Perjalanan Industri Jamu Nguter Sukoharjo, Dari Jamu Gendong Hingga Kafe

Industri jamu Nguter, Sukoharjo, telah melewati perjalanan panjang mulai dari produksi dengan pemasaran menggunakan jamu gendong hingga kafe.
Perjalanan Industri Jamu Nguter Sukoharjo, Dari Jamu Gendong Hingga Kafe
SOLOPOS.COM - Seorang karyawan menunggu pembeli di kafe jamu di Pasar Nguter, Sukoharjo, Rabu (5/5/2021). (Solopos/Bony Eko Wicaksono)

Banner Wisata Joglosemar

Solopos.com, SUKOHARJO — Desa/Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dinobatkan sebagai kampung Destinasi Wisata Jamu di Indonesia. Hal ini berawal dari potensi industri jamu dari hulu ke hilir, mulai dari kebun tanaman obat herbal, UMKM jamu, jamu gendong, hingga industri obat tradisional.

Kemajuan industri jamu di Desa Nguter tak lepas dari sejarah panjang daerah tersebut. Bagi warga Nguter, meracik aneka dedaunan dan rempah-rempah menjadi minuman jamu sudah dilakukan sejak zaman dulu.

Pada umumnya, para peracik jamu merupakan kaum ibu-ibu. Hingga lambat laun racikan jamu dari tangan ibu-ibu Nguter ini mulai dikenal oleh warga Sukoharjo, bahkan luar daerah sekitarnya.

Jamu yang dihasilkan ada beras kencur, kunir asem, temulawak, jamu pahitan, jamu pegel linu, dan lainnya. Jamu-jamu ini dikemas dalam botol atau gendul dengan dimasukkan dalam bakul dan digendong di belakang punggung.

Baca Juga: Menarik, Belanja Bisa Lanjut Wisata Tubbing dan Petik Buah di Pasar Ciplukan Karanganyar

Cara menjual jamu seperti itu pun akhirnya dikenal dengan sebutan jamu gendong. para penjual keliling menjajakan jamu gendong. Namun seiring perkembangan zaman dan teknologi, kini tak banyak lagi penjual jamu gendong.

Bahan-bahan jamu yang dijual di Pasar Jamu Nguter, Sukoharjo, Selasa (25/5/2021). (Bony Eko Wicaksono/Solopos)
Bahan-bahan jamu yang dijual di Pasar Jamu Nguter, Sukoharjo, Selasa (25/5/2021). (Bony Eko Wicaksono/Solopos)

Mereka mulai menggunakan sepeda onthel hingga motor untuk menjual jamu-jamu tersebut. Bahkan kini racikan jamu telah diproduksi dan dikemas secara pabrikan hingga dijual ke luar Pulau Jawa.

Kafe Jamu Pertama di Indonesia

Ada sedikitnya seratusan pengusaha jamu di Nguter, Sukoharjo, yang terdaftar sebagai anggota Koperasi Jamu Indonesia (Kojai). Nilai omzet penjualan jamu dari seluruh pengusaha di desa itu setiap tahun diperkirakan mencapai miliaran rupiah.

Guna menyokong Destinasi Wisata Jamu Nguter, Pemkab Sukoharjo bersama perusahaan swasta, pelaku UMKM jamu membuka Kafe Jamu. Kafe Jamu yang terletak di Pasar Jamu Nguter ini pun menjadi kafe jamu pertama di Indonesia.

Baca Juga: Dari Polanharjo hingga Tulung, Ini Deretan Wisata Air Alami di Klaten

Dua tahun sejak diresmikan, keberadaan Kafe Jamu ini semakin digandrungi kalangan milenial di tengah pandemi Covid-19. Seperti halnya kafe pada umumnya, minuman jamu yang dijual lekat dengan milenial, dari segi rasa hingga penyajian.

Bahkan, jamu yang disajikan juga dikombinasikan dengan aneka ragam minuman lain. Rasa disesuaikan dengan rasa milenial. Seperti temulawak dengan rasa khasnya menjadi minuman dengan tidak rasa temulawak saja, namun dikombinasi dengan lidah buaya dan cendol.

Bahkan dicampur juga dengan jahe, kemudian serai dan kencur. Produk jamu herbal dengan beragam varian rasa di kafe jamu menjadi pemikat para kaum milenial atau kalangan anak muda. Hal ini dilakukan untuk mengangkat potensi produk jamu asli Sukoharjo.

jam nguter sukoharjo
Pengunjung menikmati minuman jamu di Kafe Jamu Nguter, Sukoharjo, Jawa Tengah. Foto diambil sebelum PPKM Darurat. (Istimewa/Pengelola Kafe Jamu Nguter)

“Tempat ini [kafe jamu] disiapkan Bupati saat itu, menyajikan jamu tidak hanya rasa pahit atau getir, tapi juga enak rasanya dan sehat,” kata Kepala Bidang (Kabid) Pemberdayaan Koperasi Dinas Perdagangan dan Usaha Kecil Menengah (Disdagkop dan UKM) Sukoharjo, Suryanto, kepada Solopos.com, belum lama ini.

Baca Juga: Di Kali Pusur Klaten, River Tubing Bisa Bayar Pakai Sampah

Minuman Kalangan Milenial

Kafe tersebut memiliki konsep mengangkat produk unggulan jamu agar bisa bersaing di pasaran lokal maupun luar negeri. Adanya kafe yang menjual berbagai macam minuman jamu tradisional itu diharapkan bisa melestarikan budaya minum jamu sekaligus menyokong Destinasi Wisata Jamu Sukoharjo yang telah dicanangkan pemerintah.

Selain untuk melestarikan jamu, dengan kafe jamu bisa membudayakan minum jamu kepada anak muda atau kalangan milenial. “Jamu merupakan warisan leluhur yang memiliki banyak khasiat seperti mengobati penyakit dan membuat badan lebih bugar,” katanya.

Saat ini tak hanya kalangan orang tua yang meminum jamu. Namun keberadaan kafe jamu bisa dinimati anak muda yang bangga dengan produk lokal asli Sukoharjo. Dengan demikian eksistensi jamu herbal diharapkan tetap terjaga dengan strategi promosi dan pemasaran yang jitu.

Salah satunya dengan membentuk kafe jamu yang menyediakan beragam jenis minuman jamu herbal. Hal ini berimplikasi pada peningkatan jumlah pelaku UMKM dan menggeliatkan perekonomian daerah. “Ini juga upaya mencegah peredaran jamu ilegal yang merugikan masyarakat,” katanya.

 


Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago