PENGANIAYAAN WONOGIRI : Motif Penganiayaan: Tiap Ingat Mantan Suami, Ibu Hajar Balitanya

PENGANIAYAAN WONOGIRI : Motif Penganiayaan: Tiap Ingat Mantan Suami, Ibu Hajar Balitanya
SOLOPOS.COM - Foto kolase wajah Sy, 4, balitan asal Slogohimo, Wonogiri, yang diduga dianiaya ibu kandungnya sendiri. (Istimewa)

Penganiayaan di Wonogiri yang dialami anak balita oleh ibu kandungnya sendiri perlahan terkuak motifnya.

Promosi"Hei, Kita Masih Pacaran Kan?" Begitu Drama Layar Indonesia

Solopos.com, WONOGIRI — Perlahan, motif penganiayaan terhadap anak balita berusia 4 tahun, Asita Dea Anggraeni, oleh ibu kandungnya sendiri, Sri Rahayu, 31, terkuak. Perempuan itu kesal bukan karena anaknya nakal, melainkan dendam terhadap mantan suaminya yang tak lain adalah ayah korban.

Hal itu diungkapkan oleh Kapolres Wonogiri, AKBP Windro Akbar Panggabean, Kamis (9/4/2015) sore. Dalam sebuah wawancara via sambungan satelit yang ditayangkan TV One, Windro mengungkapkan penganiayaan itu dilakukan setiap kali ayah tiri Asita tidak berada di rumah.

“Jadi setiap kali dia melihat korban, dia teringat suami pertamanya yang sudah meninggalkan dia. Itu dilakukan saat suaminya [yang kedua] tak ada di rumah,” kata Windro. Penganiayaan itu pun tak hanya terjadi sekali, tapi berkali-kali.

Sebelumnya, diberitakan Solopos.com, Rabu (2/9/2015), seorang warga Slogohimo, Sunar, menceritakan tersangka adalah seorang janda yang sudah menikah lagi dengan seorang pria bernama Didik.

Sementara itu, Asita Dea Anggraeni, masih trauma mendengar nama ibunya disebut. Saat ini korban masih menjalani masa pendampingan oleh psikolog. Korban mengalami luka lebam di kedua matanya karena disodok dengan kayu berdiameter 4 cm dan panjang sekitar 50 cm oleh ibu kandungnya.

Hal itu dilakukan karena ibu korban merasa kesal. Menurut hasil penyelidikan yang dilakukan Polres Wonogiri, Sri memang sering menyakiti anaknya. Bahkan perlakukan sang ibu, sudah menimbulkan dampak psikologis terhadap Asita. Sampai Jumat (4/9/2015), Asita masih mengalami trauma. Dia terlihat ketakutan ketika ada seseorang yang menyebut nama ibunya.

“Saat ini kondisinya [Asita] sudah baik, sudah ceria. Tapi trauma masih muncul jika mendengan kata ‘mami’ [sebutan untuk ibunya], atau ketemu banyak orang. Dia akan bersembunyi,” kata Kepala Badan Keluarga Berencana Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Perempuan (BKBKSPP) Wonogiri, Reni Ratnasari, saat dihubungi Solopos.com, Jumat.

Untuk itu pendampingan pun masih dilakukan, sampai kondisi psikologis anak membaik. Dia mengatakan proses pendampingan juga melibatkan psikolog. Belum bisa dipastikan lamanya proses pendampingan tersebut. Sebab hal itu juga dipengaruhi kondisi psikologis anak. “Kami sudah mendatangkan psikolog. Pendampingan dilakukan menyesuaikan trauma anak,” kata dia. Saat ini Asita dirawat di rumah kerabatnya, di Slogohimo.

Sementara itu Kasatreskrim AKP David Manurung mengatakan saat ini Sri yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus penganiayaan anak masih dirawat di RSUD dr. Sudiran Mangun Sumarso, Wonogiri karena mengalami pendarahan pada kandungannya.

“Tersangka masih dirawat di RSUD,” kata dia, Jumat. David juga mengatakan proses pemeriksaan untuk Sri sudah selesai, dan proses hukum berjalan.


Berita Terkait
    Berita Lainnya
    Promo & Events
    Honda Motor Jateng
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago