top ear
Tutup Iklan

Tiyas Nur Haryani/Istimewa
  • SOLOPOS.COM
    Tiyas Nur Haryani/Istimewa

Pesan untuk Generasi Milenial

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (27/11/2019). Esai ini karya Tiyas Nur Haryani, dosen di Program Studi Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah tiyasnur@gmail.com.
Diterbitkan Selasa, 3/12/2019 - 05:30 WIB
oleh Solopos.com/Tiyas Nur Haryani
4 menit baca

Solopos.com, SOLO — Presiden Joko Widodo memberikan apresiasi khusus kepada generasi milenial dalam momentum pengenalan tujuh anggota Staf Khusus Presiden dari 13 Staf Khusus Presiden Joko Widodo dan seorang Asisten Pribadi Presiden.

Putri Tanjung adalah creativepreneur dalam bidang event organizer. Ia anak Chairul Tanjung dan lulusan Academy of Art University, San Francisco, Amerika Serikat yang membangun ide bisnis sejak usia 15 tahun.

Angkie Yudistia adalah socialprenuer pendiri Thisable Enterprise yang bergerak dalam penguatan dan pemberdayaan penyandang disabilitas. Angkie menyelesaikan pendidikan tinggi di London Scholl of Public Relation, Jakarta.

Ayu Kartika Dewi adalah perumus socialpreneur Gerakan Sabang Merauke yang bergerak pada bidang pendidikan dengan program pertukaran pelajar antardaerah. Ayu tercacat sebagai alumnus Indonesia Mengajar dan mendapat gelar MBA dari Duke University dan Fuqua School of Business, Amerika Serikat.

Putra Papua Gracia Billy Yosaphat Membrasar adalah lulusan Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan Institut Teknologi Bandung. Billy adalah socialprenuer dengan program bantuan pendidikan lewat Kitong Bisa.

Saat ini Billy disebut akan melanjutkan jenjang S3 di Harvard University setelah sebelumnya lulus master dari Australian National University (ANU) dan Oxford University. Andi Taufan Garuda Putra adalah pendiri Lembaga Keuangan Amartha yang menyelesaikan studi di Harvard University untuk jenjang magister. Andi memiliki bisnis di bidang financial technology (fintech).

Dua milenial lainnya adalah Adamas Belva Syah Devara dan Aminuddin Ma’ruf. Adamas menyelesaikan pendidikan tinggi di NTU, Singapura, untuk jenjang sarjana dan gelar ganda dari Harvard University dan Stanford University pada jenjang magister.

Adamas saat ini adalah pengusaha muda berusia 29 tahun pendiri startup Ruangguru. Aminuddin Ma’ruf pernah menjabat Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) periode 2014-2016, lulus S2 Univeritas Trisakti, Jakarta dan kini menjadi Sekretaris Jenderal Solidaritas Ulama Muda Jokowi.

Privilese

Profil para milenial terpilih tampak kukuh dengan pendidikan internasional, ketersediaan modal untuk membangun usaha, dan mapan secara sosial dan finansial. Privilese generasi muda dari old money atau dalam bahasa Jawa kita sebut sebagai balungan gajah itu nyata adanya.

Jika dirunut pada sejarah orang tua dari anak-anak yang terlahir kaya (born rich) tersebut, privilese itu antara lain ada pada asupan gizi yang selalu terpenuhi sehingga pertumbuhan fisik dan kognitif menjadi sempurna.

Sangat kecil kemungkinan tubuh terkena stunting, gondok, serta penyakit akibat kekurangan gizi. Mereka selalu diperhatikan oleh orang tua dan/atau pengasuh. Selalu dijaga dan dibimbing sesuai buku teks entah oleh pengasuh, asisten rumah tangga, sopir, penjaga keamanan, atau oleh guru-guru privat yang didatangkan.

Dari limpahan perhatian dan pengajaran yang didapat tersebut perkembangan kognitif dari born rich menjadi paripurna. Lingkungan tempat born rich tumbuh dan berkembang sangat mendukung perkembangan mental.

Anak tidak merasakan penderitaan orang tua yang terdesak oleh kemiskinan. Tidak merasakan teror yang datang dari para penagih utang. Tidak merasa rendah diri di hadapan orang lain. Bisa belajar dengan nyaman dan bermain sepuasnya.

Terbebas dari rasa takut, cemas, kesepian, rendah diri, teror, terancam, dan tertekan dapat menguatkan pertumbuhan anak dalam aspek mental dan pikiran.  Kesehatan fisik jangan ditanya. Segala macam vaksin dan fasilitas kesehatan terpenuhi dengan mudah dan sesuai jadwal.

Hak istimewa ini akan berlanjut pada kehidupan born rich saat remaja hingga pendidikan tinggi. Pendidikan terbaik, pengembangan soft skill melalui kursus, seminar, table manner, pesta-pesta lobby dan pendampingan oleh mentor yang mumpuni membuat keahlian mereka terasah dengan baik.

Jaringan baru dibangun pada fase tersebut, ditambah jaringan dari keluarga. Pertarungan agar tetap berada di kelas atas jadi tidak diperlukan. Privilese yang dimiliki membuat lebih mudah menjalani hidup dibanding orang lain.

Telah sejak lama Pierre Felix Bourdieu mengamati, mempelajari, serta menganalissi privilese ini sekalipun Bordieu sendiri tidak memercayai analisis Marx soal pertentangan antarkelas. Bagi Bourdieu, kelas bawah dapat naik ke atas melalui elevator-elevator berupa jaringan-jaringan meritokrasi yang berbentuk organisasi legal (Bourdieu, 1984).

Sebelum sampai ke elevator, individu yang ingin naik kelas harus memenuhi habitus dan capital yang mumpuni untuk bertarung pada arena. Habitus merupakan struktur mental atau kognitif yang digunakan individu untuk menghadapi dunia sosial.

Gaya Hidup

Individu dibekali serangkaian skema dan pola yang dengan itu ia merasakan, memahami, menyadari, menilai, dan mengevaluasi dunia sosial, masyarakat, dan orang lain, bahkan membentuk gaya hidup individu atau kelas (Bourdieu, 1984).

Capital terdiri atas modal ekonomi, sosial, dan kultural. Secara kasar dapat dianalogikan sebagai uang, dukungan lingkungan sosial, dan kebiasaan masyarakat setempat. Bourdieu menggunakan metafora pasar untuk menjelaskan konsep arena. Barang yang terbaik dan termurah yang disajikan di pasar akan diserbu pembeli.

Dari pemaparan habitus, capital dan arena akan terbayang begitu sulitnya kelas bawah naik derajat. Cerita-cerita tentang pemilik perusahaan besar yang merintis dari nol saat tidak lulus pendidikan dasar hanyalah segelintir saja.

Kebanyakan mereka yang tidak lulus pendidikan dasar lalu memulai usaha akan tetap berkubang di kelas bawah. Kaum profesional yang dapat melalui habitus, capital, dan arena tanpa privilese akan mempunyai empati lebih besar kepada kelas bawah.

Saat memegang mandat sebagai pembuat kebijakan, mereka mampu menyusun program-program sesuai kebutuhan dan pengalaman kelas bawah. Fragmen ini dapat menjadi pesan bagi milenial lainnya di luar istana kepresidenan, bahwa generasi berikutnya dari para millenial saat ini perlu mendapatkan pemenuhan kebutuhan praktis dan strategis untuk meraih kapabilitas dalam pembangunan.

Generasi milenial perlu membangun dan memperkuat capital dan kemapanan sosial finansial sebagai modal awal generasi penerus. Tantangan bagi Staf Khusus Presiden yang baru adalah pada saat posisi pembuat kebijakan ini diserahkan kepada born rich dengan privilese untuk melewati tahapan habitus, capital, dan dengan arena yang sudah dimiliki, apakah mereka akan membuat program yang sesuai dengan kebutuhan kaum papa?

Bagi Presiden Joko Widodo beserta staf khusus, bagaimana menciptakan loncatan kemajuan tanpa meninggalkan masyarakat kelas bawah untuk mengejar ketertinggalan individu dan bangsa ini secara menyeluruh?

Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

Properti Solo & Jogja

Iklan Baris

berita terkini