PENCEMARAN LINGKUNGAN BOYOLALI : Sawah di Kuwiran Tercemar Limbah Tekstil

SHARE
PENCEMARAN LINGKUNGAN BOYOLALI : Sawah di Kuwiran Tercemar Limbah Tekstil
SOLOPOS.COM - Air di sawah milik petani Desa Kuwiran, Banyudono berwarna kuning. Diduga hal itu karena pabrik tekstil langsung membuang limbah ke sawah petani. (Hijriyah Al Wakhidah/JIBI/Solopos)

Pencemaran lingkungan Boyolali, sejumlah sawah di Desa Kuwiran, Banyudono telah tercemar limbah tekstil.

Solopos.com, BOYOLALI–Lahan pertanian di Desa Kuwiran, Kecamatan Banyudono, tercemar limbah yang diduga adalah limbah tekstil. Limbah itu diduga dibuang di sungai tanpa diolah sehingga masuk ke saluran irigasi sawah milik petani.

PromosiCara Meningkatkan Omzet & Performa di Tokopedia, Enggak Sulit Kok!

Informasi yang diterima Solopos.com dari salah seorang petani di Desa Kuwiran, Ngadiman, 62, pencemaran limbah sudah berlangsung cukup lama. Dampaknya tanah sawah menjadi kekuning-kuningan. Unsur hara yang sangat penting untuk kesuburan tanah juga rusak akibat limbah tersebut. Hewan-hewan kecil seperti belut, cacing, maupun mikro organisme lainnya pun tak dapat hidup. Petani mengaku sangat dirugikan dengan adanya limbah tersebut.

“Ini kan musim kemarau. Memang kami butuh air buangan dari pabrik untuk mengairi sawah kami, tetapi yang namanya limbah kan seharusnya diolah dulu, tidak langsung dibuang begitu saja,” kata Ngadiman, saat ditemui wartawan, Jumat (6/11/2015).

Yang dia ketahui, air limbah tersebut dibuang pada malam hari. Limbah menimbulkan warna dan bau menyengat. Air limbah yang masuk ke sawah-sawah petani masih cukup panas.

Kondisi yang sama juga dialami Purnomo, petani lain di desa tersebut. Sawahnya bahkan dipenuhi endapan air limbah.

Ekspedisi Energi 2022

“Ini warnanya sampai kuning-kuning begini,” kata dia.

Dia dirugikan dengan pencemaran limbah pabrik. Tanaman padi yang baru saja ditanam layu dan menguning. Dia khawatir jika tidak segera ditangani, lahan pertanian itu menjadi tidak layak lagi untuk ditanami padi.

“Ada yang masih bisa tumbuh tapi tanamannya kurus, anakannya sedikit.”

Dia menduga limbah dari pabrik tekstil itu dibuang di Sungai Kramat hingga akhirnya masuk ke saluran irigasi milik petani.

Kepala Desa Kuwiran, Herie Sarwo Edi, akan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk menyikapi masalah pencemaran limbah di lahan pertanian.

“Seharusnya jangan dibuang begitu saja. Kemungkinan besar memang limbah itu dibuang ke sungai sampai masuk ke saluran irigasi.” Dia mengaku belum tahu sumber limbah tersebut. Namun dia berharap perusahaan manapun harus mengolah limbahnya terlebih dahulu sebelum dibuang.



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
Promo & Events
Berita Terkini
Indeks Berita

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago