Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Peti Mati Berbahan Rotan dari Sukoharjo Laris Manis di Belanda dan Inggris

Peti mati berbahan rotan karya pengrajin Sukoharjo laris manis di pasar ekspor karena dianggap unik dan ramah lingkungan.
SHARE
Peti Mati Berbahan Rotan dari Sukoharjo Laris Manis di Belanda dan Inggris
SOLOPOS.COM - Pekerja membuat peti mati berbahan dasar rotan di Gesingan RT001/RW009 Luwang, Gatak, Sukoharjo, Sabtu (24/9/2022). (Solopos.com/Magdalena Naviriana Putri).

Solopos.com, SUKOHARJO — Pusat kerajinan peti mati berbahan rotan di Gesingan RT 001/RW 009 Luwang, Gatak, Sukoharjo, Jawa Tengah, sukses menjual produknya hingga menembus pasar ekspor atau pasar Internasional.

Peti mati rotan mampu menembus pangsa pasar luar negeri karena dianggap ramah lingkungan. Bahan baku rotan menjadikan peti mati terbilang unik.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

Selain rotan, bahan pembuatan peti mati dipadukan dengan eceng gondok, anyaman bambu, mendong hingga pelepah pohon pisang yang telah diulir.  Peti mati rotan harus melalui tahap anyaman yang membutuhkan ketelitian dan kesabaran.

Salah satu pengrajin peti mati berbahan rotan, Purwanto, 43 mengatakan karakteristik peti mati berbahan rotan lebih mudah terurai oleh tanah dan mudah ditemukan karena bisa didaur ulang lebih cepat.

Hal itu menjadikan peti mati berbahan rotan dinilai lebih ramah lingkungan.

Baca juga: Pesanan Peti Mati di Mojolaban Sukoharjo Melonjak 500%

“Peti mati dari rotan agar tidak merusak hutan ada dari eceng gondok, ada dari pelepah pisang, dari mendong juga ada,” jelas Purwanto, 43 saat ditemui di tempat produksinya pada Sabtu (24/9/2022).

Purwanto menyebut telah melakoni usahanya itu sejak 17 tahun lalu. Dia diminta mengirim produk kerajinannya itu ke Belanda hingga akhirnya kini menembus negara lain.

“Produksi peti jenazah sudah sekitar 17 tahun, awalnya ke Belanda trus selang beberapa tahun masuk lagi ke Inggris, sekarang sampai ke Australia dan Amerika juga,” terang Purwanto.

Dia mengatakan pada awalnya dia diminta membuat sampel selama dua pekan sesuai permintaan.  Pembeli sudah meminta desain dan spek ukuran. Lebih lanjut dalam proses pembuatan itu menurutnya dia belum menemukan kesulitan paling hanya bahan baku yang telat.

“Kalau kesulitan biasanya kesulitan tenaga, kalau musim panen produksi jadi berkurang [karena pekerja biasanya ikut panen],” jelasnya.

Baca juga: TRAGEDI PESAWAT MH-17 : 38 Peti Jenazah Korban MH-17 Tiba Di Belanda

Di rumah produksinya para pekerja setiap harinya dengan teliti menganyam rotan menjadi kerangka utama peti mati. Pembuatannya mulai dari menentukan desain dan ukuran peti mati.

Sementara proses menganyam satu peti mati rotan berlangsung sekitar satu hari tergantung masing-masing perajin. Lama proses itu tergantung pada desain dan kerumitan.

Beberapa pemesan terkadang menginginkan desain yang beragam. Mulai dari meminta dengan menambahkan daun pegangan di kanan kiri peti rotan hingga meminta ukuran yang lebih besar.

Dia mengatakan harga jual petinya hampir sama di setiap negara, penjualannya ada yang melalui eksportir dan langsung. Harga satu peti mati berbahan rotan sekitar Rp1 juta-Rp2 juta, harga paling mahal biasanya untuk peti berwarna hingga pesanan khusus yang rumit.

“Tingkat variasi anyam atau bentuk dan ukurannya saja yang berbeda. Pembuat produksi peti ada 100 orang lebih, tetapi kami sebar ke Pacitan, Sragen, di sekitar sini juga ada. Kalau di Inggris rata-rata satu bulan 2 kontainer kalau ke Belanda 1,5-2 bulan mengirim 1 kontainer,” terang Purwanto.

Baca juga: Tak Hanya Porang yang ke Jepang, Rumput Laut Sumenep Juga Diekspor ke China

Lebih lanjut, dia menyebut dalam satu bulan rata-rata mampu mengirimkan sekitar 3-4 kontainer. Dengan perkiraan per satu kontainer berisikan 130 buah peti.  Sehingga jumlah total pengiriman per bulan berkisar 400-500 peti.

Dia mengatakan belum ada pembeli lokal yang tertarik membeli peti rotan miliknya, mengingat kebutuhan dan harga yang berbeda.

Sebelumnya Purwanto hanya menjual furniture biasa seperti kursi dan pernak-pernik lain. Dia bahkan mengaku tidak mempromosikan kerajinan peti miliknya itu. Bahkan, menurutnya selama pandemi permintaan malah meningkat sejumlah 30%.

Sementara itu pekerja setempat Siswanto, 33, mengatakan pembuatan peti mati sebenarnya paling lama jika berbahan rotan. Mengingat diameter rotan lebih kecil sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk menganyam.




Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode