top ear
Penderita Tumor Otak di Wonogiri Ini Ajarkan Bahasa Inggris Gratis
  • SOLOPOS.COM
    Ary Anto (kiri) bersama Ibunya, Sumarsini, di rumah mereka di Dusun Jamban, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Eromoko, Wonogiri, Selasa (25/9/2018). (Solopos-Ichsan Kholif Rahman)

Penderita Tumor Otak di Wonogiri Ini Ajarkan Bahasa Inggris Gratis

Ary Anto, 27, penderita tumor otak yang tinggal di Dusun Jamban, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, membagikan ilmu Bahasa Inggris secara gratis kepada pelajar hingga mahasiswa.
Diterbitkan Rabu, 26/09/2018 - 17:05 WIB
oleh Solopos.com/Newswire,
4 mnt baca -

<p><strong>Solopos.com, WONOGIRI</strong> -- Ary Anto, 27, bangun dari tempat tidurnya lalu berjalan perlahan menuju kursi depan rumahnya di Dusun Jamban, Kelurahan Ngadirejo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri. Wajahnya sedikit pucat. Mata dan pelipis Ary Anto pun menghitam.</p><p>Ary, sapaan akrabnya, lahir di Bengkulu, 14 Februari 1991 saat kedua orang tuanya yang mengikuti transmigrasi. Di usia tiga tahun, ia pindah ke Ibu Kota. Besar di Jakarta ia memulai kariernya sebagai <em>office bo</em>y pada&nbsp;<span style="background-color: #ffffff; color: #626262;">sebuah perusahaa</span>n. Seiring berjalannya waktu, kariernya terus meningkat hingga memiliki jabatan di bagian <a href="https://soloraya.solopos.com/read/20180806/495/932423/ada-taman-bendera-dunia-di-hutan-wonoasri-seper-jatipurno" title="Ada Taman Bendera Dunia di Hutan Wonoasri Seper Jatipurno">HRD perusahaan</a> <em>fashion</em>.</p><p>Punya karakter mandiri dan menyukai tantangan, Ari memutuskan tinggal sendiri dengan menyewa indekos walaupun kediaman orang tuanya tak jauh dari indekosnya. Sejak berpenghasilan pada tahun 2009 ia dapat membeli apapun yang ia mau termasuk berbagai makanan yang ia sukai.</p><p>Ary saat ditemui <em>solopos.com</em> di rumahnya Selasa (25/9/2018) siang bercerita kala itu sangat menyukai makanan cepat saji dari ayam goreng, burger hingga olahan daging setengah matang. Setiap pagi, siang, dan malam seluruh makanannya berbagai olahan daging cepat saji.</p><p>Kebiasaan itu ia lakukan hingga tahun 2017. Meski&nbsp;pindah ke Solo karena tugas perusahaan pada dua tahun lalu, kebiasaan itu tak hilang. Hingga akhirnya, pada Oktober 2017 saat hendak pulang ke Eromoko, Ary Anto <a href="https://soloraya.solopos.com/read/20180923/495/941443/angin-kencang-wonogiri-kakek-sebatang-kara-tewas-tertimpa-runtuhan-rumah" title="https://soloraya.solopos.com/read/20180923/495/941443/angin-kencang-wonogiri-kakek-sebatang-kara-tewas-tertimpa-runtuhan-rumah">merasakan hal aneh</a> pada tubuhnya. Saat sampai di depan rumah ia tak kuat lagi, hingga akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri.</p><p>Ary dilarikan ke rumah sakit di Wonogiri dan ia divonis menderita tumor otak. Berat badannya seketika turun menjadi 35 kilogram dari sebelumnya 60 kilogram. Penyakit tumor otak yang diderita membawanya kembali ke Jakarta.</p><p>Saat hendak dioperasi, kondisi tubuh Ary memburuk. Dia dibawa ke rumah sakit di Tangerang dan saat itu ia tahu virus toksoplasma lah penyebabnya.</p><p>Ary pun kembali ke Wonogiri. Setahun berdiam diri membuat Ary Anto merasa tak nyaman. Berbekal kemampuan Bahasa Inggris yang ia kuasai secara autodidak dari pengalaman bekerja,&nbsp;Ary menawarkan mengajarkan Bahasa Inggris secara sukarela kepada anak-anak di sekitar rumahnya.</p><p>Kini, sudah tujuh orang <a href="https://soloraya.solopos.com/read/20180921/495/941183/remaja-giriwoyo-wonogiri-tertangkap-nyolong-3-karung-mete" title="Remaja Giriwoyo Wonogiri Tertangkap Nyolong 3 Karung Mete">yang menimba ilmu</a> Bahasa Inggris dengannya, mulai siswa SD hingga mahasiswa.</p><p>&ldquo;Saya dapat menguasai Bahasa Inggris bukan dari sekolah melainkan dari dunia kerja. Saya hanya lulusan SMK. Saya memiliki utang rasa kepada lingkungan saya untuk mengajarkan mereka secara praktis. Tiga bulan dapat menguasai Bahasa Inggris sebagai bekal mereka nanti dalam dunia kerja. Semoga ini menjadi amal jariyah saya,&rdquo;ujar Ary.</p><p>Ary Anto mengaku tidak pesimistis dalam menjalani hidup, walaupun setengah tubuhnya sulit digerakkan. Sesekali dia membantu orang tua membungkus tempe, ia seringkali diminta memberikan motivasi kepada rekan-rekannya melalui pesan <em>online</em>.</p><p>&ldquo;Saya ingin mendedikasikan hidup saya pada masyarakat dan yang jelas saya ingin sembuh,&rdquo; suaranya tegas.</p><p>Ibunda Ary, Sumarsini, sangat kentara menahan tangis namun air mata wanita 62 tahun itu jatuh juga ketika melihat perjuangan anaknya sejak setahun lalu.</p><p>Berbagai tawaran obat hingga ramuan telah ia terima hingga saat ini, namun ia tak punya biaya untuk membeli itu semua. Namun ia yakin putra kesayangannya dapat sembuh dalam menjalankan skenario Tuhan.</p><div></div>

Editor : Rohmah Ermawati ,
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com
Kata Kunci :

berita terkini