[ X ] CLOSE

Round Up Klaster Covid-19 PTM Solo, Pukulan Berat di Tengah Pelonggaran

Klaster Covid-19 PTM di sekolah Kota Solo menjadi pukulan berat di tengah berbagai pelonggaran dan upaya pemulihan kehidupan masyarakat.
Round Up Klaster Covid-19 PTM Solo, Pukulan Berat di Tengah Pelonggaran
SOLOPOS.COM - Benarkah sekolah tatap muka jadi opsi agar terhindar dari learning loss? (Ilustrasi/Freepik)

Solopos.com, SOLO — Munculnya klaster penularan Covid-19 di sejumlah sekolah yang menggelar pembelajaran tatap muka atau PTM di Kota Solo menjadi pukulan berat di tengah berbagai pelonggaran kegiatan masyarakat.

Seperti diketahui, saat ini dengan status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) yang turun ke level 2, Kota Solo mulai bergeliat. Tempat-tempat publik seperti objek wisata dan pusat perbelanjaan atau mal sudah boleh menerima pengunjung dari kalangan yang lebih luas.

Bahkan anak-anak usia lima tahun ke atas sudah boleh masuk mal. Berbagai aktivitas ekonomi hingga tempat hiburan malam mulai bangkit. Begitu juga event budaya dan pariwisata mulai diramaikan kembali.

Baca Juga: Muncul Klaster Covid-19 di Sekolah Solo, Tes Acak bakal Diperluas

Berdasarkan data yang diperoleh Solopos.com, adanya klaster Covid-19 dari kegiatan PTM diketahui berdasarkan hasil tes acak di berbagai sekolah Kota Solo pada pertengahan Oktober 2021. Klaster itu terdeteksi di lima sekolah.

Sebarannya pun merata di empat dari lima kecamatan Kota Solo, yakni SD Kristen Manahan di Kecamatan Banjarsari dengan 32 kasus, SDN Danukusuman di Kecamatan Serengan dengan 11 kasus. Lalu SDN Mangkubumen Kidul di Kecamatan Laweyan dengan satu kasus, SDN Semanggi Lor di Kecamatan Pasar Kliwon dengan dua kasus.

Terakhir SD Al Islam 2 Jamsaren di Kecamatan Serengan dengan satu kasus. Total ada 47 kasus Covid-19 dari lima sekolah itu dengan perincian 41 siswa, lima guru/tenaga kependidikan, dan satu anggota keluarga penjaga sekolah.

Baca Juga: Muncul Klaster Covid-19, Aturan PTM di Sekolah Solo Berubah?

Aturan PTM

Munculnya klaster Covid-19 di lima sekolah ini memang tidak berujung pada penghentian total kegiatan PTM di Kota Solo. Hanya lima sekolah terdampak yang PTM-nya dihentikan sementara untuk kurun waktu dua pekan hingga satu bulan ke depan.

Selain itu, Pemkot Solo juga belum mengubah aturan tentang PTM dalam Surat Edaran (SE) terbaru Wali Kota Solo tentang PPKM level 2 yang terbit pada Selasa (19/10/2021). Misalnya jumlah maksimal siswa yang boleh ikut PTM yakni 50% dari kapasitas kelas.

Aturan itu masih sama dengan SE sebelumnya. Namun, Satgas Penanganan Covid-19 Kota Solo bakal terus memantau dan melakukan evaluasi. Jika situasi klaster Covid-19 tidak membaik, bukan tidak mungkin aturan PTM bakal diperketat lagi.

Baca Juga: Klaster PTM Solo, Ini Data Sebaran Kasus Covid-19 di 5 Sekolah

“PTM perlu dilakukan pengendalian seketat mungkin. Risiko yang ada saat PTM harus dikelola agar tak sampai merugikan para pesertanya,” ujar Ketua Pelaksana Satgas Penanganan Covid-19 Solo, Ahyani, saat ditemui wartawan di Balai Kota Solo, Senin (18/10/2021) petang.

Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo juga bakal meneruskan tes acak deteksi Covid-19 dengan memperluas sasaran serta jumlah sekolah. Dalam hal ini, DKK akan menggandeng Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

“Rencananya kami lakukan lagi di sekolah lain. Kalau tidak dengan program Kemenkes ya kami inisiatif sendiri. Ini penting untuk memastikan keamanan saat pembelajaran,” ujar Kepala DKK Solo Siti Wahyuningsih.

Baca Juga: Klaster PTM Muncul di Solo, DPRD Desak Vaksinasi Anak SD Disegerakan

Kesempatan Berbenah

Kabid SD-SMP Dinas Pendidikan (Disdik) Solo, Abdul Haris Alamsah, mengakui temuan klaster Covid-19 saat PTM menjadi pukulan tersendiri dalam upaya pelayanan pendidikan di masa new normal. Meski demikian, Disdik meminta sekolah dan para stakeholders tak berkecil hati.

Ia mengajak seluruh pihak untuk menjadikan kasus di lima SD itu sebagai kesempatan berbenah. “Ini momentum kita untuk meningkatkan protokol kesehatan serta pengawasan. Jangan sampai lengah sehingga menambah kasus penularan,” ujar Haris kepada Solopos.com, Selasa (19/10/2021).

Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka meminta para orang tua siswa untuk memperketat pengawasan kepada anak-anak mereka. Orang tua wajib memonitor anaknya dan memastikan mereka langsung pulang ke rumah.

Baca Juga: Waduh, Gibran Pergoki Siswa SD Solo Keluyuran Beli Es Kapal Seusai PTM

“Sekitar pukul 12.00 WIB lihat saja di Jl Bhayangkara di es kapal. Saya sering menemukan banyak yang masih pakai seragam,” katanya kepada wartawan, Selasa (19/10/2021).

Putra sulung Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu mengingatkan bahwa anak-anak usia di bawah 12 tahun belum divaksin sehingga lebih rentan terpapar. Pemerintah pusat belum memutuskan pelaksanaan vaksin untuk anak usia itu.



Berita Terkait
    Promo & Events
    Ekspedisi Ekonomi Digital 2021
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago