Pompa Angguk dan Jejak Sanga-Sanga yang Pernah Tenar hingga Eropa

Jejak kejayaan Sanga-Sanga sebagai penghasil minyak bumi di Bumi Etam masih terlihat jelas hingga kini. Salah satunya lewat pompa angguk.
Pompa Angguk dan Jejak Sanga-Sanga yang Pernah Tenar hingga Eropa

Solopos.com, SOLO — Sanga-Sanga adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Lokasinya berada di Delta Mahakam. Nama kecamatan ini menjadi perbincangan hingga seantero Nusantara hingga Eropa setelah penemuan sumur minyak Louise pada 1897.

Nama Sanga-Sanga mulai diberitakan di media ekonomi Eropa sejak ditandatanganinya perjanjian antara Belanda dan Kerajaan Kutai Kartanegara pada  19 Oktober 1850.

Pada 1897 wilayah ini mulai banyak dikenal luas karena kekayaan minyak bumi yang tidak kalah dari wilayah lain di Nusantara. Hal ini tergambarkan dari kedalaman sumur minyak yang bervariasi.

Ada mulai dari kedalaman 47 meter hingga mencapai 1.200 meter. Meski sudah dilakukan pengeboran minyak sejak masa pemerintah Kolonial Hindia-Belanda, sumur-sumur minyak yang ada di wilayah ini masih terus berproduksi hingga saat ini.

Sumur minyak bumi di Sanga-Sanga pun disejajarkan dengan sumur Mathilde di Balikpapan. Ini menjadikan Sanga-Sanga memiliki peran besar sebagai daerah penghasil migas di Kalimantan Timur.

Baca Juga: Pemerintah Beri Bansos untuk PKL, Warung Kecil dan Warteg Senilai Rp1,2 Juta, Ini Syaratnya!

Awalnya, kecamatan dengan lima desa ini masuk wilayah Kota Samarinda. Sejak 1987, Sanga-Sanga menjadi bagian dari Kabupaten Kutai dan kini berada di wilayah Kutai Kartanegara.

Jejak kejayaan Sanga-Sanga sebagai penghasil minyak bumi di Bumi Etam masih terlihat jelas hingga kini. Salah satunya lewat pompa angguk. Sebagaimana dikutip dari laman Ditjen Kebudayaan Kemendikbud, beberapa waktu lalu, Situs Pompa Angguk ini merupakan sebuah struktur yang terbuat dari kayu ulin berdiameter 30 cm.

Pompa Angguk merupakan mesin untuk memompa minyak bumi menuju permukaan. Tenaga pendorongnya berupa gas yang berasal dari sumurnya yang kemudian memutar mesin untuk mendapatkan gaya, untuk membuat tangkainya ”mengangguk” sehingga keluarlah minyak bumi.

Prinsip kerjanya seperti vacuum untuk menyedot minyak bumi yang memiliki kedalaman lebih dari 1 Km. Pada masa 1940-an, Pompa Angguk ini dapat mengeluarkan hingga 560 barrel minyak per hari.

Rumah Penjara

Sejarah Sanga-Sanga juga tidak bisa dilepaskan dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Peristiwa heroik di Sanga-Sanga terjadi pada 27 Januari 1947 yang kemudian dikenal dengan Peristiwa Merah Putih.

Baca Juga: Warga Jateng Malas Buka Jendela Rumah? Padahal Bisa Cegah Penyebaran Corona

Sisa-sisa cerita perjuangan masa lalu bisa dilihat dari Rumah Penjara Sanga-Sanga. Laman Ditjen Kebudayaan Kemdikbud menyebut Rumah Penjara ini pada masa lalu dipaksa untuk menampung puluhan orang dalam satu ruangan.

Menurut keterangan salah satu informan di sekitar situs, bangunan Rumah Penjara ini dulunya pada bagian dinding terdapat kawat besi yang dialiri listrik untuk mencegah para tahanan melarikan diri.

Pada halaman depan, dapat dijumpai sebuah sumur kuno yang diperkirakan sezaman dengan keberadaan Rumah Penjara Sanga-Sanga.

Bekas Rumah Penjara ini merupakan sebuah bangunan panggung yang memiliki 6 ruangan penjara yang sempit. Bangunan Rumah Penjara ini menggunakan bahan kayu ulin dengan kualitas terbaik. Ini pula yang menjadikan tempat itu juga sering disebut Penjara Ulin.

Masing-masing ruangan memiliki ukuran 1,2 x 1,5 m dengan sebuah pintu serta dua buah ventilasi udara yang berteralis besi pada bagian atas pintu dan sisi belakang belakang.

Baca Juga: Ada di Indonesia, Ini Keunikan Gunung Api Bawah Laut Tertinggi di Dunia

Penjara Ulin ini digunakan pada masa pemerintahan kolonial Hinda-Beland hingga pada masa pendudukan Jepang dan masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan pada 1947.


Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago