top ear
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil soal mobil listrik jadi kendaraan dinas. (Tangkapan layar)
  • SOLOPOS.COM
    Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil soal mobil listrik jadi kendaraan dinas. (Tangkapan layar)

Ridwan Kamil Tantang Produsen Gencar Jual Mobil Listrik, Ini Alasannya

Kendala mobil listrik adalah jarak tempuh, harga baterai, dan ketersediaan charging station. Riset dan pengembangan terus dilakukan, agar kendala bisa teratasi.
Diterbitkan Jumat, 5/03/2021 - 07:30 WIB
oleh Solopos.com/Arif Fajar Setiadi
3 menit baca

Solopos.com, SOLO – Kendaraan listrik terutama mobil listrik menjadi pembicaraan hangat. Bahkan langkah Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menggunakan mobil listrik untuk kendaraan dinas dan mobil pengawalan (Satlantas) menjadi daya tarik tersendiri.

“Tiga mobil listrik itu digunakan Gubernur Jabar dan Wakil Gubernur, serta kendaraan pengawal. Jadi ada tiga. Eh yang viral mobil pengawalnya,” kata Ridwan Kamil akrab disapa Kang Emil saat talkshow virtual di Solopos, Kamis (4/3/2021) malam.

Talkshow virtual Solopos mengusung tema, “Era Baru Mobil Listrik Tanah Air” didukung oleh PLN dipandu Direktur Bisnis Solopos Group, Suwarmin. Hadir juga narasumber lainnya, seperti Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil akrab disapa Kang Emil.

Kemudian Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Mochamad Ashari dan Operation Manager BMW Astra, Teguh Widodo. Talkshow ini juga disiarkan di kanal YouTube Solopos TV, Instagram dan Facebook Solopos.

Baca jugaPrioritas Riset Nasional, Menristek: Ini Perkembangan Kendaraan Listrik

Menurut Ridwan Kamil, pertimbangan pihaknya menggunakan mobil listrik sebagai kendaraan dinas ada beberapa hal. Selain tidak ada bedanya dengan kendaraan dengan bahan bakar minyak dalam hal performa, ada keuntungan tidak polusi. Sehingga ramah lingkungan, dan tidak ada suara atau tidak berisik.

“Kemudian keuntungan lainnya, karena tidak isi BBM, untuk biaya operasionalnya jadi lebih murah. Kebetulan saya menggunakan produk yang harganya terjangkau. Karena itu sisa biaya operasional, digunakan untuk kegiatan pembangunan,” ujar Kang Emil.

Lantas kenapa Kang Emil hanya membeli tiga mobil listrik, jika manfaatnya cukup besar untuk pengalihan anggaran operasional. Ternyata menurutnya, niat untuk membeli dalam jumlah lebih terkendala pada produksi kendaraan listrik itu sendiri.

“Ada penawaran bus listrik, kita sudah siapkan anggaran untuk membelinya ternyata baru prototype. Sebenarnya peminat cukup banyak namun produksi terbatas. Kepada produsen secepatnya rapatkan barisan, produksi mobil listrik dalam jumlah besar karena market menunggu,” kata Ridwan Kamil menantang produsen mobil listrik.

Persiapan Infrastruktur

Operation Manager BMW Astra, Teguh Widodo mengatakan sebenarnya sudah sejak 2010 BMW bicara mobil listrik. Bahkan 2015  mulai menyiapkan infrastruktur, berupa diler dan bengkel. Sehingga konsumen tidak kebingungan ketika sudah membeli mobil listrik.

“Pada 2016, BMW sudah mulai jualan mobil listrik bahkan ikut pameran otomotif di Indonesia. Konsumen yang sudah melakukan test drive pun menaruh minat besar. Kemudian pada 2020 ada 27 unit,” jelas Teguh.

Teguh juga mengakui jika demand akan mobil listrik tinggi. Namun ada beberapa hal yang menjadikan harga mobil listrik masih mahal, padahal pembeli ingin harga bisa lebih murah. Kendala itu menyangkut harga baterai dan waktu pengisian daya.

“Melihat perkembangan harga baterai mulai turun, namun untuk fast charging masih jadi kendala. Karena pembeli ingin pengisian daya bisa secepat atau minimal mendekati waktu pengisian BBM. Ini tentu butuh persiapan dan dukungan sejumlah pihak,” ujarnya.

Baca jugaPLN Beri Kemudahan Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia

Mobil listrik
Operation Manager BMW Astra, Teguh Widodo (kanan). (Tangkapan layar)

Baterai dan Jarak Tempuh

Rektor ITS Surabaya, Prof M. Ashari mengatakan komponen mobil listrik yang utama adalah motor (mesin) dan baterai. Saat ini ada sejumlah teknologi baterai salah satunya nikel dan itu tersedia cukup banyak di Indonesia.

“Apabila melihat perkembangannya, pada 2013 harga baterai 40 kWh untuk mobil listrik Rp400 juta. Jadi harga mobil listrik mahal. Namun seiring perkembangan teknologi, harga baterai 40 kWh pada 2020 hanya 82 juta,” jelas Ashari.

Sehingga kemungkinan besar pada 2030 harga baterai, menurut Rektor ITS, bisa semakin turun lagi. Ini tentu akan berimbas langsung pada harga mobil listrik yang lebih terjangkau konsumen. Selain itu juga butuh dukungan infrastruktur lain, seperti suplay charge yang lebih cepat waktunya.

Baca jugaInvestasi Raksasa Rp142 Triliun, Pabrik Baterai Kendaraan Listrik Bakal Berdiri di Batang

Secara riset, menurut Prof. Ashari sebenarnya sudah siap. Bahkan ITS sudah membuat mobil listrik untuk lingkungan kampus tanpa pengemudi (autonomous) yang terhubung dengan gadget.

“Yang menjadi kendala adalah jarak tempuh, harga baterai, dan ketersediaan charging station. Untuk mengatasi kendala tersebut, riset dan pengembangan terus dilakukan. Sehingga selain harga terjangkau, pembeli tidak kesulitan dalam pengisian daya dan waktu pengisian,” pungkas Prof Ashari.

Mobil Listrik
Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prof. Mochamad Ashari. (Tangkapan layar)

 

 


Editor : Profile Arif Fajar Setiadi
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

berita terpopuler

Iklan Baris

berita terkini


Cek Berita Lainnya