[x] close
top ear
Ilustrasi virus corona (Freepik)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi virus corona (Freepik)

Risiko Penularan Covid-19 Solo Masuk Zona Oranye, Apa Artinya?

Risiko penularan Covid-19 Kota Solo menurut data gugus tugas penanganan Covid-19 pemerintah pusat berada di zona oranye atau risiko sedang.
Diterbitkan Selasa, 7/07/2020 - 19:55 WIB
oleh Solopos.com/Mariyana Ricky P.D
3 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Kota Solo masuk zona risiko sedang atau oranye terkait penularan virus corona atau Covid-19. Hal itu berdasarkan grafik peta risiko yang ditampilkan di situs covid19.go.id hingga Selasa (7/7/2020).

Status risiko Covid-19 itu naik satu tingkat dibanding sebelumnya. Pada Selasa (30/6/2020), Solo masuk kategori zona kuning atau risiko rendah.

Arti zona kuning adalah masih ditemukan kasus positif Covid-19, kemudian transmisi dari kasus impor dan tingkat rumah tangga bisa terjadi. Selain itu klaster penyebaran terkendali dan tidak bertambah.

Bawa 2 Paket Serbuk Misterius, Rolex Ditangkap Polisi di SPBU Sudimoro Boyolali

Sedangkan arti zona oranye pada risiko penularan Covid-19 di Kota Solo yakni tingkat penyebaran tinggi dan potensi virus tidak terkendali. Penjabarannya, transmisi lokal mungkin bisa terjadi dengan cepat.

Transmisi dari imported case mungkin terjadi secara cepat serta klaster baru harus terpantau dan dikontrol melalui testing dan tracing agresif. Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Solo, Siti Wahyuningsih, membenarkan adanya kenaikan status risiko penularan Covid-19 itu.

Reproduksi Efektif Virus

Kendati pada situs covid.bappenas.go.id, Solo berstatus zona hijau, status berdasarkan angka reproduksi efektif virus penyebab Covid-19 tersebut tidak digunakan. Fungsinya sekadar sebagai pelengkap atau hanya untuk triangulasi.

Ketahuan Curang, 1 Peserta Ujian Tulis Berbasis Komputer SBMPTN UNS Solo Didiskualifikasi

Angka reproduksi efektif yang disimbolkan dengan huruf Rt untuk Solo sudah berada di bawah 1 atau tepatnya 0,82. Hitungan hingga Sabtu (4/7/2020) itu membuat Solo masuk kategori hijau.

“Status yang digunakan adalah yang tertera pada situs covid19.go.id. Jadi, status Solo yang sebelumnya zona kuning, justru naik menjadi zona oranye,” kata dia kepada Solopos.com, Senin (6/7/2020).

Ning, sapaan akrabnya, mengatakan status risiko penularan Covid-19 Kota Solo sesuai situs covid19.go.id itu dihitung berdasarkan indikator kesehatan masyarakat (IKM). Terdapat tiga indikator utama, yakni epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat, dan pelayanan kesehatan.

Putri Cantik Cucu PB XII Klaim Didukung Gerindra Jadi Cawawali Solo Pendamping Gibran

Berdasarkan hitungan itu, skor Solo pada pekan dan keempat Juni masuk zona kuning atau risiko rendah. Status itu kemudian naik menjadi oranye pada pekan ini.

Skor dihitung dari tiga indikator utama, lantas dijabarkan lagi menjadi 14 poin indikator lalu dijumlahkan menjadi skor akhir penentuan zona. Ke-14 poin itu meliputi penurunan jumlah kasus positif (target >50%) dan penurunan jumlah kasus orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) (target >50%).

Indikator Epidemiologi

Kemudian, penurunan jumlah orang meninggal dari kasus positif, penurunan jumlah meninggal kasus ODP dan PDP, serta penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di rumah sakit (RS). Lalu, penurunan jumlah ODP dan PDP yang dirawat di RS.

Sekeluarga Di Setabelan Kaget Dicatut Sebagai Pendukung Paslon Bajo di Pilkada Solo

Seluruh angka yang masuk indikator epidemiologi I itu dihitung selama dua pekan dari puncak. Indikator selanjutnya, yang masuk epidemiologi II dihitung berdasarkan kenaikan jumlah sembuh dari kasus positif dan kenaikan jumlah selesai pemantauan dari ODP dan PDP selama dua pekan terakhir.

Lalu, laju insidensi dan mortality rate atau angka kematian kasus positif per 100.000 penduduk. Indikator surveilans kesehatan masyarakat, meliputi jumlah pemeriksaan spesimen meningkat dalam dua pekan dan positif rate rendah (target <5%).

Politikus Laweyan Solo Ini Dianggap Potensial Dampingi Gibran di Pilkada 2020, Siapa Dia?

“Indikator terakhir pelayanan kesehatan menghitung jumlah tempat tidur di ruang isolasi mampu menampung >20% pasien Covid-19 dan jumlah tempat tidur di RS rujukan mampu menampung >20% pasien,” jelasnya.

Hitungan jumlah tempat tidur di ruang isolasi dan jumlah tempat tidur di RS rujukan Solo termasuk tinggi. Hal ini diduga karena RS di Solo tidak hanya merawat warga lokal tapi juga luar daerah.


Editor : Profile Suharsih
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini