Rawa Jombor Klaten “Sekarat”
Solopos.com|soloraya

Rawa Jombor Klaten “Sekarat”

Rawa Jombor di Kecamatan Bayat, Klaten, Jawa Tengah, disebut sudah sekarat dan perlu segera direvitalisasi

Solopos.com, KLATEN — Rencana penataan dan revitalisasi Rawa Jombor di Desa Krakitan, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, segera dilakukan. Rencana yang digaugkan sejak 2016 ini mendesak direalisasikan karena kondisi Rawa Jombor “sekarat” akibat pencemaran.

Pegiat Sekolah Sungai Klaten, Arif Fuad Hidayah, menegaskan revitalisasi Rawa Jombor mendesak dilakukan. Dia mengibaratkan kondisi rawa saat ini sudah sekarat karena pencemaran yang berlangsung bertahun-tahun.

Sumber pencemaran itu berasal dari warung apung, pemancingan, hingga karamba hingga membuat eceng gondok tumbuh subur. “Pencemarannya sudah melampaui batas. Kemudian pengairannya jelek,” kata Arif kepada Solopos.com, Selasa (8/6/2021).

Baca juga: Eksis Sejak 1998, Warung Apung di Rawa Jombor Klaten Bakal Jadi Kenangan

Arif juga mengatakan tujuan utama revitalisasi adalah untuk mengembalikan fungsi rawa sebagai sumber irigasi lahan pertanian, di antaranya di wilayah Cawas, Bayat, serta Trucuk. “Setelah fungsi utama rawa itu dipenuhi, baru masuk ke fungsi lainnya seperti wisata,” kata Arif.

Menurut Arif, pihaknya bersama para sukarelawan terus bergotong royong membersihkan Rawa Jombor yang “sekarat” itu  dari sampah maupun enceng gondok. Gerakan mereka adalah gerakan sosial saja atau kepedulian lingkungan.

“Kalau revitalisasi itu dikerjakan serius, saya yakin nilai lingkungan, sosial, dan ekonomi akan terangkat. Misalnya saja, akan adanya taman kuliner Nyi Rakit di ujung timur Rawa Jombor. Saya yakin atas dukungan banyak pihak, rawa terbesar di Klaten ini bisa menjadi destinasi wisata andalan di Kabupaten Klaten. Saya dan teman-teman relawan sungai sangat mendukung program revitalisasi ini,” kata Arif seperti dikutip dari Jatengprov.go.id, Jumat (18/6/2021).

Baca juga: Lezatnya Selat Solo, Kuliner Steak Eropa Ala Jawa

Sementara itu Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabulaten Klaten, Harjaka menyampaikan, Rawa Jombor mengalami sedimentasi akibat sampah dan enceng gondok.

Keberadaan warung apung dan karamba, ditengarai menjadi faktor-faktor penting terjadinya sedimentasi dan menyebabkan elevasi atau berkurangnya cakupan luasan permukaan air.

“Tentunya juga pencemaran sampah dari air yang masuk ke rawa juga berdampak sedimen dan sampah yang luar biasa. Sehingga akan mempengaruhi volume tampungan waduk.  Hal ini yang perlu dipahami masyarakat akan pentingnya revitalisasi” ungkapnya, Senin (14/6/2021).

Proyek revitalisasi Rawa Jombor yang "sekarat" itu dilakukan pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) dengan dana senilai Rp50 miliar. Revitalisasi dilakukan dengan membersihkan rawa, mengeruk sedimentasi, membangun jalur pedestrian, dinding penahan tanah, lahan parkir, serta pelabuhan.

Baca juga: Menolak Lupa, 67.157 Warga Tergusur Demi Waduk Gajah Mungkur Wonogiri

Pro-Kontra

Meski demikian, rencana revitalisasi Rawa Jombor untuk mengembalikan fungsi aslinya sebagai sumber irigasi menuai pro dan kontra. Apalagi selama ini Rawa Jombor justru lebih dikenal sebagai objek wisata, tempat warga sekitar mengadu nasib.

Kepala Desa Krakitan, Nurdin, mengatakan kabar penataan dan revitalisasi kawasan Rawa Jombor sudah lama didengungkan. Warga selama ini mempertanyakan kelanjutan rencana tersebut seperti pembatasan kawasan karamba hingga pemindahan warung apung ke daratan.

“Karena sudah berlangsung lama dan mungkin sudah sejak 2016, pro dan kontra masih ada. Tetapi saat ini tidak seperti yang awal. Karena merasa sudah mau ditata dan dibikin lebih baik lagi ya mendukung,” kata Nurdin.

Baca juga: Petani Selo Boyolali Tanam Bawang Merah dengan Bibit Biji, Panen Perdana Hasilkan 9-10 Ton/Ha



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago