitas Internet, kita menyaksikan peliburan sekolah ternyata melemahkan bahkan meruntuhkan salah satu fondasi utama pengajaran-pendidikan konvensional: teacher-based learning (proses pembelajaran berpusat dari guru).

Sekolah modern, di seluruh dunia, sangat mengandalkan seorang guru sebagai pusat proses pembelajaran (teacher-based learning). Dalam institusi pendidikan yang lebih mengedepankan kebebasan, apalagi yang lebih mengedepankan disiplin, sosok guru tetap sangat menentukan proses pengajaran-pendidikan.

Guru adalah ”fasilitas” pembelajaran yang paling utama melebihi fasilitas teknologi apa pun. Sebagian besar keberhasilan dan kegagalan proses pendidikan-pengajaran sangat ditentukan kualitas guru. Dengan peliburan sekolah, fungsi-fungsi keguruan, seperti memberikan pengajaran, pendidikan, pengawasan, dan teladan, hampir tidak bisa dijalankan.

Daya suara guru di depan kelas atau teladan di lingkungan sekolah terhadap murid praktis tidak begitu berdaya saat anak-anak didik berada di rumah. Para guru hanya bisa mengalihkan instruksi pedagogis melalui pesan teknologis (Whatsapp, khususnya) agar para siswanya mengerjakan pekerjaan rumah berdasarkan instruksinya.

Sebagai ganti utama guru terjadi curriculum based learning (pembelajaran berbasis buku teks) yang bersifat lebih longgar daripada saat proses bersekolah normal. Buku menjadi tumpuan yang paling kuat. Guru mengirimkan instruksi “pekerjaan rumah” kepada murid-murid agar mengerjakan halaman sekian sampai halaman sekian.

Biasanya, seperti yang saya saksikan, para murid tidak terbiasa membaca sendiri sebelum proses pembelajaran di dalam kelas. Buku menjadi momok bagi para murid di rumah. Dalam beberapa kasus, membaca buku pelajaran serasa mendapatkan hukuman dari orang tua, bukan pengalaman yang menyenangkan. Selain tokoh Matilda dalam karya Roald Dahl, siapa sih pernah menganggap buku sekolah sebagai buku bacaan favorit di rumah?

Guru tidak bisa memastikan apakah tugas yang dikerjakan dan dikirimkan kepada guru adalah benar-benar hasil kerja kemampuan murid dan bukan hasil garapan orang tua murid (atau anggota lain di lingkungan keluarga).

Rumah Pedagogis

Dengan peliburan sekolah, beban rumah sebagai ruang-pembelajaran menjadi sangat vital. Kita mungkin ingat tulisan terkenal dari awal abad ke-20. Dari kabupaten Jepara, pada Januari 1903, R.A. Kartini menulis Geef den Javaan Opvoeding! (Berikanlah Pendidikan kepada Orang Jawa!), yang kemudian terkenal sebagai Nota Kartini.

Salah satu kutipan yang penting dari pemikiran R.A. Kartini adalah kami mencari dan menyelidiki. Kami memperhatikan, merasakan, dan menderita bersama orang banyak. Dan makin lama makin jelaslah bagi kami dan akhirnya terang dan tetap dalam pandangan kami, tergores dalam otak dan hati kami: Sekolah saja tidak cukup untuk membentuk pikiran dan perasaan manusia, rumah pun harus turut mendidik!

Ada dua alasan Kartini. Pertama, bagi Kartini, ibu adalah pendidik pertama umat manusia. Kedua, kata Kartini, siang malam anak-anak ada di rumah, di sekolah sehari hanya beberapa jam saja. Tentu saja, kita menghadapi realitas waktu bersekolah yang berbeda dengan zaman Kartini, bahkan kini ada sekolah full day, berasrama, termasuk jam kursus (online dan offline).

Pandemi Covid-19 menyebabkan hampir seluruh waktu anak-anak sekolah dihabiskan di rumah. Kita mungkin sepakat bahwa orang tua, khususnya ibu, adalah pendidik pertama, tapi belum tentu pendidik yang baik. Tidak bisa dimungkiri bahwa tingkat pendidikan orang tua bisa berpengaruh pada psikologi-sosial anak yang bisa berwujud cita-cita masa depan.

Kita sudah lama mendengar cita-cita orang tua terhadap anak: jika orang tua hanya lulus SD, si anak harus lulus perguruan tinggi; jika orang tua tidak mampu, si anak seharusnya makmur, dan seterunya. Cita-cita ini bisa jadi penyemangat tapi bisa jadi beban psikologis bagi anak.

Kehidupan ibu dan bapak yang bercerai, atau ibu dan bapak yang kadang bertengkar, atau yang bapak dan ibu penuh kasih sayang, dan seterusnya berpengaruh pada kondisi psikologis anak dan efektivitas proses belajar. Rumah kadang tak seindah sekolah, tapi ada peran orang tua yang sangat penting dalam pendidikan anak.

Tiga Peran

Dalam sejarah pemikiran pedagogi di Indonesia, Ki Hadjar Dewantara adalah tokoh yang paling banyak mengulas perihal rumah. Dalam Majalah Wasita edisi tahun I, No. 3, Mei 1935 dengan judul Poesat-poesat Pendidikan dan subjudul Keloearga sebagai Poesat Pendidikan, Ki Hadjar menjelaskan alam keluarga itu adalah suatu ruang yang sebaik-baiknja untuk melakukan pendidikan khalayak.

Ki Hadjar mengidealkan tiga hal sebagai prasyarat agar rumah bisa menjadi pusat pendidikan terbaik. Pertama, orang tua sebagai guru atau pemimpin. Ibu dan bapak itu punya kesucian yang semurni-murninya, kecintaan yang sebesar-besarnya, keikhlasan yang sesuci-sucinya, dan sebagainya berhadapan dengan anak-anak  sendiri.

Teranglah bahwa mereka itu sukarlah disamai oleh kaum guru lainnya yang teristimewa hanya terikat formal dan hanja berwadjig organisk melakukan pendidikan terhadap anak-anak, yang bukan anak-anaknya sendiri itu. Apakah Anda percaya perbedaan guru dan orang tua dalam pernyataan Ki Hadjar ini dan apakah hal ini berlaku kepada sebagian besar orang tua murid di Indonesia?

Kedua, orang tua sebagai pengajar. Di sini, yang paling penting bagi Ki Hadjar adalah keahlian orang tua sebaiknya diajarkan kepada anaknya. Orang biasa sering kali dapat juga menukang kayu, menukang-batu, mengobati sementara penyakit, menulis di dalam surat kabar, dan sebagainya asalkan ia mempunyai pikiran cukup.

Inilah tradisi berilmu dalam sistem ngenger dalam keluarga priayi. Ada banyak pertanyaan dan keberatan terhadap masalah ini saat diterapkan secara umum: tingkat kesulitan suatu keahlian, kemampuan pengajaran orang tua, peralatan proses pembelajaran, kemauan si anak untuk diajari orangtua, dan seterusnya.

Belum lagi anggapan perihal apa yang bisa disebut ”ilmu” bagi orang tua dan anak: apa yang tidak ada dalam buku sering tidak disebut sebagai ilmu. Ketiga, orang tua sebagai pemberi contoh atau voorwerker. Pemberi contoh di sini bukan hanya perihal perilaku teladan moral, tapi terutama dalam hal keahlian (profesional) dari yang sederhana sampai yang kompleks sebagai bekal kesejahteraan hidup.

Asumsi Ki Hadjar, suatu masyarakat, khususnya sebagaimana tampak dalam keahlian orang tua, biasanya memiliki tradisi ilmu pengetahuan/keahlian yang, dengan segala kompleksitasnya, akan jauh lebih baik terkuasai (mastered) jika diajarkan sejak di lingkungan rumah.

Dalam terminologi sosiologi mutakhir, keluarga adalah habitus dalam pengembangan modal budaya, modal ekonomi, bahkan modal sosial. Orang tua yang ahli dalam kuliner, kesehatan, pertukangan, dan seterusnya bisa mengajarkan kepada anaknya sejak kecil, mungkin sambil si anak bermain, sampai si anak menyadari sebagai bekal ilmu pengetahuan penting bagi kehidupannya.

Jika tiga hal ini bisa dilakukan oleh orang tua, fungsi rumah sebagai “rumah pengajaran atau perguruan” yang terbaik bisa terlaksana. Pada tahun 1935, Ki Hadjar Dewantara (1935) membuat semboyan pedagogis “Tiap-tiap rumah jadi perguruan! Tiap-tiap orang jadi pengajar!”

Selain sebagai propaganda pemberantasan buta huruf (Latin) semboyan ini berlatar krisis ekonomi global yang berasal dari Amerika Serikat yang dikenal sebagai Great Depression—Zaman Meleset, kata rakyat Indonesia. Barangkali hampir sama dengan zaman pandemic Covid-19.

Akibat krisis itu, pemerintah Hindia Belanda mengurangi anggaran pendidikan. Bersamaan dengan itu, pemerintah Hindia Belanda mengancam institusi pendidikan yang mulai banyak dibangun elite politik-budaya Indonesia sebagai sekolah liar (“wilde” scholen) dalam bentuk Onderwijs-Ordonnantie.

Hal ini adalah serangan yang bisa mengakibatkan pembodohan massal dan pengerdilan daya usaha ekonomi rakyat. Semboyan pedagogis Ki Hadjar Dewantara jadi penting. Sayangnya, tidak semua orang tua memosisikan diri sebagai guru, mengajar ilmu pengetahuan, adab, dan seterusnya.

Betapa banyak orang tua yang tidak tahu apa-apa yang dipelajari anaknya di sekolah. Orang tua punya kesibukan sendiri, khususnya terkait dengan kepentingan ekonomi keluarga. Sudah lama rumah hanya jadi pemasok kebutuhan uang, bukan tempat belajar, dan ibu-bapak sekadar jadi bos dan manajer keuangan pendidikan, bukan guru.

Terlalu Muluk?

Jika kita sejajarkan apa yang dikatakan Kartini, Ki Hadjar Dewantara, termasuk yang jadi praktik umum di sekolah, kita melihat bahwa paradigma teacher-based learning mau digeser kepada orang tua sebagai pusat pembelajaran (parent-based learning).

Jika kita lebih kritis terhadap Kartini dan Ki Hadjar Dewantara, kita melihat keduanya masih terlalu meromantisasi kemahabaikan dan keampuhan pengajaran-pendidikan orang tua. Kita tidak pernah bisa tahu apakah fungsi edukatif orang tua di rumah memang sebagaimana dikatakan Kartini dan Ki Hadjar Dewantara.

Kartini atau Ki Hadjar Dewantara tidak hidup pada era teknologi penuh hipnotis: televisi dan smartphone. Sampai detik ini, televisi masih tetap menjadi program menghabiskan waktu yang cukup banyak dari kehidupan anak-anak di Indonesia. Pada musim anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di rumah, porsi itu semakin lebih banyak lagi.

Waktu yang biasanya digunakan untuk berada di sekolahan sekarang terbagi untuk bersama televisi. Tentu saja, pada abad digital, teknologi yang sekarang jadi pujaan anak-anak adalah smartphone dengan aneka program lagu, video, Youtube, media sosial, dan terutama sekali aneka game yang maha melimpah nan melenakan! Dua fasilitas teknologi yang hadir di rumah ini bukan hanya jelas tidak sebaik sekolah, tapi juga bisa mengaburkan bahkan membuyarkan praktik “rumah-pengajaran”.

Tak semua rumah bisa dengan nyaman dan efektif menjadi tempat belajar, terutama jika kita melihat perbedaan rumah orang berpendidikan, atau orang kaya yang bisa diisi dengan berbagai fasilitas edukatif, dan rumah/tempat indekos pekerja pabrik.

Begitu juga jumlah anggota keluarga dalam satu rumah dan ketersediaan kamar dan ruang belajar dan sebagainya juga berpengaruh pada proses belajar. Hal-hal ini sering jadi masalah nyata perihal efektivitas rumah sebagai sekolah utama.

Akibat hegemoni sekolah yang telanjur divonis sebagai satu-satunya lembaga pendidikan-pengajaran, posisi batin anak selama di rumah sering tidak terkondisikan untuk belajar. Lebih banyak merasa untuk istirahat, mendapatkan kasih sayang orang tua, bersosialisasi tentang fungsi menjadi anggota keluarga (sebagai anak, bukan murid), dan terutama untuk bermain daripada belajar.

Sungguh beruntung anak-anak yang mendapati orang tua atau anggota keluarga yang melaksanakan fungsi edukatif guru di rumah! Seandainya ada survei perihal fungsi edukatif rumah selama satu tahun ini dan manakah yang lebih baik sebagai institusi pendidikan antara rumah dan sekolah, Anda sebagai orang tua sudah pasti tahu jawabannya.

 

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler

Espos Premium
Berita Terkini
Indeks

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago