Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Perajin Tahu di Solo Tak Kesulitan Dapat Stok Kedelai, Tapi Harganya Mahal

Sejumlah perajin tahu dan penjual bahan olahan kedelai di Kota Solo tak mengalami kesulitan mencari stok kedelai.
SHARE
Perajin Tahu di Solo Tak Kesulitan Dapat Stok Kedelai, Tapi Harganya Mahal
SOLOPOS.COM - Proses produksi tahu di Krajan, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Kamis (29/9/2022). Saat ini perajin belum berani menaikkan harga tahu meski harga kedelai terus naik. (Solopos/Afifa Enggar Wulandari)

Solopos.com, SOLO — Sejumlah perajin tahu dan penjual bahan olahan kedelai di Kota Solo tak mengalami kesulitan mencari stok kedelai. Mereka dapat dengan mudah mendapat kedelai namun yang dikeluhkan harganya yang makin tinggi.

Salah satu perajin tahu asal Kampung Krajan, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Jebres, Solo, Sri Anang Frans mengatakan ia sendiri tak kesulitan mendapat bahan baku pembuatan tahu. Sejauh ini, Frans masih dengan mudah memenuhi kebutuhan kedelainya per hari yang mencapai 2,8 kuintal.

PromosiTokopedia Card Jadi Kartu Kredit Terbaik Versi The Asian Banker Awards 2022

Nggak enek [enggak ada kesulitan] kalau aku yang sebagai pembeli selama iki ya,” kata Frans saat dihubungi Solopos.com, Jumat (30/9/2022).

Saat ini, stok bahan baku di pabriknya masih aman. Namun Frans masih merasakan mahalnya kedelai impor sebagai bahan baku pembuatan tahu.

Menurutnya, dari sisi kualitas, kedelai impor yang ia pakai jauh lebih bagus dibanding kedelai lokal. Sebelumnya, Frans mengatakan Jenis kedelai mempengaruhi produk yang ia hasilkan. Bila ia menggunakan kedelai lokal, hasil tahunya akan kemerah-merahan saat digoreng.

Baca Juga: Harga Kedelai Naik, Ukuran Tahu dan Tempe di Pasar Boyolali Kian Mengecil

Namun bila Frans menggunakan tahu kualitas impor, maka hasil tahunya bagus dan berwarna kekuningan. Menurutnya, itu jauh lebih bagus.

“Beda no. Kalau lokal digoreng agak merah gitu. Kalau impor agak kuning, orang pasti bisa bedain,” katanya.

Soal stok kedelai, Frans belum menemui masalah. Untuk memenuhi kebutuhan kedelai untuk produksi, Frans hanya membeli kedelai di satu penjual saja. Dalam sekali beli, ia membeli sekitar 2,8 kuintal. Pembelian ia lakukan per hari. Artinya, Frans tidak menyetok kedelai terlalu banyak di tempat produksinya.

“Iya [masalahnya di harga yang mahal saja]. Per hari aku. Sauwong [ke seorang pedagang kedelai],” katanya.

Baca Juga: Harga Pangan di Pasar Legi dan Pasar Nusukan Stabil, Tiga Komoditas Turun Harga

Dari catatan pantauan harga di Pasar Legi Solo, Jumat (30/9/2022), harga kedelai impor sudah mencapai Rp13.500/kg, padahal

Sementara itu, pengusaha olahan kedelai di Kampung Pucangsawit, Kelurahan Pucangsawit, Jebres, Helena Suparti pun juga menuturkan ia masih mudah untuk mendapatkan bahan baku kedelai. Namun lagi-lagi, mahalnya harga kedelai masih menjadi masalah baginya.

“Tidak [kesulitan], stok masih mencukupi. Tapi ya itu harganya naik terus,” kata dia kepada Solopos, Jumat.

Sebagai produsen, Parti juga merasakan tingginya harga kedelai. Sebagai produsen bahan olahan kedelai setengah jadi, Parti mengatakan saat ini harga kedelai sudah hampir menyentuh Rp13.000/kg. Meski di sisi lain harga minyak goreng sudah turun menjadi Rp12.000/kg.

“Bahan baku itu kedelai Rp13.000/kg, minyak goreng Rp12.000/kg [sudah] turun,” sambungnya.

Baca Juga: Harga Kedelai Stabil Tinggi, Perajin Tempe Wonogiri Terpaksa Perkecil Ukuran

Dari pengalamannya, harga kedelai memang naik sedikit demi sedikit. Biasanya naik Rp125/kg hingga Rp150/kg.

“Iya, naiknya sedikit-sedikit, tapi tiap hr naik. Naiknya kadang Rp125/kg, kadang Rp150/kg gitu,” tuturnya.

Baru-baru ini, produsen tahu tempe meminta pemerintah segera menyalurkan selisih harfa kedelai yang sejak Juli lalu berhenti. Dikutip dari Bisnis.com, Kementerian Perdagangan (Kemendag) pun buka suara mengenai desakan itu.

Selisih harga kedelai baru disalurkan pada April, Juni dan pertengahan Juli sebanyak 10 persen atau 80.000 ton dari 800.000 ton atau senilai Rp800 miliar. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Syailendra mengakui bahwa penyaluran kembali selisih harga kedelai belum terserap semua. “Iya [10 persen]. Memang belum terserap semua,” ujar Syailendra, Selasa (27/9/2022) seperti dikutip dari Bisnis.com.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode