Resiliensi Sektor informal
Solopos.com|kolom

Resiliensi Sektor informal

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa, 4 Mei 2021. Esai ini karya Muhammad Taufik Nandito, mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyan Surakarta dan aktif di Lingkar Studi Sasadara di Kleco, Kota Solo.

Solopos.com, SOLO — Basis perekonomian yang kuat tak selalu harus mengandalkan sektor formal. Ketika peluang keterlibatan di sektor formal semakin mengecil, sektor informal akan dilirik sebagai pilihan terbaik.

Di Indonesia pembahasan sektor informal mulai mencuat sekitar tahun 1976. Istilah ini dikemukakan oleh Sethurahman melalui tulisan berjudul The Urban Informal Sector. Sethurahman menganggap lahirnya sektor informal akibat terjadinya pemusatan investasi di perkotaan/industri.

Pemusatan itu lantas menciptakan residu-residu pekerja di sekitar sektor formal dan mencari jalan keluar dalam bentuk sektor informal. Kini para pedagang atau pekerja di sektor informal, seperti pedagang kaki lima (PKL), penyedia jasa tambal ban, penjual kaus di tempat wisata, atau penjual buku di kawasan tertentu mendapat tantangan baru.

Mereka membutuhkan siasat-siasat baru agar dapat melanjutkan kehidupan. Pada masa pandemi Covid-19 sekarang, ketika kesempatan kerja di sektor formal mulai mengecil karena banyak modal terputus di tengah jalan, sektor informal di Indonesia mulai menyerap banyak pekerja.

Tantangannya adalah kendati menjadi pilihan alternatif pada waktu-waktu belakangan, ekosistem perekonomian beserta para pelaku di dalamnya juga turut menentukan keberlanjutan sektor informal. Terjadinya ledakan populasi produktif (usia 15 tahun hingga 64 tahun) dalam angkatan kerja di Indonesia akan menghadirkan kejutan-kejutan baru yang mungkin di luar perkiraan banyak pihak dalam pusaran angkatan kerja.

Terutama, yang mengkhawatirkan, ketika situasi ledakan populasi produktif atau bonus demografi itu dihadapkan dengan sektor informal adalah paradigma kerja di arus utama masih diliputi kecenderungan serba industrialis, seperti akumulasi modal, efisiensi, serta nalar kompetitif.

Semangat eksistensi sektor informal lebih bersandar pada people oriented. Semestinya semangat eksisensi mereka dipacu dengan nalar-nalar humanis yang membebaskan diri dari jerat paradigma kerja yang positivis dan bergeser ke prioritas spiritualisme kerja.

Mengesampingkan celah-celah tersebut, peluang keberlanjutan sektor informal sebenarnya tetap terbuka lebar. Peluang itu ada dalam bentuk manajemen keorganisasian yang dilandasi semangat pengelolaan yang inklusif. Itu memungkinkan terjadinya suatu inovasi padat karya yang lebih luas.

Peluang lainnya adalah era keberlimpahan informasi pada masa sekarang. Dengan keberlimpahan informasi seperti sekarang, peluang memasarkan produk sektor infomal ke dalam arus teknologi informasi juga terbuka sehingga pemasukan sektor informal dapat didongkrak dari upaya tersebut.

Ketika produk sektor informal memasuki dunia digital, para pelaku sektor informal memerlukan referensi tepat guna agar usaha mereka sejalan dengan keberlanjutan eksistensi mereka di tengah riuh rendah banjir informasi yang bertebaran di lini masa semesta digital.

Dengan sederet peluang dan persoalan yang ada di depan mata, kolaborasi punya makna penting dalam mempertahankan basis sektor informal. Kolaborasi mengutamakan kebersamaan dan tentu juga sentuhan-sentuhan psikologis yang positif.

Kolaborasi dan Kesadaran

Inisiatif Mohammad Yunus di Bangladesh dengan Grameen Bank membangkiykan optimisme di kalangan masyarakat kawasan perdesaan Bangladesh. Program pinjaman dana mikro dengan persyaratan inovasi padat karya dari Grameen Bank menggulirkan pemberdayaan masyarakat yang positif.

Berbekal semangat pemberdayaan itu pertumbuhan ekonomi perlahan-lahan terjadi dengan program pinjaman produktif dari Grameen Bank. Kemiskinan perlahan-lahan dientaskan meski tidak mengandalkan peluang dari konsentrasi investasi dari sektor formal.

Sebagaimana studi kasus Mohammad Yunus dan masyarakat di kawasan perdesaan Bangladesh, sektor informal di Indonesia sebenarnya membutuhkan sentuhan-sentuhan seperti itu. Keberadaan sosok atau lembaga yang peduli dengan pertumbuhan ekonomi berskala kecil dan padat karya sangat dibutuhkan demi kemajuan sektor informal di Indonesia.

Adanya keterhubungan modal dan interaksi sosial dalam geliat sektor informal membuka kemungkinan dukungan publik yang meluas. Dengan dukungan publik yang baik, program-program tentang pemberdayaan masyarakat diharapkan dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.

Dukungan publik yang meluas itu bisa dilihat dari studi kasus penanganan sektor informal di Kota Solo beberapa tahun yang lalu. Pada waktu itu, pedagang aksesori mobil dan motor di daerah Banjarsari hendak dipindahkan ke daerah Semanggi, Pasar Kliwon, tepatnya di Pasar Klithikan yang merupakan bekas lokalisasi Silir.

Proses pemindahan itu memakan waktu yang cukup lama, namun dengan ketekunan pada pendekatan humanis hasilnya tidak mengecewakan. Keberhasilan itu mengangkat Kota Solo sebagai salah satu kota rujukan penting dalam pengelolaan sektor informal.

Efek positif lainnya, Pasar Klithikan Notoharjo kini menjelma menjadi sentra perdagangan barang bekas yang terkenal di kancah nasional. Di sini pemangku kebijakan juga berperan penting dalam keberadaan sektor informal. Meski memang harus diakui bukan prioritas dalam parameter kebijakan perekonomian di skala makro, jika diberdayakan lebih jauh sebenarnya sektor informal turut memproses perubahan sosial yang lebih baik di tengah masyarakat.

Lantaran terkait dengan perubahan sosial yang terjadi di tengah kota sebagai kantong populasi penduduk, tata kelola ruang kota pun tak terlepas dari motif penanganan sektor informal. Pemangku kebijakan publik memaknai ruang kota juga menentukan nasib sektor informal. Jika dilihat sekilas dari tata kelola ruang kota, persebaran ruang informal memberi kesan kurang tertata.

Itu terjadi jika kepedulian terhadap sektor informal kurang intensif sebab penataan dengan nalar dan strategi humanis pada sektor informal justru menciptakan harmonisasi dalam simpul masyarakat di tengah kota.  Karena itulah, ketika orang-orang terhambat mobilitasnya dan para aktor di sektor informal mesti bergeliat lebih keras lagi, kepedulian terhadap sektor informal jadi kian mendesak pada masa pandemi ini.

Mentalitas kerja mereka yang cenderung lebih membutuhkan modal sosial ketimbang modal kapital sebenarnya lebih membutuhkan tangan-tangan humanis dalam pemberdayaan. Resiliensi sektor  informal bagaimanapun membutuhkan ruang besar pada siapa pun untuk melakukan eksperimen sosial yang bermanfaat luas.

Ruang-ruang itu dapat berbentuk seperti rekomendasi jaringan, ide atau gagasan, serta permodalan. Ekspektasinya adalah cara-cara seperti ini akan menghadirkan kultur praktik ekonomi yang sehat pada waktu yang akan datang. Dengan berbekal stimulus taktis-psikologis dan humanis dalam pengembangan sektor informal, optimisme publik ihwal perekonomian pada masa depan akan terpancar cerah.

 

 

 

 

 

 

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago