[ X ] CLOSE

Peringati Sumpah Pemuda, 93 Karya Barang Bekas Dipajang di Art Klat

93 Karya yang ditampilkan dibuat oleh tujuh seniman yakni Temanku Lima Benua, Syahrul Efendi, Alvian Syahputra, Joko Wiyono, Agung, Dedek Frigga, dan Totok Krebo.
Peringati Sumpah Pemuda, 93 Karya Barang Bekas Dipajang di Art Klat
SOLOPOS.COM - Pengunjung melihat salah satu karya daur ulang limbah logam saat digelar pameran Art Klat di Ruang Publik Lima Benua, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara, Rabu (27/10/2021). (Taufiq Sidik Prakoso)

Solopos.com, KLATEN–Dalam rangka memeringati Hari Sumpah Pemuda, Sanggar Lima Benua menggelar pameran bertajuk Art Klat selama dua hari Rabu-Kamis (27-28/10/2021). Ada 93 karya yang ditampilkan dan dibikin dari aneka barang bekas.

Pameran digelar di Ruang Publik Lima Benua, Desa Belangwetan, Kecamatan Klaten Utara. Pembukaan Art Klat dihadiri Kepala Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten, Sri Nugroho, dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Klaten, Srihadi.

Pada pembukaan itu, ada performing art menampilkan tarian burung garuda di karpet jong dan pulau di Indonesia sebagai perwujudan persatuan. Selain itu, ada kegiatan mencuci kaki ibu sebagai perwujudan tanda bakti kepada ibu pertiwi.

Baca Juga: Kendaraan Dinas Polres Klaten Dicek Tiga Hari Beruntun, Ada Apa?

Sementara itu, 93 karya yang ditampilkan dibuat oleh tujuh seniman yakni Temanku Lima Benua, Syahrul Efendi, Alvian Syahputra, Joko Wiyono, Agung, Dedek Frigga, dan Totok Krebo. Jumlah karya itu disesuaikan dengan peringatan Sumpah Pemuda yang berlangsung 93 tahun silam pada 1928.

Sementara, jumlah seniman menyimbolkan 700 pemuda yang berkumpul pada kongres pemuda 93 tahun lalu untuk mencapai tujuan yakni Indonesia merdeka. Sementara, hari pelaksanaan pameran selama dua hari merepresentasikan hari kongres digelar.

Selain penuh makna dan simbolisasi pelaksanaan kongres pemuda yang melatarbelakangi lahirnya Sumpah Pemuda, Art Klat mengusung misi kepedulian lingkungan. Seluruh karya yang ditampilkan merupakan hasil daur ulang barang bekas.

Baca Juga: Pertamina Pastikan Stok Solar Jateng-DIY Aman

Karya seni yang ditampilkan merupakan karya seni tiga dimensi yang dibikin dari barang bekas onderdil sepeda motor, alat rumah tangga, mesin ketik, serta perabot rumah lainnya. Dari berbagai barang itu, ketujuh seniman mampu menghasilkan karya berbagai bentuk seperti ikan, pohon, kalajengking, tangan, lobster, burung, semut, dan lain-lain.

Barang bekas diperoleh para seniman dari pedagang rosok dengan total berat barang bekas berupa logam serta alumunium sekitar 1,5 ton.

 

Kali Pertama

Penggagas Art Klat, Temanku Lima Benua, 19, mengatakan Art Klat baru kali pertama digelar. Dia berharap kegiatan itu bisa digelar setiap tahun. Pemudi yang kerap disapa Liben itu juga mengajak kepada generasi Z untuk meneladani semangat pemuda pada masa penjajahan yang memiliki tekad kuat agar Indonesia merdeka.

Baca Juga: Posisi 15 Kades Kosong, Pemkab Klaten Tak Berencana Gelar PAW

“Sumpah Pemuda itu tujuannya untuk meningkatkan semangat berani merancang masa depan Indonesia. Pada masa sekarang ini, para pemuda juga harus berani untuk kreatif dan progresif terlebih pada masa pandemi Covid-19 ini,” kata Liben saat ditemui wartawan di sela pembukaan pameran.

Soal kampanye kelestarian lingkungan, Liben mengatakan membuat karya tak harus mahal. Barang bekas dan tak lagi terpakai bisa diolah menjadi barang bernilai seni tinggi. “Kami terinspirasi salah satu dosen saya Prof. Dwi Maryanto yang membuat buku seni dan gaya hidup. Salah satu babnya terkait eco art dan saya terinsipirasi dari tulisan itu,” kata mahasiswa semester 3 Jurusan Tata Kelola Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta tersebut.

Liben mengatakan karya yang ditampilkan bisa dibeli. Uniknya, pembelian dihitung per kg dari satu jenis karya yang ingin dibeli. “Bisa ditanyakan dengan senimannya langsung. Misalkan besi itu dibeli Rp9.000 per kg, nanti nol di belakang itu bisa ditambahi entah nolnya satu atau dua,” jelas Liben.

Baca Juga: Kisah Kades Gatak Klaten, Beri Pelayanan Terbaik Meski Kondisi Drop

Dosen ISI Yogyakarta, Prof. M. Dwi Maryanto, mengatakan Art Klat bisa menjadi pelengkap Art Jog yang lebih dulu digelar dan sudah mendunia. Dia pun mengapresiasi upaya Liben untuk mengelola lingkungan dengan menjadikan barang bekas yang tak lagi terpakai sebagai bahan membuat karya seni.

“Art Klat bisa dilihat bisa dilihat sebagai pelengkap Art Jog. Art Klat bisa dikembangkan menjadi ke khasan Klaten, menjadi cultural heritage. Ini merupakan isu strategis daur ulang yang menjadi isu dunia. Kemudian kemampuan orang muda mengelola lingkungan. Saya berharap Art Klat bisa menjadi satu pusaka Klaten karena potensinya tidak hanya nasional tetapi bisa dunia,” kata dia.

 



Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago