Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Pentingnya Jaga Mental Kolektif Cegah Kerusuhan Kanjuruhan Malang Terulang

Menjaga mental kolektif massa sangat penting untuk mencegah berulangnya kerusuhan serupa insiden Kanjuruhan Malang terulang.
SHARE
Pentingnya Jaga Mental Kolektif Cegah Kerusuhan Kanjuruhan Malang Terulang
SOLOPOS.COM - Ilustrasi kerumunan massa. (Freepik.com)

Solopos.com, SOLO-Psikolog sosial Dr. Juneman Abraham, S.Psi, M.Si menekankan pentingnya menjaga mental kolektif untuk mencegah insiden seperti kerusuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, setelah pertandingan sepak bola Liga 1 antara Persebaya Surabaya dengan Arema FC pada Sabtu (1/10/2022).

Menjaga mental kolektif massa tetap positif penting sehingga ketika terjadi sesuatu yang tidak sesuai ekspektasi, masyarakat tetap bisa rasional menghadapi kejadian tersebut.

PromosiAngkringan Omah Semar Solo: Spot Nongkrong Unik Punya Menu Wedang Jokowi

“Ini bukan perkara pendidikan mental individu, melainkan soal kebutuhan akan mental model yang baik, fair, damai dalam suasana kolektif. Massa bisa mengimitasi atau meniru model yang baik jika ada banyak contoh,” kata Juneman yang juga Ketua Kompartemen Riset dan Publikasi, Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) dikutip dari Antara, Minggu (2/10/2022).

Baca Juga: Penyelidikan Dimulai, Kapolri Berjanji Usut Tuntas Tragedi Kanjuruhan Malang

Menjaga mental kolektif massa sangat penting untuk mencegah berulangnya kerusuhan serupa. Adapun kumpulan orang banyak atau bisa disebut juga massa dalam teori bernama Psikoanalisis Sosial digambarkan memiliki karakter yang bersifat cair.

Bersifat cair dalam artian, meski terdiri dari kumpulan orang yang rasional, selalu ada peluang massa itu bersikap impulsif atau berbuat sesuatu tanpa berpikir panjang, reaktif, mudah tersinggung, dan mudah meniru perbuatan pihak lain yang tergabung dalam massa itu.

Kondisi itu juga menggambarkan mental kolektif yang sebenarnya bisa menghasilkan hasil positif apabila gaung dan pesan positif ditonjolkan.

Kondisi ini tidak hanya terbatas pada penonton sepak bola saja, tapi juga kumpulan massa lainnya di berbagai lini kehidupan seperti penonton konser bahkan masyarakat yang mendukung pencalonan tokoh politik.

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan, YLBHI Kecam Tindakan Polisi & Minta Negara Tanggung Jawab

Untuk itu, jika mengambil konteks pertandingan olahraga, ada baiknya ketika suatu klub mengalami kekalahan pendukung justru sebisa mungkin menyikapi kekalahan tersebut dengan lebih dewasa dan tidak meluapkan emosinya ke arah negatif seperti berucap kata tak pantas ataupun melempar barang ke klub lawan.

“Maka kita semua perlu mengusahakan untuk mengumpulkan contoh-contoh perilaku massa yang baik (tidak hanya dalam konteks olah raga) dan saling menularkan kisah-kisah tersebut,” kata Juneman.

Pria yang juga Kepala Kelompok Riset Etika di Universitas Bina Nusantara itu pun mengungkapkan bahwa pelajaran lainnya yang bisa dipetik adalah dari segi psikologi lingkungan.

Komunikasi dan respons petugas yang bertanggung jawab untuk ketertiban dan keamanan sebuah massa perlu mengedepankan komunikasi yang humanis sehingga tujuan menjaga sebuah acara berlangsung kondusif bisa tercapai.

Baca Juga: Klub-Klub Liga Inggris Sampaikan Belasungkawa atas Tragedi Kanjuruhan

“Respons-respons yang mengatasi kekerasan atau kerusuhan dengan jalan yang agak instan perlu selalu dipinggirkan sebagai jalan utama. Aparat perlu membangun resiliensi atau ketabahan fisik, pikiran, maupun emosi ketika menghadapi massa. Ini sangat penting,”katanya.

Adapun ketika hubungan yang harmonis dibangun oleh para petugas keamanan dalam hal ini seperti polisi dan masyarakat maka nantinya komunikasi seperti imbauan ataupun ajakan yang bersifat positif justru akan lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Selain menjaga mental kolektif untuk cegah kerusuhan berulang, penting pula melatih mental pemenang pada masyarakat sejak dini.  Mental pemenang yang dimaksud ialah bukan saja bisa menaklukkan lawan namun mental yang bisa menerima kelebihan serta kekurangan lawan maupun diri sendiri.

Dengan demikian, ketika suatu pertandingan atau kegiatan berjalan tidak memenuhi ekspektasi maka baik secara individu maupun massa, masyarakat bisa menyikapi dengan bijak tanpa perlu menciptakan peristiwa yang merugikan banyak orang lain.

 

 




Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode