top ear
Kebo bule mulai diarak keluar dari depan Kompeks Keraton Kasunanan Surakarta, jelang Kirab Malam 1 Sura, Kamis (21/9/2017) malam. (Ahmad Baihaqi/JIBI/Solopos)
  • SOLOPOS.COM
    Kebo bule mulai diarak keluar dari depan Kompeks Keraton Kasunanan Surakarta, jelang Kirab Malam 1 Sura, Kamis (21/9/2017) malam. (Ahmad Baihaqi/JIBI/Solopos)

5 Ritual Unik di Solo yang Masih Lestari Hingga Sekarang

Berikut ini ulasan mengenai ritual maupun tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat maupun Keraton Solo. Kira-kira apa saja ya?
Diterbitkan Selasa, 22/09/2020 - 12:30 WIB
oleh Solopos.com/Nugroho Meidinata
4 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Selain kuliner, Kota Solo di Jawa Tengah juga terkenal dengan beraneka ragam ritual atau tradisi yang masih dilestarikan hingga sekarang.

Berikut ini lima ritual yang masih terjaga dan dilestarikan di Kota Solo.

Dampak Suami Istri Jarang Hubungan Intim, Nomor 4 Kok Ngeri ya?

1. Sekaten

Gamelan Sekaten diusung dari Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju Masjid Agung, Sabtu (2/11/2019). (Solopos-Mariyana Ricky P.D.)
Gamelan Sekaten diusung dari Kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menuju Masjid Agung, Sabtu (2/11/2019). (Solopos-Mariyana Ricky P.D.)

Sekaten merupakan agenda tahunan Solo yang digelar menjelang Maulid Nabi Muhammad. Sekaten adalah salah satru tradisi Keraton Solo yang dilestarikan hingga sekarang. Perayaan sekaten biasanya dimeriahkan pasar malam selama beberapa pekan.

Ada tiga tradisi yang lekat di acara Sekaten ini, yakni menabuh gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari. Hal tersebut dimaksudkan untuk tanda dimulainya Sekaten. Kemudian, ada pula tradisi mengunyah daun sirih atau dikenal dengan istilah nginang. Dan terakhir adalah makan telur asin.

Amankah Bersihkan Tangan Anak Pakai Hand Sanitizer?

Berdasarkan sejarahnya, Sekaten bermula pada 1477 kala Raden Patah membangun Masjid Demak. Saat itu, digelar syiar Islam selama tujuh hari menjelang kelahiran Nabi Muhammad untuk menarik perhatian masyarakat.

2. Sadranan

Warga mengikuti acara sadranan di Makam Mbah Bonang Moren, Desa Baturan, Colomadu, Karanganyar, Minggu (29/5/2016). (Iskandar/JIBI/solopos)
Warga mengikuti acara sadranan di Makam Mbah Bonang Moren, Desa Baturan, Colomadu, Karanganyar, Minggu (29/5/2016). (Iskandar/JIBI/solopos)

Tak hanya masyarakat Solo, penduduk di Jawa juga mengenal tradisi Sadranan atau akrab dikenal Ruwahan.

Ritual ini digelar masyarakat menjalang bulan Ramadan, yaitu tepat pada Sya'ban. Pada bulan ini masyarakat berdoa kepada leluhur yang telah meninggal dunia agar diampuni dosa-dosanya, diterima amal baiknya, dan mendapat tempat yang layak di sisi-Nya.

Tanda Orang Berbohong, Nomor 3 Mudah Dikenali

Bersumber dari situs resmi IAIN Surakarta, Sadranan merupakan tradisi yang dilakukan masyarakat Hindu dan Budha pada abad ke-15 yang digunakan untuk pemujaan roh. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan Islam, Sadranan kemudian tujuannya berubah untuk memohon kepada Allah yang dilakukan oleh Wali Songo.

Dan ritual tersebut masih berjalan hingga sekarang termasuk oleh masyarakat di Kota Solo.

3. Grebeg Sudiro

Ribuan warga memadati kawasan sekitar Pasar Gede Solo untuk menyaksikan karnaval Grebeg Sudiro, Minggu (19/1/2020). (Solopos/Nicolous Irawan)
Ribuan warga memadati kawasan sekitar Pasar Gede Solo untuk menyaksikan karnaval Grebeg Sudiro, Minggu (19/1/2020). (Solopos/Nicolous Irawan)

Grebeg Sudiro merupakan bentuk akulturasi Tionghoa dan Jawa yang pertama kali dilakukan pada 2007 lalu.

Ritual ini adalah pengembangkan tradisi yang sudah ada sebelumnya, yakni Buk Teko yang berarti tradisi syukuran menjelang Imlek.

Mengenal Kepribadian Seseorang Lewat 5 Gaya Bicara Ini, Kamu yang Mana?

Buk Teko sudah dilakukan sejak Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Paku Buwana X berkuasa.

Saat ini, salah satu ritual wajib tahunan di Kota Solo merupakan panggung untuk menguatkan ikatan persaudaraan masyarakat yang berbaur menjadi satu tanpa mempedulikan suku, agama, dan ras.

5 Rekomendasi Warung Soto di Solo, Langgananmu Nomor Piro Lur?

4. Kirab Malam 1 Sura

Mendagri Cahyo Kumolo (kiri) Menteri KKP Susi Pujiastuti, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan ketua MK Arif Hidayat mengikuti Kirab malam 1 Sura di Pura Mangkunegaran, Rabu (20/9/2017) malam. (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)
Mendagri Cahyo Kumolo (kiri) Menteri KKP Susi Pujiastuti, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan ketua MK Arif Hidayat mengikuti Kirab malam 1 Sura di Pura Mangkunegaran, Rabu (20/9/2017) malam. (Sunaryo Haryo Bayu/JIBI/Solopos)

Berdasarkan sejarahnya, perayaan malam satu Sura ini pertama kali dilakukan oleh pemimpin Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung.

Kala itu, Kirab Malam 1 Sura dilakukan bertujuan untuk merayakan pergantian tahun baru Islam. Adapun ritual-ritual yang dilakukan adalah tapa bisu, tirakatan, kungkum, kirab budaya, dan mencuci benda-benda pusaka.

Bakso Bakar Hits Pak'e Ida Solo, Tanpa Pelet Bisa Bikin Lengket

Uniknya, di ritual Kirab Malam Satu Sura di Solo ini melibatkan kerbau yang dikenal sebagi kebo bule. Hewan ini menjadi salah satu daya tarik bagi warga untuk menyaksikan perayaan malam satu Sura dan dianggap keramat oleh masyarakat setempat.

Misteri Kuntilanak Ngesot Hingga Sosok Rambut Gimbal di Terminal Tirtonadi Solo

5. Tari Bedhaya Ketawang

Abdi dalem mementaskan tari Bedhaya Ketawang saat Tingalan Jumenengan PB XIII di Sasana Sewaka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu (22/4/2017). (M Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)
Abdi dalem mementaskan tari Bedhaya Ketawang saat Tingalan Jumenengan PB XIII di Sasana Sewaka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu (22/4/2017). (M Ferri Setiawan/JIBI/Solopos)

Ritual yang masih terjaga yang dilakukan oleh Keraton Solo adalah tari Bedhaya Ketawang. Tari ini menyimpan sejuta misteri.

Kesakralannya melampaui tarian apa pun dalam sejarah Kerajaan Mataram. Tarian ini hanya dimainkan sekali dalam setahun pada peringatan naik takhta sang raja.

Ada 6 Kampung Unik di Solo, Nomor 1 Kerap Buat Selfie

Bedhaya Ketawang berkisah tentang percintaan Panembahan Senapati dengan Kanjeng Ratu Kencana Hadisari atau Ratu Pantai Selatan. Ada tiga bait cerita dalam tari berdurasi sekitar dua jam itu.

Jalanan Paling Angker di Indonesia Versi Nessie Judge, Pernah Lewat?

Ada sembilan perempuan yang menarikan Bedhaya Ketawang. Jumlah itu melambangkan sembilan lubang pada tubuh manusia. Para penari didandani dengan pakaian dan riasan menyerupai pengantin.

Disebutkan bahwa pakaian untuk pengantin putri terinspirasi dari pakaian bendara bedhaya. Dikenakan pula sebuah dodhot bermotif aneka binatang yang menghadap ke telaga.

Ada Bau Ini di Dekatmu? Bisa Jadi Ada Makhluk Halus Menghampirimu

Pulang ke Solo, Ini Kuliner Andalan Titiek Soeharto

Fakta Unik Lainnya


Editor : Profile Nugroho Meidinata
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini