[ X ] CLOSE

Round Up: 10 Kasus Pembunuhan Tersadis di Klaten, 2 Ibu Jadi Ketua RT

Dari belasan kasus pembunuhan yang terjadi di Klaten sejak 2010, terdapat 10 kasus pembunuhan paling sadis.
Round Up: 10 Kasus Pembunuhan Tersadis di Klaten, 2 Ibu Jadi Ketua RT
SOLOPOS.COM - Ilustrasi Pembunuhan (Solopos/Whisnupaksa)

Solopos.com, KLATEN – Sejak 2010, terdapat belasan kasus pembunuhan yang terjadi di Klaten. Pembunuhan yang dilakukan Soleman, 65, warga Kecamatan Jogonalan terhadap teman karibnya Trimo Lewong, 65, membangkitkan ingatan warga Klaten akan sejumlah kasus pembunuhan yang terjadi di Kabupaten Bersinar.

Berikut Solopos.com sajikan 10 kasus pembunuhan paling sadis di Klaten sejak 2010.

1. Pembunuhan Terhadap Teman Karib

Soleman, 65, warga Bangunrejo Kidul RT 007/RW 004, Desa Granting, Kecamatan Jogonalan, Klaten, tega membunuh teman karibnya Trimo Lewong, 65, warga Kanoman, Kecamatan Karangnongko, Jumat (22/10/2021) sekitar pukul 20.00 WIB.

Aksi pembunuhan itu berawal saat kedua sahabat tengah menenggak minuman keras di rumah Soleman. Saat dalam pengaruh minuman keras itu, Soleman merasa tersinggung dengan perkataan korban yang menyebut ia telah berselingkuh dengan istri temannya itu.

Baca Juga: Senggol Sitik Langsung Emosi, Ini Watak Pembunuh Teman Karib di Klaten

Tidak terima dengan tuduhan itu, Soleman langsung mengajak teman karibnya itu berantem. Soleman lalu mengambil sebilah pedang. Sabetan pedang ke tubuh Trimo Lewong itu membuatnya meninggal dunia.

2. Pensiunan ASN Disetubuhi Lalu Dibunuh

KSM Seorang pensiunan aparatur sipil negara (ASN) ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan. Mayat perempuan berusia 61 tahun itu sempat tergeletak di jalan perdesaan di Dukuh Banaran, Sudimoro, Kecamatan Tulung, Jumat (2/7/2021) pukul 23.30 WIB.

Belakangan diketahui nyawa KSM dihabisi oleh pembunuh bayaran bernama Agung Prasetyo, 40, buruh lepas yang berdomisili di Cepogo. Agung mendapat imbalan Rp5 juta seusai membunuh korban atas permintaan Isti Nurhidayah, 38, seorang alumnus D3 Akuntansi asal Nepen, Teras, Boyolali yang indekos di Ketandan, Klaten Utara, Klaten.

Sebelum dihabisi nyawanya, KSM diajak Agung Prasetyo berkeliling mengendarai sepeda motor di kawasan Boyolali. Di tengah perjalanan berkeliling di kawasan Mojosongo itu, Agung Prasetyo menghentikan sepeda motornya di pinggir jalan di Tompe, Karangnongko, Mojosongo, Boyolali.

Baca Juga: Pensiunan ASN Klaten Dibunuh di Tulung, 2 Tersangka Dicokok di Semarang

Agung berniat kencing di persawahan yang ditanami tembakau. Sejurus kemudian, Agung mengajak KSM bersetubuh di area persawahan tersebut. Usai bersetubuh, Agung menghabisi nyawa KSM. Caranya dengan memukul kepala KSM dengan helm sebanyak dua kali.

Setelah itu, Agung mencekik KSM dengan kedua tangannya hingga pensiunan ASN itu meregang nyawa. Setelah berhasil membunuh, Agung membawa mayat KSM dengan ditumpangkan di jok sepeda motor Honda Astrea Grand.

Sedianya, Agung ingin menunjukan mayat tersebut ke Isti. Saat melintas di jalan perdesaan Sudimoro, Kecamatan Tulung, Klaten, mayat KSM tiba-tiba terjatuh. Agung meninggalkan mayat yang tergeletak di tengah jalan tersebut. Berikutnya, peristiwa seorang wanita yang meninggal dunia di tengah jalan itu diketahui warga di Sudimoro dan sekitarnya.

3. Bunuh Teman di Tanggul Kaliworo

Kasus pembunuhan di Tanggul Kaliworo, Desa Borangan, Kecamatan Manisrenggo, Klaten, terjadi pada April 2021 lalu. Pelaku pembunuhan Heru Prasetyo, 25, warga Tegalrejo RT 009/004, Desa Kadilajo, Kecamatan Karangnongko, Klaten, ditangkap polisi pada Rabu (28/4/2021).

Baca Juga: Pelaku Pembunuhan di Tanggul Kali Woro Klaten Berusaha Hilangkan Jejak Tapi Gagal

Korban diketahui bernama Fatkhan Nur Risqiyan, 24, adalah warga Karangeri RT 009/RW 004, Desa Kadilajo, Kecamatan Karangnongko, Klaten. Heru Prasetyo tega membunuh temannya karena sakit hati. Tersangka menyayat bagian leher dengan pisau dapur sebanyak satu kali.

“Saya sering diolok-olok. Saya sering dikatai lemah. Begitu dia datang di lokasi kejadian, saya langsung menyayat bagian lehernya. Saat itu, dia tak melawan sama sekali. Setelah pembunuhan itu, saya menyesal,” katanya saat polisi menggelar jumpa pers terkait kasus pembunuhan itu di Mapolres Klaten, Kamis (29/4/2021).

4. Pembuhuan Aktivis LGBT

Jajaran Polres Klaten menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan seorang aktivis lesbian gay biseksual dan transgender (LGBT), HFO, 53, di Pakahan, Jogonalan, Klaten, pada Juli 2019 lalu.

HFO dibunuh oleh temannya, Ucok asal Sumatra Utara, pada 6 Juni dini hari. Saat itu, HFO mengajak Ucok berhubungan seksual sesama jenis, namun Ucok menolak. Karena HFO memaksa, Ucok kemudian naik pitam dan membunuh HFO.

Baca Juga: Direkonstruksi, Begini Kronologi Pembunuhan Aktivis LGBT Oleh Temannya Di Klaten

HFO dikenal sebagai aktivis LGBT di kawasan Jogja. Sementara Ucok adalah temannya. Akibat perbuatannya Ucok dijerat Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) subsider Pasal 351 ayat 3 tentang Pembunuhan dengan ancaman hukuman maksimal selama 15 tahun penjara.

5. Pembunuhan PNS Trucuk dengan Linggis

Kasus pembunuhan terhadap Suparno seorang pegawai negeri sipil (PNS) di pinggir lapangan Sumber, Trucuk, Klaten, terjadi pada 20 November 2016.

Pelaku pembunuhan itu adalah Supriyanto alias Mangun, 33, warga Puluhan, Trucuk. Semula, Mangun yang sudah terpengaruh minuman keras (miras) mencari seseorang berinisial DD.

Waktu itu, Mangun yang berselisih dengan DD sudah menyiapkan linggis sepanjang satu meter. Mangun pun membonceng rekannya untuk dipertemukan dengan DD.

Baca Juga: PEMBUNUHAN KLATEN : Dibagi 25 Adegan, Begini Jalannya Rekonstruksi Pembunuhan PNS Trucuk 

Di tengah jalan pinggir lapangan Sumber, sepeda motor yang ditumpangi Mangun berpapasan dengan sepeda motor yang dikendarai Suparno, 57, warga Juwiring. Suparno memboncengkan istrinya, Sujiyem.

Lantaran ingin menghindari jalan berlubang, laju sepeda motor Suparno diarahkan hampir mendekati bagian tengah jalan. Dari arah berlawanan, melaju sepeda motor yang ditumpangi Mangun.

Tanpa banyak kata karena sudah tersulut emosi, Mangun langsung menghantamkan linggisnya ke arah muka Suparno. Dalam sekejap, Suparno dan istrinya terjatuh dari kendaraan. Suparno meninggal dunia setelah dihantam linggis pada bagian kepalanya.

6. Ibu Dibunuh Anak Kandung yang ODGJ

Juwariyah, 60, warga Dukuh/Desa Pepe, Kecamatan Ngawen, Klaten, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia bersimbah darah di ruang utama rumahnya dengan posisi leher terputus, Minggu (29/4/2018) malam.

Kepada warga, anak korban bernama Budi, 33, yang mengalami gangguan jiwa mengaku membunuh ibunya dengan menggorok leher. Dari peristiwa itu, polisi menyita satu bilah golok sebagai barang bukti.

Baca Juga: Mayat Pria Dikerubuti Lalat di Ngalas Klaten Ternyata Dibunuh Anak Kandungnya

Dari hasil catatan di RSJD, Budi diketahui pernah dirawat di rumah sakit tersebut. Ia mulai rutin kontrol kejiwaan di RSJD sejak 2013 silam. Dia juga masih tercatat dirawat di Dinas Sosial. Berdasarkan keterangan warga setempat, Budi terindikasi mengalami gangguan kejiwaan sejak lulus SMK pada 2003 lalu.

Pelaku kerap menyampaikan keinginan untuk bunuh diri. Kali terakhir ia menyampaikan keinginan bunuh diri pada Sabtu (29/4/2018) sebelum menghabisi nyawa ibunya sendiri.

7. Buruh Serabutan Habisi Nyawa Pemilik Toko Kelontong

Kasus pembunuhan Eni Murtini, 48, pemilik toko kelontong di Rejodadi, Trucuk, Klaten, terjadi pada April 2016. Pelakunya adalah seorang buruh serabutan, Doni Siswanto, 24, warga Legokclile, Bojong, Pekalongan.

Belakangan diketahui, Doni ternyata pernah menginap beberapa hari di tempat saudaranya di Rejodadi. Rumah saudara Doni tak jauh dari rumah Eni. Sehingga, Doni sudah mengetahui rutinitas Eni dan Legimin.

Baca Juga: PEMBUNUHAN KLATEN : Begini Cara Buruh Serabutan Membunuh Pemilik Toko Kelontong di Trucuk

Doni pun tergiur ingin mencuri uang milik Eni yang biasa disimpan di lemari di ruang tidur. Doni melancarkan aksinya mencuri uang Rp5,3 juta, ponsel, dan Yamaha Mio. Eni yang mengetahui aksi Doni langsung berteriak minta tolong. Lantaran panik, Doni menutup mulut Eni dengan tangannya. Tapi, Eni tetap melawan.

Eni pun dijatuhkan ke lantai ruang tidur. Saat itu, Eni masih tetap berteriak. Doni lalu memukulnya sebanyak tiga kali di kepala bagian belakang. Kebetulan, Doni memakai sebuah akik di salah satu jari di tangan kanannya. Pukulan di kepala bagian belakang itu yang menyebabkan Eni meninggal dunia. Doni juga sempat membenturkan muka korban ke lantai dan mencekiknya.

8. Pria Lansia Habisi Nyawa PSK

Partini, seorang pekerja seks komersial (PSK) dihabisi nyawanya oleh Pujo Hartono, 70, di kediamannya Desa Ngelinggi, Kecamatan Klaten Selatan, pada Oktober 2011. Partini dibunuh Pujo dengan kayu sesaat setelah keduanya melakukan hubungan layaknya suami istri.

Setelah puas melakukan hubungan suami istri, Partini menuju dapur untuk mengambil pisau. Tak lama kemudian, Pujo menyusul ke dapur hingga terjadilah percekcokan antara keduanya.

Baca Juga: Rekonstruksi pembunuhan PSK digelar

Partini meminta sejumlah uang kepada Pujo dan mengancam akan membunuh jika tidak diberi. Tanpa berpikir panjang, Pujo mengambil sebilah kayu gelugu lalu memukulkannya ke kepala wanita panggilan asal Desa Gemantar, Kecamatan Mondokan, Sragen itu berkali-kali hingga tewas di tempat.

9. Hamil, Nyawa Kekasih Malah Dihabisi

Kasus pembunuhan Umi Khasahan, 21, yang tengah hamil ini dilakukan kekasihnya sendiri yang juga tetangganya Noor Sriyanto, 26, warga Dukuh Senden RT 8/RW II, Desa Jambean, Kecamatan Karanganom terhadap kekasihnya, Umi Khasanah, 21, yang terjadi pada akhir Maret 2010.

Peristiswa pembunuhan itu bermula ketika, Umi Khasanah mengaku hamil setelah melakukan hubungan layaknya suami istri dengan tersangka. Umi Khasanah meminta tanggung jawab Noor Sriyanto untuk menikahinya. Alih-alih menerima ajakan menikahi korban, Noor justru merencanakan sebuah pembunuhan terhadap kekasihnya tersebut di bibir Sungai Bengawan Solo tepatnya di Dukuh Panjangan, Desa Gondasari, Kecamatan Juwiring.

Baca Juga: Direkonstruksi, pembunuhan kekasih hamil

Untuk memuluskan rencananya, Noor membawa sejumlah peralatan seperti seutas kawat, karung, dan tali rafia. Kawat itu digunakan untuk menjerat leher korban hingga meninggal dunia. Selanjutnya, kepala jenazah kekasihnya tersebut dimasukkan dalam karung dan diikat dengan tali rafia. Palaku lantas menyeret jenazah korban dan membuangnya ke Sungai Bengawan Solo. Mayat korban baru ditemukan dua hari berselang di Desa Newung, Kecamatan Sukodono, Sragen.

Lima bulan kemudian, Noor Sriyanto yang menjadi tahanan Polres Sragen meninggal dunia. Selama menjadi tahanan, Noor sempat berusaha bunuh diri dengan menenggak cairan pembersih lantai. Ia sempat dibawa ke rumah sakit namun akhirnya meninggal dunia.

10. Sopir Taksi Ditembak Mati

Dahlan Sutrisno, 41, sopir taksi Primkopad Yogyakarta ditemukan meninggal dunia di dalam taksi di Gentan, Gemampir, Karangnongko, pada Januari 2010. Awalnya, beberapa warga curiga ada taksi Nopol AB 1019 AH yang nyungsep di pinggiran jalan, sekitar pukul 06.00 WIB.

Warga kaget mengetahui di dalam taksi terdapat mayat Dahlan yang berlumuran darah. Diduga sopir taksi itu dibunuh dengan cara ditembak. Pasalnya, saat menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP) polisi menemukan sejumlah proyektil.

Baca Juga: Polisi belum pastikan modus pembunuhan sopir taksi

The Power of Emak-Emak, 2 Ibu Jadi Ketua RT

Solopos.com, KLATEN – Warga di RT 007/RW 004 dan RT 008/RW 004 Dukuh Bangunrejo Kidul, Desa Granting, Kecamatan Jogonalan, Klaten, menggunakan energi emak-emak untuk dipilih sebagai ketua RT. Berkat the power of emak-emak itu, warga berharap lingkungan di daerah setempat dapat selalu nyaman dan kondusif.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, warga di RT 007/RW 004 dan RT 008/RW 004 Bangunrejo Kidul, Desa Granting, Kecamatan Jogonalan, telah melaksanakan pilihan langsung ketua RT dan ketua RW kurang lebih sekitar satu tahun lalu.

Sebanyak delapan orang maju ke gelanggang sebagai calon ketua RT atau pun ketua RW. Di antara delapan calon ketua RT/ketua RW itu, tiga di antaranya berjenis kelamin perempuan. Masing-masing, Ny. Mulyani, 51; Ny. Dalinah, 56; dan Ny. Ino.

Baca Juga: Jadi Ketua Bapera Klaten, Hapsoro Ingin Ajak Kaum Milenial Geluti Pertanian

Saat pemilihan, ratusan warga di RW 004 dipersilakan memilih ketua RW sesuai pilihannya. Selain memilih ketua RW, warga di RT 007 dan RT 008 di RW 004 juga dipersilakan memilih calon pemimpin di tingkat RT sesuai hati nurani warga setempat.

Hasil pemilihan ketua RT dan RW itu memutuskan, Suwarto sebagai ketua RW 004 di Desa Granting, Kecamatan Jogonalan. Selanjutnya, Ny. Dalinah sebagai ketua RT 007 dan Ny. Mulyani sebagai ketua RT 008.

“Memang pilihan RT/RW di sini di-voting. Pas pemilihan juga disaksikan dari pemerintah desa (pemdes). Selaku ketua RW, saya pun otomatis harus sering berkoordinasi dengan ketua RT yang ibu-ibu ini. Meski ibu-ibu, mereka tetap semangat dalam menjalankan tugasnya,” kata Ketua RW 004, Desa Granting, Kecamatan Jogonalan, Suwarto, saat ditemui Solopos.com, di rumahnya, Sabtu (23/10/2021).

Baca Juga: Kerbau Bule Klangenan Warga Jogonalan Klaten, Ini Foto-Fotonya

Mulyani, 51, yang menjadi ketua RT 008 di RW 004 Desa Granting, Kecamatan Jogonalan, mengaku harus pandai mengatur waktu dalam menjalankan tugasnya sebagai seorang bu RT. Mulyani pun juga mengesampingkan ewuh-pekewuh saat harus memimpin warganya yang didominasi para pria saat menggelar gotong royong.

Di samping itu, Mulyani juga harus siap berdiskusi panjang tentang memajukan desa sewaktu mengikuti musyawarah di tingkat desa. “Pada dasarnya, saya memang suka berorganisasi. Saya sudah biasa ikut gotong rotong atau pun rapat di tingkat desa yang diikuti bapak-bapak,” kata Mulyani.

Mulyani mengatakan selama menjadi ketua RT itu banyak menyimpan pengalaman berharga. Meski melelahkan, Mulyani menilai hal tersebut menjadi bagian dalam rangka mengabdikan diri di tengah masyarakat.

Baca Juga: Di Jogonalan Klaten Ada 5 Kerbau Bule, Jadi Tontonan Gratis Warga

“Pengalaman yang sempat bikin stres saya saat jadi ketua RT itu sewaktu menangani kasus dugaan perselingkuhan. Memang capek. Tapi akhirnya masalah itu selesai enggak selesai juga. Pokoknya, jadi ketua RT itu unik, asyik, dan mumetke,” katanya.

Hal senada dijelaskan Ketua RT 007 di RW 004, Desa Granting, Kecamatan Jogonalan, yakni Ny. Dalinah, 56. Istri dari seorang tokoh masyarakat di RT 007 ini tak menyangka akan dipilih warganya menjabat sebagai ketua RT. Oleh warga RT 007, Ny. Dalinah dikenal sebagai pribadi yang entengan alias suka membantu orang.

“Capek juga sebenarnya jadi ketua RT. Kalau pengalaman tak terlupakan selama menjadi ketua RT, ya saat ikut menangani kasus pembunuhan. Saya itu sampai ndrodok saat melihat jenazah [korban pembunuhan] dan pedang [milik pelaku pembunuhan]. Saya juga harus melek sampai dini hari gara-gara diminta aparat polisi untuk standby [saat berlangsung evakuasi korban pembunuhan di RT 007/RW 004, Desa Granting, Kecamatan Jogonalan],” katanya.

Baca Juga: Pernah Sumbang Kasus Tertinggi, Jogonalan Klaten Kini Terbebas dari Covid-19

Terpisah, Sekretaris Desa (Sekdes) Granting, Kecamatan Jogonalan, Jumakir, mengatakan di desanya memang banyak ditemukan tokoh masyarakat (tomas) dari kalangan perempuan.

“Di sini sudah biasa ibu-ibu menjadi ketua RT atau pun ketua RW. Istri saya sendiri juga RW di daerah saya,” katanya.

Ny. Dalinah (kiri) dan Ny. Mulyani (kanan) saat di Bangunrejo Kidul, Desa Granting, Kecamatan Jogonalan, Sabtu (23/10/2021). Ny. Dalinah menjabat sebagai ketua RT 007/RW 004, Granting, Jogonalan. Sedangkan Ny. Mulyani sebagai ketua RT 008/RW 004, Granting, Jogonalan.



Berita Terkait
    Promo & Events
    Ekspedisi Ekonomi Digital 2021
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago