top ear
Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak (Istimewa-Humas Polresta Solo)
  • SOLOPOS.COM
    Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak (Istimewa-Humas Polresta Solo)

Polisi Periksa 13 Saksi Kasus Penganiayaan 3 Anggota PSHT di Solo

13 Saksi yang diperiksa itu merupakan warga yang diidentifikasi di tempat kejadian perkara (TKP) serta saksi korban.
Diterbitkan Jumat, 2/10/2020 - 12:07 WIB
oleh Solopos.com/Ichsan Kholif Rahman
2 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Jajaran Satreskrim Polresta Solo telah memeriksa 13 saksi terkait penganiayaan tiga orang pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT oleh orang tidak dikenal di Mojosongo pada Selasa (15/9/2020) lalu.

Jajaran Polresta Solo membentuk tim khusus di-back up Polda Jateng untuk segera mengungkap pelaku penganiayaan anggota PSHT yang saat beraksi menutup wajahnya itu.

Kapolresta Solo Kombes Pol Ade Safri Simanjuntak saat dijumpai wartawan di sela-sela kegiatannya pada Jumat (2/10/2020), menyampaikan kepolisian terus bekerja pagi, siang, dan malam untuk segera mengungkap pelaku penganiayaan.

Gedung Menara Wijaya Sukoharjo Tutup 3 Hari

Menurutnya, 13 saksi yang diperiksa itu merupakan warga yang diidentifikasi di tempat kejadian perkara (TKP) serta saksi korban.

"Ada tambahan saksi lima orang jadi total 13 orang saksi kami periksa. Beberapa barang bukti yang kami identifikasi dianalisa tim IT," ujar Kapolresta Solo.

Menurut Ade Safri, jajaran Polresta Solo berkoordinasi secara efektif dengan Polres Sukoharjo.

Memberikan Informasi ke Kepolisian

Hal itu dikarenakan ada dua kejadian penganiayaan anggota PSHT dengan kurun waktu yang hampir sama dan cara hampir sama.

Pandemi Bikin Pilkades Serentak Boyolali Terombang-Ambing

"Seluruh yang terkait dengan kejadian saat itu sudah kami identifikasi. Saat ini sedang dianalisa. TKP Mojosongo ada tiga korban dan Makamhaji ada dua korban. Pada intinya, kami profesional," papar Kapolresta Solo.

Ia menambahkan jika masing-masing kelompok ingin berkontribusi dalam kasus ini dapat memberikan informasi ke kepolisian.

Namun, Kapolresta menegaskan penegakan hukum hanya kepolisian yang berkewenangan.

Pasar Lesu Akibat Pandemi, Perajin Batik Kebon Klaten Andalkan Tabungan

Sehingga, jangan sampai ada lagi pengerahan massa di tengah pandemi Covid-19 karena hal itu sangat rentan.

"Apabila ada kerumunan kami akan bertindak tegas. Preventif tentu kami utamakan, kalau diimbau masih tidak mau kami akan gunakan penegakan hukum secara undang-undang untuk memutus rantai Covid-19," imbuh Kapolresta.


Editor : Profile Rohmah Ermawati
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini