Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Penduduknya Paling Sedikit, Ini 5 Fakta Unik Kelurahan Laweyan Solo

Kelurahan Laweyan, Laweyan, yang berpenduduk paling sedikit di Kota Solo menyimpan sejumlah keistimewaan dan keunikan dibanding kelurahan lain.
SHARE
Penduduknya Paling Sedikit, Ini 5 Fakta Unik Kelurahan Laweyan Solo
SOLOPOS.COM - Salah satu gang sempit di Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Solo. Foto diambil Senin (27/6/2022). (Solopos/Afifa Enggar Wulandari)

Solopos.com, SOLO — Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, Solo, memiliki jumlah penduduk paling sedikit dibandingkan 53 kelurahan lainnya di Kota Solo.

Berdasarkan Buku Surakarta Dalam Angka dari Badan Pusat Statistik (BPS) Solo, pada 2020 sebanyak 2.124 jiwa. Angka itu turun dibandingkan 2019 yang mencapai 2.130 jiwa.

PromosiRekomendasi Merek Jeans Terbaik Pria & Wanita, Murah Banget!

Sebagai wiliayah kelurahan dengan jumlah penduduk paling sedikit di Kota Bengawan, Kelurahan Laweyan memiliki sejumlah keistimewaan. Dari sisi sejarahnya sendiri, Laweyan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu

Berikut beberapa keistimewaan Kelurahan Laweyan dibandingkan kelurahan lain di Solo:

Dikenal Sebagai Kampung Batik

Kampung Batik Laweyan menjadi ikon khas Kelurahan Laweyan, bahkan Kecamatan Laweyan. Kawasan tersebut menjadi bukti masa kejayaan industri batik sejak seratusan tahun yang lalu.

Baca Juga: Ini Kelurahan Dengan Jumlah Penduduk Paling Sedikit Di Solo, Wilayahmu?

Dikutip dari laman kampoengbatiklaweyan.org, Kamis (3/2/2022), masa kejayaan industri batik di Laweyan terjadi pada 1900 hingga 1960-an.

Wisatawan yang datang ke Kampung Batik di Kelurahan Laweyan, Solo, dapat menjelajahi berbagai toko batik. Seperti Batik Omah Laweyan Solo, Batik Putra Laweyan, Batik Mahkota Laweyan, Batik Merak Manis, dan masih banyak lagi.

Lurah Laweyan, Agus Wahyu Purnomo, menyebut sekitar 70 persen warga wilayah itu bekerja di industri batik. “Ya bisa dibilang 70 persen ya yang masih bekerja di sektor batik. Beberapa sampai mendatangkan pekerja dari kelurahan dan kecamatan sekitar,” jelasnya saat ditemui Solopos.com di kantornya, Senin (27/6/2022).

Rumah Kuno Berpagar Tinggi

Kelurahan Laweyan dihuni banyak saudagar atau pedagang besar kain batik, bahkan sejak zaman kolonial Belanda. Untuk melindungi asetnya, para saudagar batik itu membangun rumah dengan pagar yang tinggi.

Baca Juga: Rumah Tertua Jateng di Kampung Batik Laweyan Solo Tinggalan Majapahit

Sampai sekarang pun, rumah-rumah bergaya kolonial atau tradisional di Kelurahan Laweyan, Solo, masih terjaga kelestariannya. Laman ppid.surakarta.go.id menyebutkan rumah di Laweyan dikelilingi tembok tinggi dan mempunyai regol atau pintu masuk ke halaman rumah yang besar dan kokoh.

“Rumahnya memang tinggi-tinggi, kami menyebutnya pager. Sehingga pagernya masih banyak yang utuh, masih bangunan lama,” jelasnya.

Memang bila dilihat dari luar, pagar rumah-rumah itu tak tampak mewah. Yang ada hanya kesan lawas. Namun bila gerbang dibuka, setelah masuk regol akan dijumpai bangunan rumah dengan arsitektur dan ornamen yang megah.

Gang-Gang Sempit

Salah satu ciri khas Kelurahan Laweyan, Solo, adalah gang-gangnya yang sempit. Dengan kemampuan finansial yang cukup, warga Laweyan seolah berlomba membangun rumah dengan pagar-pagar tinggi yang pada akhirnya melahirkan gang-gang sempit dari sisa lahan antarrumah.

Baca Juga: Rumah Tertua di Jawa Tengah Ada di Kampung Batik Laweyan Solo

“Ya banyak gang sempit. Karena kan pada bangun [pagar] tinggi ya. Dulu saya pernah melayat, awal tugas di sini. Ya bingung, kalau biasa orang sebut gang tikus ya,” imbuh Agus sambil tertawa.

Ia juga mengatakan gang sempit tersebut hanya cukup dilewati orang atau sepeda motor saja. “Ya cuma muat orang jalan kaki, motor saja paling papasan juga agak susah,” jelasnya.’

Rumah Tertua di Solo

Keistimewaan lain Kelurahan Laweyan adalah adalah rumah yang diklaim sebagai yang tertua di Solo, bahkan Jawa Tengah. Rumah itu usian sudah ratusan tahun dan masih dipertahankan bentuk aslinya.

Lokasinya di Kampung Sayangan Wetan, Kelurahan Laweyan. Ketua Forum Pengembang Kampung Batik Laweyan, Solo, Alpha Fabela Priyatmono, saat diwawancarai Solopos.com pada Maret lalu menyebut rumah tertua itu dibangun pada 1740 Masehi.

Baca Juga: Mitos Mbok Mase Juragan Batik Laweyan Solo, Jelmaan Nyi Blorong?

Artinya rumah tersebut sudah berusia 282 tahun, lebih tua dari usia Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang dibangun sekitar 1743 dan ditempati mulai 1745.

Mbok Mase Dan Mas Nganten

Masa kejayaan industri batik di Kelurahan Laweyan Solo tak dapat dipisahkan dengan kisah Mbok Mase dan Mas Nganten yang sangat disegani berkat prestasinya dalam perdagangan batik.

Dalam jurnal Universitas Brawijaya berjudul Pelestarian Kawasan Kampung Batik Laweyan Kota Surakarta, Laweyan memiliki ciri yang khas jika dilihat dari sosial budaya masyarakatnya.

Alpha Fabela Priyatmono dalam Studi Kecenderungan Perubahan Morfologi Kawasan di Kampung Laweyan Surakarta tahun 2004, menyebut di Laweyan terdapat beberapa kelompok sosial.

Baca Juga:Berwisata Sepeda di Kampung Batik Laweyan Solo, Begini Caranya

Kelompok tersebut terdiri dari juragan (pedagang), wong cilik (orang kebanyakan), wong mutihan (Islam atau alim ulama) dan priyayi (bangsawan atau pejabat).

Selain itu, dikenal pula golongan saudagar atau juragan batik dengan wanita sebagai pemegang peranan penting dalam menjalankan roda perdagangan batik yang biasa disebut istilah Mbok Mase.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode