top ear
Para petani yang tergabung dalam KTNA Sragen beraudiensi dengan Bupati Sragen Yuni Sukowati di ruang rapat Kantor Dinas Bupati Sragen, Kamis (23/1/2020). (Solopos/Tri Rahayu)
  • SOLOPOS.COM
    Para petani yang tergabung dalam KTNA Sragen beraudiensi dengan Bupati Sragen Yuni Sukowati di ruang rapat Kantor Dinas Bupati Sragen, Kamis (23/1/2020). (Solopos/Tri Rahayu)

Pupuk Subsidi Minim, Petani Sragen Desak Bupati Surati Presiden

Petani-petani di Sragen mengelahkan minimnya pupuk bersubsidi.
Diterbitkan Jumat, 24/01/2020 - 21:00 WIB
oleh Solopos.com/Tri Rahayu
3 menit baca

Solopos.com, SRAGEN — Para petani yang tergabung dalam Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sragen mendatangi Kantor Dinas Bupati Sragen untuk beraudiensi terkait dengan minimnya alokasi pupuk bersubsidi pada 2020, Kamis (23/1/2020).

KTNA mendesak Bupati supaya menyurati presiden agar alokasi pupuk bersubsidi ditambah, menaikan harga eceran tertinggi (HET) pupuk, atau pencabutan subsidi pupuk daripada ramai di tingkat petani.

Kabar Duka: Mantan Bupati Boyolali Sri Moeljanto Meninggal Dunia

Kedatangan para petani di bawah koordinasi Ketua KTNA Sragen Suratno diterima langsung Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati di Ruang Rapat Bupati Sragen. Dalam penerimaan KTNA, Bupati juga didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan Ketapang), Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sragen, serta sejumlah produsen pupuk Indonesia.

“Alokasi pupuk bersubsidi itu memang kebijakan pusat tetapi dampaknya langsung dirasakan petani. Alokasi untuk urea masih kurang 10.259 ton, SP36 masih kurang 9.621 ton, ZA pun kurang 2.755 ton, dan NPK kurang 9.655 ton. Atas dasar itulah, KTNA mendesak Bupati untuk meminta tambahan alokasi kepada pemerintah pusat sesuai dengan kebutuhan petani di Sragen,” ujar Suratno dalam audiensi tersebut.

Suratno menyampaikan alternatif solusi lain, yakni dengan pengalihan atau pengurangan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) untuk pupuk bersubsidi. Alternatif ketiga yang ditawarkan Suratno, kebijakan subsidi hanya untuk pupuk tunggal, yakni pupuk majemuk dengan formula yang disesuaikan dengan kebutuhan tanaman. Dia mengatakan pada alternatif ketiga itu hanya subsidi untuk pupuk urea, SP36, dan ZA yang dialihkan untuk subsidi NPK dengan formula yang berbeda.

“Kalau tiga alternatif itu tidak direspons pemerintah pusat, maka bisa diusulkan alternatif menaikan HET pupuk sehingga mengurangi subsidi pupuk. Sisa subsidi itu diberikan untuk penambahan pupuk non subsidi. Kemudian untuk alternatif terkahir ya subsidi pupuk itu dihapus saja sekalian dan diganti dengan program yang berpihak kepada petani langsung,” jelas Suratno.

Suratno menjelaskan dengan alokasi yang terbatas itu berdampak pada harga pupuk bersubsidi yang melebihi HET di sejumlah pengecer tidak resmi. Suratno mendapat laporan bila harga pupuk NPK bisa tembus Rp150.000-Rp200.000/sak padahal HET-nya hanya Rp115.000/sak.

Tajamnya Ronaldo, 7 Gol Dalam 4 Laga

Kepala Distan Ketapang Sragen Eka Rini Mumpuni mengatakan pengurangan bantuan alsintan jelas tidak bisa karena masih banyak proposal permohonan alsintan ke Distan Ketapang. Eka mengakui bila alokasi pupuk bersubsidi pada 2020 anjlok bila dibandingkan dengan alokasi 2019. Padahal Eka mengaku sudah mengajukan usulan kuota pupuk sesuai kebutuhan petani yang tercantum dalam rencana definitif kebutuhan kelompok (RDKK) elektronik.

Sementara itu, Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati menyanggupi desakan KTNA untuk segera berkirim surat ke pemerintah pusat. Namun sebelum berkirim pusat, Bupati meminta Distan Ketapang untuk mengkaji persoalan kekurangan pupuk bersubsidi itu sebagai dasar dalam pengajuan surat ke pemerintah pusat.

Yuni, sapaan Bupati, menampung semua masukan baik dari dinas maupun dari produsen maupun KTNA sebagai pertimbangan dalam pengambilan langkah berikutnya. Bupati kemungkinan akan menyampaikan persoalan itu kepada Menteri Pertanian yang rencana berkunjung ke Sragen pada Februari 2020 mendatang.

Editor : Profile Ahmad Baihaqi
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja

Iklan Baris

berita terkait