Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Punya Daya Tarik, 27 Desa di Klaten Ditetapkan Jadi Desa Wisata

Sebanyak 27 desa di Kabupaten Klaten ditetapkan menjadi desa wisata dengan potensi masing-masing.
SHARE
Punya Daya Tarik, 27 Desa di Klaten Ditetapkan Jadi Desa Wisata
SOLOPOS.COM - Candi Plaosan, salah satu daftar virtual tour di JOGJA360.net (Instagram/@candiplaosan)

Solopos.com, KLATEN – Puluhan desa di Kabupaten Klaten berkembang menjadi desa wisata. Salah satu desa wisata yakni Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan yang masuk 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2022.

Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Klaten, Sri Nugroho, mengatakan total desa wisata yang sudah mendapatkan surat keputusan (SK) bupati yakni 27 desa. Desa tersebut tersebar di sejumlah kecamatan dengan memiliki potensi wisata yang beragam mulai dari wisata tirta, budaya, hingga panorama alam.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

Terkait dukungan guna pengembangan desa wisata, Nugroho mengatakan dilakukan melalui kolaborasi dengan desa.

“Kami kolaborasi tentunya diawali dengan pelatihan-pelatihan untuk mendukung sumber daya manusia desa wisata,” kata Nugroho, Selasa (5/7/2022).

Baca Juga: Warga Grobogan Tertangkap Tangan Curi Uang Kotak Amal di Masjid Klaten

Sebelumnya, Bupati Klaten, Sri Mulyani, berharap jumlah desa wisata di Kabupaten Bersinar terus bertambah. Dia menjelaskan selama ini sudah ada dukungan dari pemerintah untuk pengembangan desa wisata.

Mulyani mengatakan sebelum ada pandemi Covid-19 setiap tahun ada bantuan yang digulirkan ke desa untuk pembinaan desa wisata. Nilai bantuan yang digulirkan Rp200 juta.

“Karena ada pandemi, alokasi anggaran dialihkan untuk penanganan Covid-19. Nanti akan kami lihat desa mana yang akan kami dukung kembali. Ini juga tergantung keseriusan dari kepala desa dan Pokdarwis mengembangkan wisata di wilayah mereka,” kata Mulyani.

Baca Juga: Eksotis & Instagramable! Ini Rekomendasi Pantai di Pacitan yang Bagus

Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan merupakan salah satu desa yang ditetapkan menjadi salah satu desa wisata di Klaten. Desa tersebut masuk 50 besar desa wisata terbaik di Indonesia pada ajang ADWI 2022.

Daya Tarik Bugisan

Kepala Desa (Kades) Bugisan, Heru Nugroho, mengatakan salah satu daya tarik di Bugisan yakni panorama Candi Plaosan. Hanya saja, Candi Plaosan berada di wilayah ring 1 di bawah pengelolaan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).

Untuk mendukung pesona Candi Plaosan, pemerintah Desa Bugisan memoles kawasan di sekeliling candi dengan mengembangkan berbagai atraksi wisata. “Yang jelas view Candi Kembar [Candi Plaosan] itu tidak ada duanya. Kami memoles di samping-sampingnya saja. Dengan wisata di sekitarnya itu harapan kami wisatawan bisa berlama-lama di sekitar Candi Plaosan,” kata Heru.

Baca Juga: Pengumuman! CFD di Jl Mayor Kusmanto Klaten Libur pada Minggu 10 Juli

Heru menjelaskan kawasan di sekeliling Candi Plaosan dibuat menjadi kampung budaya Candi Plaosan.

“Ada kesenian Pring Sedapur, satu-satunya alat musik yang terbuat dari bambu dan diolah Mbah Tikno [warga Bugisan] yang kini berumur 85 tahun. Kemudian ada karawitan, gejok lesung, jatilan, tarian Sorak Gumyak Bugisan. Wisatawan bisa memainkan alat-alat gamelan,” kata Heru.

Selain seni dan budaya, pengunjung bisa menikmati sajian kuliner serta kerajinan dari Bugisan. Dia mencontohkan seperti sega liwet serta makanan olahan dari pepaya yang dibuat menjadi nugget, stik, dan lain-lain. Ada pula Bakpia Mutiara yang diproduksi di Bugisan. Sementara, produk UMKM di Bugisan salah satunya yakni batik ecoprint.

Baca Juga: Sakjose! Bugisan Klaten Masuk 50 Besar Desa Wisata Terbaik Nasional

Saat mengunjungi Bugisan pekan lalu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI, Sandiaga Salahudin Uno, mengunjungi Bugisan. Dalam kunjungan itu, Sandiaga tertarik dengan produk batik ecoprint bikinan warga Bugisan. Sandiaga menilai produk batik ecoprint layak go internasional.

Sementara itu, guna mendukung pengembangan potensi wisata di Bugisan, warga dan pemerintah desa mengelola sampah secara mandiri. Pengelolaan sampah itu dilakukan melalui TPS3R serta penerapan sejumlah aturan yang berisi larangan membuang sampah sembarangan. “Kebersihan menjadi salah satu dari Sapta Pesona. Alhamdulillah Bugisan sekarang bisa mandiri mengelola sampah,” kata Heru.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode