Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Presiden Ukraina: Kami Pertahankan Ibu Kota Kiev Sampai Mati

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan pasukan Rusia bahwa mereka akan menghadapi pertempuran sampai mati jika berusaha menduduki ibu kota Kiev.
SHARE
Presiden Ukraina: Kami Pertahankan Ibu Kota Kiev Sampai Mati
SOLOPOS.COM - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (Times of Israel)

Solopos.com, LVIV — Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan pasukan Rusia bahwa mereka akan menghadapi pertempuran sampai mati jika berusaha menduduki ibu kota Kiev.

“Jika mereka memutuskan untuk menjatuhkan ‘karpet bom’ (pengeboman besar-besaran dari udara) dan menghapus sejarah daerah ini, menghancurkan kami semua, maka mereka bisa memasuki Kiev. Jika itu tujuan mereka, biarkan mereka masuk, tapi mereka akan hidup sendiri di tanah ini,” kata Zelenskyy, seperti dikutip Solopos.com dari Antara, Minggu (13/3/2022).

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Presiden yang kerap tampil di media sosial dari ibu kota itu mengatakan sejumlah kota kecil sudah tidak ada lagi.

Invasi Rusia di Ukraina–agresi militer terbesar terhadap sebuah negara Eropa sejak Perang Dunia Kedua–kini telah memasuki pekan ketiga.

Baca Juga: Rusia Klaim Hancurkan 1.007 Tank dan 2.998 Fasilitas Militer Ukraina

Pengeboman dari udara telah membuat ribuan warga terjebak di kota-kota yang terkepung oleh pasukan Rusia. Jumlah warga Ukraina yang mengungsi ke negara-negara tetangga mencapai 2,5 juta orang.

Pada Sabtu Ukraina menuduh pasukan Rusia membunuh tujuh warga sipil dalam serangan terhadap pengungsi perempuan dan anak-anak di dekat Kiev.

Dinas intelijen Ukraina melaporkan bahwa ketujuh warga itu, termasuk seorang anak, tewas ketika mengungsi dari desa Peremoha dan bahwa “penjajah memaksa rombongan pengungsi untuk kembali”.

Kantor berita Reuters belum dapat memverifikasi laporan itu dan Rusia tidak berkomentar.

Baca Juga: Jika NATO Tak Bertindak, Invasi Rusia Bisa Jadi Bencana Nuklir

Moskow membantah menjadikan warga sipil target serangan mereka sejak menginvasi Ukraina pada 24 Februari. Mereka menyalahkan Ukraina atas kegagalan mengevakuasi warga sipil dari kota-kota yang terkepung. Ukraina dan negara-negara Barat menolak keras tuduhan itu.

Zelenskyy mengatakan Moskow sedang mengirim tentara baru setelah pasukan Ukraina melumpuhkan 31 batalion taktis Rusia, yang disebutnya sebagai kekalahan militer Rusia terbesar dalam beberapa dekade. Reuters tidak bisa memverifikasi pernyataannya itu.

“Kami masih harus bertahan. Kami masih harus berjuang,” kata Zelenskyy dalam video, Sabtu waktu setempat.

Dia mengatakan sekitar 1.300 tentara Ukraina telah tewas dan mendesak Barat untuk lebih terlibat dalam negosiasi damai.

Baca Juga: Perang Energi di Tengah Kegagalan Kampanye Rusia di Ukraina

Amerika Serikat mengatakan akan menambah bantuan hingga 200 juta dolar (Rp2,87 triliun) dalam bentuk senjata ringan, anti tank dan anti pesawat bagi Ukraina. Para pejabat Ukraina sebelumnya telah meminta bantuan militer lebih banyak.

Zelenskyy membahas situasi perang dengan Kanselir Jerman Olaf Scholz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron, yang mendesak Putin untuk memerintahkan gencatan senjata segera.

Menanggapi pembicaraan itu lewat sebuah pernyataan, Kremlin sama sekali tidak menyebut gencatan senjata.

Pejabat kepresidenan Prancis mengatakan, “Kami tidak melihat adanya niat dari pihak Putin untuk mengakhiri perang.”

Baca Juga: Hidup di Bawah Tanah, Wanita Ukraina Ini Viral di Tiktok

Wakil Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Ryabkov menuduh AS berupaya menambah ketegangan. Dia mengatakan situasinya menjadi semakin rumit oleh konvoi bantuan militer Barat ke Ukraina. Konvoi bantuan itu dianggap oleh Rusia sebagai target (serangan) yang sah.

Dalam komentarnya yang dikutip kantor berita Tass, Ryabkov tidak menyebut satu pun ancaman secara spesifik. Serangan apa pun terhadap konvoi seperti itu sebelum mencapai Ukraina akan berisiko memicu perang yang lebih luas.

Pembicaraan krisis antara Moskow dan Kiev telah dilanjutkan lewat panggilan video, kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov seperti dikutip kantor berita Rusia RIA.

Peskov tidak memberikan rincian tapi Menlu Ukraina Dmytro Kuleba mengatakan Kiev tak akan menyerah atau menerima ultimatum apapun.




Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode