Puluhan PKL Kartini Sragen Cari Pinjaman Untuk Bangun Selter

Selter-selter dibangun dengan dana patungan dari para pedagang kaki lima (PKL) yang terdata untuk menempati pusat PKL itu.
Puluhan PKL Kartini Sragen Cari Pinjaman Untuk Bangun Selter
SOLOPOS.COM - Selter berdiri di Pusat PKL Taman Kartini di Jl. R.A. Kartini, Sragen, Rabu (17/3/2021). (Solopos-Tri Rahayu)

Solopos.com, SRAGEN -- Puluhan selter pedagang kaki lima atau PKL sudah berdiri di Taman Kartini yang terletak di pinggir Jl. R.A. Kartini Sragen. Selter itu berdiri dengan tiang alumunium dan atap galvalum.

Selter itu membujur membentuk letter U, yakni di sebelah barat, utara, dan timur lahan yang menjadi pusat PKL di Sragen itu. Selter-selter dibangun dengan dana patungan dari para pedagang kaki lima (PKL) yang terdata untuk menempati pusat PKL itu.

“Banyak pedagang yang mencari pinjaman untuk membangun selter itu karena mendengar ada dana CSR. Semula direncanakan 74 pedagang oleh Pemkab Sragen tetapi lokasinya tidak memungkinkan, sehingga hanya bisa menampung 53 PKL. Setiap PKL iuran Rp1,5 juta per orang dari dana pinjaman untuk membangun selter itu. Selain itu, kami juga menambah jaringan listrik juga. Awalnya kami mengejar bisa diresmikan Bupati pada Sabtu (6/3/2021) lalu tetapi PPKM diperpanjang sehingga urung,” ujar Ketua Forum Masyarakat Sragen (Formas) Andang Basuki saat berbincang dengan wartawan di Gedung DPRD Sragen, Rabu (17/3/2021).

Baca juga: 30 Pejabat Eselon III Sragen Dilatih Kepemimpinan Tingkat Administrator

Dengan iuran PKL senilai Rp1,5 juta per orang itu maka nilai selter yang dibangun sebanyak 53 selter itu setara dengan Rp79,5 juta. Munculnya dana corporate social responsibility (CSR) senilai Rp49,5 juta diharapkan untuk membantu menutup pinjaman yang digunakan untuk pembangunan selter itu.

“Nah, dana CSR itu sampai hari ini [Rabu] belum diterima pedagang. Sebenarnya dana CSR itu tidak cukup untuk membangun selter. Sehingga kekurangan menjadi beban para PKL dari pijaman. Repotnya apa untuk mencairkan dana CSR itu. Yang jelas pedagang ingin segera berjualan tetapi kesannya untuk mendapatkan dana CSR kok dipersulit. Masa untuk mencairkan dana CSR itu harus menunggu koperasi berbadan hukum dulu, sementara kami baru membentuk kepengurusan,” ujar Andang.

Andang mendukung program Bupati. Andang menginginkan aspek sosial para PKL ini juga dipertimbangkan. Dia mengungkapkan ada PKL yang mencari pinjaman ke bank ternyata sampai sekarang pinjaman belum keluar.

Baca juga: Mengenang Mendiang Suji Mentir Sragen, Suara Serak yang Justru Digandrungi Penggemar

Dia menyebut ada PKL yang bisa pinjam ke bank tetapi sudah dipotong biaya administrasi dan angsuran satu bulan. “Kami, pedagang, ini belum berjualan tetapi sudah dibebani. Mohon ini jadi pertimbangan,” katanya.

Sebanyak 53 PKL itu berasal dari empat paguyuban yang melebur menjadi Paguyuban Pedagang Selter Kartini (Paguyuban Gang Sekar). Empat paguyuban itu terdiri atas Paguyuban PKL Formas, Paguyuban Ngupaya Upa Alun-alun, Paguyuban PKL Pasar Kota, dan Paguyuban PKL Mas Karebet depan KPU lama.

Kebebasan untuk Kredit

Perwakilan PKL lainnya, Sumardi, meminta pencairan dana CSR itu jangan dipersulit. Selain itu, Sumardi meminta PKL diberi kebebasan untuk kredit di bank mana pun dan tidak terikat dengan adanya dana CSR itu.

“Kami di PKL ini berbeda dengan pedagang di Sentra Kuliner Veteran Katamso yang sudah dibangunkan tempatnya. Kami ini swadaya pedagang untuk membangun selter,” jelasnya.

Baca juga: Duh! Gara-Gara Dana CSR Rp49,5 Juta, PKL Dan Sekda Sragen Sampai Bersitegang

Ketua DPRD Sragen Suparno menyampaikan Pemkab siap mencairkan dana CSR itu sepanjang persyaratan administrasi terpenuhi. Dia meminta PKL bisa menindaklanjutinya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Sragen Tatag Prabawanto menyampaikan para PKL itu harus menjadi anggota koperasi untuk mewujudkan visi dan misi Bupati 2021-2026 karena nanti ada bantuan Rp10 miliar untuk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Bantuan Rp10 miliar itu, kata dia, harus lewat wadah koperasi.

“Koperasi sudah ada tetapi PKL belum menjadi anggota koperasi sehingga dana CSR belum diberikan. Dengan wadah koperasi itu bisa menjadi jaminan bagi PKL ketika kredit ke perbankan. Hal ini sebenarnya membantu PKL,” ujarnya.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago