top ear
Kulanuwun Wiwaha Aji Santosa (Solopos/Whisnupaksa)
  • SOLOPOS.COM
    Kulanuwun Wiwaha Aji Santosa (Solopos/Whisnupaksa)

Pilkada Sukoharjo: Wiwaha Berkomitmen Depolitisasi Birokrasi

Kulanuwun Solopos menghadirkan wawancara dengan Wiwaha Aji Santosa.
Diterbitkan Selasa, 7/01/2020 - 10:13 WIB
oleh Solopos.com/R Bony Eko Wicaksono
2 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Konstelasi politik menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) Sukoharjo kian panas. Figur potensial yang muncul tak hanya berasal dari kader partai politik melainkan tokoh masyarakat.

Berikut wawancara wartawan Solopos, Bony Eko Wicaksono, dengan salah satu bakal calon Bupati Sukoharjo, Wiwaha Aji Santosa.

Latarbelakang Anda adalah guru dan pengurus organisasi kemasyarakatan, mengapa tertarik ikut kontestasi politik di Sukoharjo?

Saya senang membina anak muda. Ada kekhawatiran kalangan muda dengan kondisi di daerahnya. Saya ingin membawa nilai-nilai kebenaran dengan membawa perubahan lewat kekuasaan yakni mengembalikan hak-hak rakyat di bidang politik.

Bagaimana peluang maju lewat koalisi partai politik?

Ada empat partai yang serius mendekati saya menjelang pilkada yakni PAN, Partai Gerindra, PPP, dan PKS. Namun, ada perubahan dinamika politik nasional maupun daerah. Jujur saja, ada kekhawatiran para sukarelawan jika maju lewat partai. Mereka meminta saya agar maju lewat jalur perseorangan atau independen. Saya pun siap mengemban amanah dari para sukarelawan.

Wiwaha Aji Santosa (Solopos-R. Bony Eko Wicaksono)
Wiwaha Aji Santosa (Solopos-R. Bony Eko Wicaksono)

Mengapa memilih maju sebagai calon bupati lewat jalur independen?

Ada semangat kesetiakawanan sosial para sukarelawan. Mereka bergotong royong mendirikan posko pengumpulan kartu tanda penduduk (KTP). Acara deklarasi calon independen juga dibiayai para sukarelawan. Saya hanya mengeluarkan uang Rp300.000 untuk menyewa kursi.

Persyaratan dukungan masyarakat untuk calon independen dinilai cukup berat. Bagaimana tanggapan Anda?

Jumlah pengumpulan KTP sebanyak 27.000 lembar pada Oktober 2019. Saat itu, pengumpulan KTP dihentikan karena saya diajak ikut mendaftar penjaringan calon partai politik. Sekarang sukarelawan yang tersebar di 167 desa/kelurahan kembali mengumpulkan KTP sebagai dukungan masyarakat.

Bagaimana tanggapan Anda terkait biaya politik?

Saya belum pernah membiayai pengumpulan KTP. Tidak ada imbalan dalam pengumpulan KTP. Silakan dicek kebenarannya. Masyarakat rela merogoh kocek untuk membiayai fotokopi KTP. Jalur independen lebih hemat dan efisien. Pilkada memang butuh uang namun sebatas untuk sosialisasi dan membayar saksi. Bukan untuk kepentingan lainnya.

Wiwaha Aji Santosa (kanan) berbagi kisah dan pengalaman secara on air bersama penyiar SoloposFM, Yanto Martono, Senin (6/1/2020). (Solopos-R. Bony Eko Wicaksono)
Wiwaha Aji Santosa (kanan) berbagi kisah dan pengalaman secara on air bersama penyiar SoloposFM, Yanto Martono, Senin (6/1/2020). (Solopos-R. Bony Eko Wicaksono)

Bagaimana peluang jalur independen melawan mesin politik dalam Pilkada Sukoharjo?

Semua sudah diatur oleh Allah SWT. Saya hanya berusaha sekuat tenaga dan pikiran untuk menjalankan amanah masyarakat. Saya juga minta agar para sukarelawan menghargai perbedaan dalam pembangunan demokrasi.

Apa program unggulan yang Anda tawarkan kepada masyarakat?

Sumber kecemburuan dan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah karena politisasi birokrasi. Saya ingin memberlakukan depolitisasi birokrasi di kalangan aparatur sipil negara (ASN). Mereka tak perlu diseret-seret dalam politik praktis. Saya ingin membebaskan para pegawai negeri sipil (PNS) dari tekanan politik. Ini komitmen saya jika diberi amanah oleh rakyat untuk memimpin Sukoharjo.

Editor : Profile Rohmah Ermawati
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja

Iklan Baris

berita terkini