Rahasia Sukses Kudus Keluar dari Zona Merah dan Turunkan BOR Hingga 15%: Kolaborasi Semua Pihak

Kudus berhasil keluar dari zona merah persebaran Covid-19 berkat dukungan semua elemen mulai dari pemerintah, swasta hingga masyarakat.
Rahasia Sukses Kudus Keluar dari Zona Merah dan Turunkan BOR Hingga 15%: Kolaborasi Semua Pihak

Solopos.com, KUDUS – Tingkat penularan Covid-19 di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah (Jateng) sempat menjadi perhatian nasional. Meski demikian, kondisi itu lambat laun mulai membaik hingga statusnya keluar dari zona merah atau risiko tinggi persebaran Covid-19.

Bupati Kudus, H.M. Hartopo, mengaku membaiknya kondisi di Kudus tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pihak swasta dalam menanggulangi wabah Covid-19.

Sebelumnya, pada Juni 2021, Kudus bahkan ditetapkan sebagai zona merah menyusul ditemukannya penularan Covid-10 varian Delta. Total ada 2.342 kasus aktif di Kudus, dengan rata-rata kasus harian mencapai 479 orang. Positivity rate di Kudus bahkan mampu tembus 60%.

Baca Juga: Pernah Jadi Zona Merah Covid-19, Kudus Kini Teladan

Namun kondisi itu lambat laun berangsur surut. Mengutip situs resmi penanggulangan Covid-19 Kabupaten Kudus, hingga Selasa (27/7/2021), Kudus kini berstatus zona oranye atau risiko penularan Covid-19 sedang. Total kasus aktif mencapai 243 orang.

“Kami berterima kasih atas kolaborasi dan peran serta dari seluruh elemen yakni pemerintah pusat, Pemprov Jateng, TNI-Polri, ketaatan masyarakat selama PPKM Darurat dan juga pihak swasta seperti Djarum Foundation. Mereka senantiasa tanggap dalam menghadapi wabah sehingga Kudus bisa keluar dari zona merah penularan Covid-19,” ujar Bupati Kudus dalam keterangan resmi.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kudus, Badai Ismoyo, menyebutkan membaiknya kondisi Kudus bisa dilihat dari tidak adanya desa yang berstatus zona merah. Selain itu, pulihnya kondisi Kudus bisa dilihat dari tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit yang kian hari kian menurun.

“Tingkat keterisian tepat tidur rumah sakit saat ini turun menjadi 15%. Dari yang semula nyaris 100% penuh di bulan Juni. Sementara untuk keterisian ruang ICU, turun hingga 60% dari total 66 ruangan yang tersedia,” jelas Badai.

Turunnya tingkat keterisian tempat tidur rumah sakit tak lepas dari campur tangan pihak swasta, seperti Djarum Foundation.

PCR Test

Djarum Foundation bahkan turut memberikan bantuan berupa 300 unit Hospital Bed Paramount Bed 3 Crank ke beberapa rumah sakit. Tak hanya itu, Djarum Foundation juga memberikan donasi berupa peralatan PCR test agar angka positivity rate turun.

Direktur RSUD Loekmono Hadi, dr. Abdul Aziz Achyar, mengatakan pemberian bantuan alat PCR Test tersebut sangat membantu proses testing dan tracing bagi warga Kudus.

Baca Juga: Pandemi, Komunitas Tionghoa Semarang Beri Sembako ke Jurnalis

“Penanggulangan Covid-19 di Kudus tak lepas dari dilaksanakannya tracing, testing dan treatment (3T) yang baik. Oleh karena itu, bantuan tambahan mesin PCR dari Djarum Foundation menjadi kunci utama sehingga proses 3T menjadi lebih cepat,” ujar Aziz.

Selain peralatan PCR test, RSUD Loekmono Hadi juga menerima bantuan alat terapi oksigen High Flow Nasal Cannula (HFNC). Alat ini berfungsi memberikan suplai oksigen bagi para penderita Covid-19 yang mengalami gangguan pernapasan.


Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago