PETERNAKAN JATIM : Pakde Karwo Usul Lahan Kosong Milik TNI untuk Peternakan Sapi

SHARE
PETERNAKAN JATIM : Pakde Karwo Usul Lahan Kosong Milik TNI untuk Peternakan Sapi
SOLOPOS.COM - Ilustrasi sapi di peternakan (JIBI/Solopos/Dok.)

Peternakan Jatim setiap tahunnya menghasilkan 19.460 ton daging sapi, jumlah itu baru bisa menyumbang produksi daging sapi nasional sebesar 22,12% dari total produksi nasional yang mencapai 539.965 ton.

Madiunpos.com, SURABAYA — Gubernur Jawa Timur Soekarwo mengusulkan lahan kosong milik Tentara Nasional Indonesia (TNI) bisa dimanfaatkan untuk peternakan dan budi daya sapi.  Pakde Karwo, sapaan akrabnya, optimistis ketika lahan milik TNI dimanfaatkan bisa memenuhi kebutuhan daging nasional.

PromosiOrang Solo Suka Belanja Gadget di Tokopedia, Seller Untung 2 Kali Lipat

Hal itu dikatakan Pakde Karwo di acara seminar ekonomi dengan tema Restorasi Kebijakan Ekonomi untuk Percepatan Kemandirian Bangsa di Surabaya, Kamis (28/1/2016).

“Coba lahan kosong milik TNI dimanfaatkan untuk peternakan dan budi daya sapi pasti bisa menampung ratusan hingga ribuan sapi. Otomatis kebutuhan daging nasional bisa terpenuhi. Semoga usulan ini bisa sampai ke Panglima TNI,” kata Pakde Karwo yang dikutip Madiunpos.com dari laman jatimprov.go.id, Jumat (29/1).

Soekarwo menambahkan populasi sapi perah di Jawa Timur saat ini 238.000 ekor atau sekitar 49% dari total populasi sapi perah nasional yang mencapai 483.000 ekor. Dari 238.000 sapi perah yang dimiliki Jatim telah menguasai 53% produksi susu nasional.

Selain itu, Pakde Karwo menuturkan untuk produksi daging sapi di Jawa Timur setiap tahun mencapai 19.460 ton atau sekitar 22,12% dari total produksi nasional yang mencapai 539.965 ton. “Provinisi Jawa Timur setiap tahunnya mengalami surplus daging sapi. Tetapi, surplus tersebut belum mampu untuk memenuhi kebutuhan daging secara nasional,” terang Pakde Karwo.

Pembicara dalam seminar ekonomi itu, Ketua Umum Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Surya Paloh, mengatakan masyarakat harus siap menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang saat ini sudah berlangsung. Menurut Surya Paloh, persaingan antarnegara di era MEA sangat berat.

“Jika kita tidak siap menghadapi MEA, kita hanya akan menjadi konsumen dan penonton saja,” ujar Surya Paloh.

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago