Perlawanan Perempuan
Solopos.com|kolom

Perlawanan Perempuan

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 April 2021. Esai ini karya Syifaul Arifin, jurnalis Solopos.

Solopos.com, SOLO -- Setiap April topik perempuan selalu jadi perhatian. Pada 21 April 2021 lalu adalah tepat 142 tahun lalu R.A. Kartini lahir. Dia ikon emansipasi perempuan. Yang dia lakukan jadi inspirasi kaum perempuan Indonesia untuk bergerak di bidang domestik, politik, ekonomi, pendidikan, dan bidang lainnya.

Saat ini perempuan yang duduk di kursi DPR hasil pemilihan umum 2019 berjumlah 120 orang. Sedangkan anggota DPR mencapai 575 orang. Jadi kaum perempuan di Senayan baru 20,8%. Jumlah ini tentu lebih banyak daripada perempuan yang jadi politikus di lembaga sejenis sebelumnya. Sebagai contoh di Konstituante.

Saya menelusuri jumlah politikus perempuan yang duduk di Konstituante, lembaga yang anggotanya dipilih melalui pemilihan umum 1955. Mereka bertugas menyusun UUD. Kita mengenal Konstituante sebagai lembaga yang dibubarkan oleh Presiden Soekarno.

Tugas menyusun UUD hampir rampung (90%).  Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1955. Soekarno memutuskan kembali ke UUD 1945. Di laman konstituante.net ada penjelasan anggota lembaga itu 610 orang, termasuk anggota pengganti dan yang diangkat dari golongan minoritas.

Lembaga itu didominasi laki-laki, yang perempuan 43 orang atau hanya 7%. Saya lalu menelusuri perempuan anggota Konstituante yang lahir atau berasal dari Jawa Tengah. Ternyata hanya lima orang. Sedangkan laki-lakinya 121 orang. Dari lima perempuan itu, tak ada yang berasal dari Kota Solo dan sekitarnya.

Telah muncul kesadaran perempuan di Jawa termasuk di Kota Solo sejak masa pergerakan nasional. Setelah kiprah Kartini (1879-1904) dikenal luas, isu tuntutan persamaan hak dan keterlibatan perempuan dalam pelbagai sektor publik terus menggema.

Sejarah mencatat organisasi perempuan pertama di Hindia Belanda adalah Putri Mardika yang berdiri pada 1912. Organisasi yang terkait Budi Utomo itu bertujuan membimbing perempuan bumiputra mendapatkan pendidikan.

Aisyiyah di bawah persyarikatan Muhammadiyah berdiri pada 19 Mei 1917. Aisyiyah mendirikan TK pada 1919. Namanya TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA). Saya termasuk lulusan TK ABA yang didirikan Aisyiyah di Pekalongan.

Hingga kini TK ABA ada di mana-mana. Mereka juga menerbitkan Majalah Suara Aisyiyah pada 1926 dan tetap eksis hingga kini. Pada masa itu, kaum perempuan mulai mempertanyakan ketidaksetaraan gender. Maklum, dominasi laki-laki sangat kuat. Budaya di masyarakat memengaruhi hal itu.

Saya memotret perjuangan perempuan meraih kesetaraan itu melalui tulisan di media massa pada masa itu. Salah satunya majalah yang terbit di Kota Solo, yaitu Islam Bergerak, yang terbit perdana pada 1917. Majalah ini diterbitkan oleh Sidik Amanah Tablegh Vatonah (SATV), organisasi embrio Muhammadiyah Solo.

SATV juga menerbitkan Majalah Medan Moeslimin pada 1915. Tokoh di balik SATV, Medan Moeslimin, dan Islam Bergerak adalah Haji Misbach dari Kauman, Kota Solo, yang dikenal sebagai haji merah. Dia tokoh Islam sekaligus aktivis kiri.

Majalah terbitan SATV ini beberapa kali memuat tulisan tentang perjuangan perempuan menuntut hak dan mengkritik hubungan laki-laki dan perempuan di masyarakat yang tidak adil. Dalam Islam Bergerak edisi 20 April 1917, sehari sebelum  peringatan hari kelahiran Kartini, perempuan bernama Sirtoepiloeli menulis tentang poligami.

Dia mengomentari tulisan yang dimuat di Medan Moeslimin sebelumnya. Di Medan Moeslimin, Rara Endang Palmini asal Tegal menulis betapa susah dan rindu hati perempuan yang suaminya wayuh atau beristri lebih dari satu. Menguatkan pendapat Endang Palmini, Sirtoepiloeli di Islam Bergerak mengkritik laki-laki bangsawan hingga penghulu yang berpoligami.

Dia menulis perempuan yang diwayuh selalu bersaing, menanggung susah, rindu, dan syak di hatinya. “…Barangkali polijgamie bisa menjadikan kendornja kemadjoean kita orang kaoem istri…,” demikian tulisan Sirtoepiloeli.

Yang menarik, dia mengajak kaum perempuan bangkit dari penderitaan itu, jangan mau dipoligami. “Sekarang, marilah saudara-saudara kita kaoem isteri, berdaja oepaja, mengedjar hak-hak dan kemerdika’an kita, biarlah Polijgamie linyap  dari doenia kita prampoean, dan djangan di pandang sebagai perkakas belaka oleh kaoem lelaki…

Dalam Islam Bergerak edisi 20 Juni 1922 ada tulisan seorang gadis bernama Raden Rara Hartijah. Ia mengaku belum berumah tangga, Hartijah menulis perempuan di Hindia Belanda terlalu sempit kemerdekaannya, terpaksa tinggal di rumah saja mengurusi hal yang sifatnya domestic, padahal hal-hal yang sifatnya umum (urusan publik) bukan hanya milik laki-laki. "Olih karena pihak laki-laki itoe jang berkemerdikaan leloeasa dan seolah-olah berhak sendiri meremboeg keperloean oemoem, maka pergaoelan hidoep (maatschappij)   itoe dipengaroehi oleh laki-laki semata, maka jang demikian itoe tidak hairan  apabila kita perempoean itoe hidoep sebagai boedak jang tertindis. ….Saja mengetahoei benar-benar bahaja  soeatoe maatschappij [masyarakat] jang semata-mata ta’loek kepada kemaoean laki-laki itoe, ja’ni jang teroetama sekali besarnya korban kita perempoean. Apabila terbit bela kelaparan, maka terpaksalah kita perempoean jang teroetama sekali menanggoeng soesah jang amat sangat sedang peratoeran keselamatan negeri dan pendoedoeknja itoe hanja orang laki-laki sadja jang berhak membikinnja, inilah tida adil dan merendahkan kita perempoean semata-mata. Pendeknya,  bila doenia ini masih di koeasai olih laki-laki sadja, beloemlah terdapat neratja keadilan di doenia, sedangkan orang laki-laki bagaikan menoendjoekkan kebodohannja memegang kemoedi Doenia, ternjata timbul kesengsaraan jang terbit lantaran kapitalisme."

Tulisan Hartijah itu menggambarkan kesadaran di kalangan perempuan muda saat itu. Mereka menuntut perempuan dilibatkan dalam urusan publik, dalam penyusunan peraturan perundang-undangan yang dikuasai laki-laki. Dia berharap datang zaman keemasan (gouden eeuw) bagi kaum perempuan, yaitu diakui setara dengan laki-laki dalam urusan publik.

Tulisan keras datang dari Siti Asijah pada edisi yang sama. Judulnya AWAS PEREMPOEAN (memakai huruf kapital semua). Dia mengkritik perilaku laki-laki yang beradat binatang. “AMBOI! SAUDARA PEREMPOEAN!! Betapa piloe dan sedih rasa hati kami apabila mendengar chabar tentang hal perempoean –perempoean yang telah TERAMAT HINA nasibnja dan yang telah terhina oleh LAKI-LAKI YANG BERADAT BINATANG, adoeh!”

Dia sedih membaca berita tentang orang tua yang menjual anak gadisnya kepada rentenir. Istilah sekarang perdagangan anak.  Menurut Asijah, karena kapitalisme, orang terjerat oleh rentenir. Karena kemiskinan itu, terjadi praktik anak yang belum balig dipaksa menikah maupun berzina dengan orang yang berkuasa, yang memberi pinjaman kepada orang tuanya.

Selain menyoroti kasus yang menghinakan perempuan, Asijah juga mengajak kaum perempuan mencari ilmu sebagaimana dilakukan kaum laki-laki. Laki-laki maupun perempuan sama-sama berhak mencari ilmu. Di mata Allah, kata Asijah, orang yang berilmu lebih mulia.

Tidak Menunggu Pertolongan

Asijah menyeru perempuan berjuang untuk mendapatkan kesetaraan itu, tidak menunggu pertolongan orang lain. Sikap redaksi Islam Bergerak tidak berbeda dengan tulisan-tulisan dari pembacanya. Menanggapi tulisan Asijah itu, redaksi Islam Bergerak menulis komentar singkat,” Seroean jang moelia, seroean jang toeloes, seroean jang merawankan hati, patoet kita hargai dengan sebenar-benarnja.  Marilah Islami sedoenia, toendjoekkanlah ketjintaan jang berharga kepada pihak perempoean. Pembelaan dan pertolongan kita kepadanja adalah soeatoe dari pada kewadjiban kita.

Majalah tersebut memang mengakomodasi tulisan pembaca. Kebanyakan sesuai dengan kebijakan redaksi. Walau demikian, Islam Bergerak terkadang memuat tulisan-tulisan yang berbuah polemik. Kadang-kadang pembaca berpolemik melalui tulisan dengan redaksi.

Pandangan redaksi Islam Bergerak soal perempuan terlihat dari tulisan-tulisan yang dimuat. Yang mereka cita-citakan adalah perempuan dan laki-laki setara, mereka terlibat dalam isu publik, turut mengambil peran dan kebijakan di masyarakat.

Hal itu bisa terlihat pada tulisan tentang dua tokoh perempuan yang diharapkan bisa menginspirasi perempuan Hindia Belanda. Yang pertama adalah tulisan dari redaksi Islam Bergerak pada edisi 10 Desember 1921 tentang Khalide Edib Hanoem. Tulisan itu disertai foto.

Tulisan itu mendeskripsikan Khalide Edib Hanoem yang merupakan perempuan pertama di dunia yang menjadi menteri. Dia ditunjuk pemerintah Turki sebagai Menteri Pendidikan. Sosok lain yang ditulis oleh Islam Bergerak adalah Rosa Luxemburg, seorang filsuf, ekonom, aktivis antiperang, dan sosialis revolusioner.

Kisah hidup Rosa (1871-1919) yang menjadi warga negara Jerman itu ditulis sepanjang satu halaman penuh. "Bagi perempuan-perempuan di Hindia, hendaklah meniroe sifatnja, sedang haloean itoe menoeroet paham masing-masing."

Jika pada awal abad XX di Kota Solo perjuangan untuk kesetaraan gender begitu gegap gempita, bagaimana dengan sekarang? Apakah sekarang masih ditemui perempuan yang ditindas, yang “dijual”, yang tidak mendapatkan akses menuntut ilmu, dan yang jadi korban ketidakadilan dalam poligami? Kalau masih, berarti perjuangan Rara Endang Palmini, Sirtoepiloeli, Raden Roro Hartijah, dan Siti Asijah masih harus dilanjutkan.

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago