top ear
Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi di Koba, Bangka Tengah, Selasa (20/10/2020). (Istimewa)
  • SOLOPOS.COM
    Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi di Koba, Bangka Tengah, Selasa (20/10/2020). (Istimewa)

Petani Milenial Berjuang Entaskan Rentan Rawan Pangan

Daerah rentan rawan pangan, artinya daerah yang apabila tidak disupervisi dapat menjadi daerah rawan pangan.
Diterbitkan Rabu, 21/10/2020 - 16:34 WIB
oleh Solopos.com/BC
2 menit baca

Solopos.com, KOBA – Pengentasan daerah rentan rawan pangan sangat penting untuk mewujudkan ketahanan pangan di seluruh wilayah Indonesia. Hal tersebut diutarakan Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian, Agung Hendriadi saat melakukan tanam bawang merah di lahan milik kelompok tani Top Milenial, Koba, Bangka Tengah, Selasa (20/10/2020).

Salah satu upaya yang dilakukan oleh Kementerian Pertanian dalam hal ini Badan Ketahanan Pangan adalah melalui kegiatan Pertanian Keluarga.

“Upaya mengentaskan rentan rawan pangan ini, saya melihat semangat para petani milenial, kita akan dukung terus agar mereka mampu menjadi penggerak pembangunan pertanian,” ujar Agung.

Mentan SYL Ajak Masyarakat Patuh Karantina

Agung menggarisbawahi bahwa daerah rentan rawan pangan, artinya daerah yang apabila tidak disupervisi dapat menjadi daerah rawan pangan.

“Karena itu, kita melakukan intervensi melalui kegiatan pertanian keluarga ini. Tujuannya agar masyarakat dapat memproduksi pangan secara mandiri, dan juga kesejahteraan meningkat,” jelas Agung.

Poktan Top Milenial merupakan sekelompok pemuda pengangguran dan lulusan SMA di Bangka Tengah. Mereka berusaha mewujudkan ketahanan pangan di daerahnya dengan terjun ke dunia pertanian.

7 Desa di Gondangrejo Karanganyar Kembali Jadi Cagar Budaya

Mengelola Lahan

Ketua Gapoktan, Yaldi Saputra yang merupakan sarjana pertanian memilih pulang dan terjun mengajak para pemuda di kampungnya, mengelola lahan tidak tergarap berupa rawa dan bekas penambangan timah menjadi lahan pertanian produktif.

“Dengan luas lahan sebesar 2,5 hektare, kami membudidayakan berbagai komoditas pangan. Seperti jagung, bawang merah, cabe serta ikan,” ujar Yaldi.

Yaldi mengakui aktifitas pertanian yang dilakukan kelompoknya sangat bermanfaat karena dapat memenuhi kebutuhan pangan.

“Dengan pertanian keluarga ini, kami dapat bergerak lebih mudah dalam bertani. Kita sudah panen lele 400 kg dan juga jagung mencapai 3,7 ton” ujarnya.

Agung meminta Gapoktan dan seluruh masyarakat untuk terus berproduksi. “Ukuran kegiatan pertanian keluarga ini, adanya peningkatan produksi pangan, dan juga bertambahnya luas lahan yang dikelola,” kata Agung.

Lagi, Petani Milenial di Pasuruan Sukses Bisnis Kopi

Lahan pertanian Petani Milenial di Bangka Tengah. (Istimewa)

Merespons hal itu Yaldi dan anggotanya berencana memperluas areal tanam bawang menjadi 2 hektare.

“Potensi lahan yang bisa kami kembangkan bisa mencapai dua hektare untuk pengembangan bawang merah,” ungkapnya.

Secara terpisah, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengharapkan melalui pertanian keluarga dapat melahirkan pahlawan-pahlawan pangan baru yang ikut berperan menghadapi tantangan pemenuhan pangan di Indonesia.

“Kebersamaan yang kita bangun dapat menghadirkan program–program baru yang lebih akseleratif. Misalnya, Family Farming. Program ini membuka peluang bagi setiap keluarga untuk memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri. Jika ketahanan pangan keluarga baik, maka ketahanan pangan masyarakat juga pasti baik. Jika ketahanan pangan masyarakat baik, maka ketahanan pangan nasional juga akan baik,” ucap Mentan Syahrul.

 

 


Editor : Profile Arif Fajar Setiadi
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini