Petani Milenial Klaten Sukses Budi Daya Bawang Merah, Omzetnya Tembus Rp100 Juta

Galih Andika Saputra, 28, petani milenial asal Desa Ngemplak, Kecamatan Kalikotes, Klaten, sukses membudidayakan bawang merah.
Petani Milenial Klaten Sukses Budi Daya Bawang Merah, Omzetnya Tembus Rp100 Juta

Solopos.com, KLATEN — Galih Andika Saputra, 28, tak pernah membayangkan jika kini berteman lumpur dan cangkul di bawah terik matahari. Lebih dari setahun terakhir, remaja asal Dukuh Dukuh, Desa Ngemplak, Kecamatan Kalikotes, Klaten, itu menjadi petani muda yang sukses budi daya hortikultura.

“Kalau dulu sejak kecil memang tidak mau ke sawah. Takut [kulitnya] hitam,” kata Galih sembari tertawa ketika berbincang dengan Solopos.com di sepetak sawah berjajar rapi tanaman bawang merah, Selasa (14/9/2021).

Putra pertama pasangan Sugiyo dan Siti Mastiyah itu merintis menjadi petani sejak Mei 2020. Galih akhirnya tertarik menjadi petani setelah mengetahui besarnya potensi pendapatan yang bisa diperoleh dengan modal belasan juta rupiah bisa meraup omzet hingga puluhan juta rupiah.

Baca Juga: Ternyata Ada Warung Makan Gratis di Klaten, Ini Lokasinya

Pemuda itu lantas belajar cara bercocok tanam bawang merah. Dia mendapatkan gambaran cara menanam hingga merawat bawang merah sampai bisa dipanen dari teman-temannya yang lebih dulu menjadi petani. Galih juga mencari referensi bercocok tanam bawang merah melalui internet.

Bermodal Rp15 juta dari uang tabungan, Galih mempraktikkan ilmu yang dia peroleh pada lahan dengan luasan sekitar 1.600 meter persegi. Sawah milik orang tua dia manfaatkan untuk bercocok tanam.

Semua proses produksi termasuk perawatan dia kerjakan sendiri. Sekitar dua bulan kemudian, bawang merah yang dia tanam bisa dipanen dan laku Rp45 juta. Alhasil, pendapatan bersih yang bisa dia peroleh mencapai Rp25 juta. Galih menjajal bertanam jenis hortikultura lainnya selain bawang merah seperti gambas.

Omzet Terbesar

Dari hasil cocok tanam gambas itu, Galih bisa mendapatkan omzet Rp7 juta dengan modal Rp700.000. Omzet terbesar yang dia peroleh selama lebih dari setahun terakhir menjadi petani yakni Rp100 juta dari budi daya bawang merah. Pemasaran bawang merah dilakukan Galih memanfaatkan media sosial.

“Bawang merah yang saya tanam saat ini sudah ada 10 orang yang menawar. Saya mencari harga tertinggi,” kata Galih.

Baca Juga: Pernah Sumbang Kasus Tertinggi, Jogonalan Klaten Kini Terbebas dari Covid-19

Sebelum menjadi petani, Galih ternyata merantau ke Jakarta dan bekerja di salah satu hotel bintang lima sebagai store man. Merantau ke Jakarta sudah dilakoni Galih sejak lulus dari SMK Muhammadiyah 1 Klaten Utara. Sambil bekerja, Galih menempuh jenjang perguruan tinggi dan lulus S1 Teknik Informatika dari Unindra Jakarta pada 2019.

Hingga pada awal 2020, sektor ekonomi tak terkecuali perhotelan terpuruk gara-gara pandemi Covid-19. Kondisi hotel sepi membuat Galih membulatkan tekad pulang kampung setelah tujuh tahun merantau di Jakarta. “Bukan karena PHK atau apa, tetapi saat itu memang niat pulang karena hotel sepi,” kata Galih.


Promo & Events
Berita Terkait
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago