PPKM Level 3 Batal, Ini Tanggapan Pakar Epidemiologi

Pakar epidemiologi asal Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, memberikan tanggapan atas keputusan pemerintah yang batal menerapkan PPKM Level 3 secara nasional.
PPKM Level 3 Batal, Ini Tanggapan Pakar Epidemiologi
SOLOPOS.COM - Epidemiolog Griffith University, Australia, Dicky Budiman. (Dok Solopos.com)

Solopos.com, JAKARTA — Pemerintah telah membatalkan rencana penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat atau PPKM Level 3 secara nasional pada masa libur Natal 2021 dan Tahun Baru 2022. Pakar epidemiologi dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman, menilai alasan pemerintah membatalkan PPKM level 3 tersebut dinilai kurang tepat mengingat krisis pandemi Covid-19 akibat varian Delta belum selesai, ditambah lagi dengan munculnya varian baru, Omicron.

“Kalau pembatalannya sesuai dengan leveling PPKM ya tetap berlaku dengan PPKM sih enggak masalah. Hanya yang perlu diperhatikan adalah alasannya ini menurut saya kurang kuat,” kata Dicky, Selasa (7/12/2021).

Selain itu, pemerintah juga hanya melihat cakupan vaksinasi di Jawa-Bali saja untuk membatalkan rencana PPKM Level 3 Nasional, sementara vaksinasi di pulau lain masih kurang.

Baca juga: Pemerintah Batalkan PPKM Level 3, Pemkot Jogja Tetap Lakukan Pengetatan

“Capaian vaksinasi ini hanya di Jawa-Bali. Kita belajar dari kasus omicron di Afrika Selatan. Kesetaraan vaksin membuat lahir omicron di Afsel, ini bisa terjadi di Indonesia,” ujarnya, dilansir dari Suara.com.

Oleh sebab itu dia meminta pemerintah untuk benar-benar meningkatkan performa 3T (testing, tracing, dan treatment), 5M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan menjaga mobilitas), serta pemerataan vaksinasi tetap harus dikebut jelang libur Natal dan Tahun Baru.

“Memang saya tidak setuju PPKM diterapkan semuanya, tapi itu bukan berarti tidak boleh ada pembatasan,” tegas Dicky.

Diketahui, pemerintah membatalkan rencana PPKM Level 3 Nasional pada masa libur natal dan tahun baru.

Baca juga: Pakar Epidemiologi UI: Kasus Corona di Indonesia Muncul Sejak Januari 2020

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marivest), Luhut Binsar Pandjaitan, menjelaskan alasan pertama adalah hasil survei surveilans yang dilakukan Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah banyak memiliki antibodi alamiah karena terinfeksi Covid-19 dan sembuh.

Kedua, capaian vaksinasi di Jawa-Bali sudah mencapai 76 persen untuk dosis pertama dan 56 persen untuk dosis kedua. Sementara pada Nataru tahun lalu belum banyak warga yang menerima vaksin Covid-19.

Kemudian, penambahan kasus harian Covid-19 masih terkendali rata-rata 400 kasus per hari, akselerasi vaksinasi, dan upaya 3T terus membaik dalam sebulan terakhir. Keempat, vaksinasi lansia akan terus digenjot hingga saat ini mencapai 64 dan 42 persen untuk dosis 1 dan 2 di Jawa Bali.


Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago