[ X ] CLOSE

Pemkab Madiun Petakan 8 Kecamatan Rawan Bencana, Ini Daftarnya

Pemkab Madiun memetakan daerah rawan bencana alam banjir dan tanah longsor di 8 kecamatan dari total 15 kecamatan di Kabupaten Madiun.
Pemkab Madiun Petakan 8 Kecamatan Rawan Bencana, Ini Daftarnya
SOLOPOS.COM - Bupati Madiun Ahmad Dawami Ragil Saputro mengecek kesiapan perlengkapan untuk menghadapi berbagai bencana saat Apel Kesiapsiagaan Bencana di Kecamatan Saradan, Senin (25/10/2021). (Istimewa/Pemkab Madiun)

Solopos.com, MADIUN — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Madiun memetakan daerah rawan bencana alam banjir dan tanah longsor di 8 kecamatan dari total 15 kecamatan di Kabupaten Madiun.

Daerah rawan bencana banjir, yakni Kecamtan Saradan, Mejayan, Pilangkenceng, Balerejo, dan Wungu. Daerah rawan bencana tanah longsor, yaitu Kecamatan Dagangan, Gemarang, Kare, dan Saradan. Kecamatan Saradan terdeteksi rawan bencana alam banjir dan tanah longsor.

Baca Juga : Janda Madiun Ditemukan Meninggal Pendarahan di Telinga, Pembunuhan?

Pemkab Madiun telah memetakan potensi bencana yang akan terjadi pada musim penghujan. Langkah itu sebagai bentuk bersiap siaga mengantisipasi bencana hidrometeorologi. Bencana hidrometeorologi merupakan bencana yang dampaknya dipicu kondisi cuaca dan iklim dengan berbagai parameter.

Bupati Madiun, Ahmad Dawami Ragil Saputro, menyampaikan bencana hidrometeorologi sudah terjadi di Madiun. Dia mencontohkan peristiwa angin kencang pekan lalu berdampak pada puluhan rumah di Madiun rusak.

“Ini bentuk kesiapsiagaan dalam rangka mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi. Sesuai BMKG, potensi ini ada di Kabupaten Madiun. Makanya kami lakukan kesiapsiagaan,” kata Bupati saat Apel Kesiapsiagaan Bencana di Kecamatan Saradan, Senin (25/10/2021).

Baca Juga : Tercebur Sumur 12 Meter, ODGJ Perempuan di Ponorogo Selamat

Bupati yang akrab disapa Kaji Mbing itu memprediksi hujan turun lebih deras pada musim penghujan tahun ini. Untuk itu, apel bertujuan menyiapkan personel yang akan merespon perubahan-perubahan iklim dalam konteks mewaspadai bencana hidrometeorologi. “Bencana hidrometeorologi ini seperti angin puting beliung, hujan deras, banjir, dan lainnya. Sehingga perlu antisipasi,” ujar dia.

Bupati mencontohkan bentuk antisipasi yang dilakukan, seperti memangkas dahan pohon yang sudah membahayakan. Harapannya pohon tersebut tidak terlalu berdampak pada warga sekitar apabila roboh.

Di sisi lain, Kaji Mbing menyampaikan penanganan bencana alam di tengah pandemi Covid-19 berbeda karena akan berisiko penularan Covid-19 lebih tinggi. “Untuk itu, kesiapsiagaan bencana ini untuk mengantisipasi semuanya. Supaya bisa meminimalkan dampak dari bencana itu,” ujarnya.

Baca Juga : Tak Kuat Nanjak, Mobil Mewah Terjun ke Jurang Ponorogo

Kaji Mbing menuturkan petugas mengecek semua sarana prasarana dan dipastikan berfungsi. Kalau ada yang membutuhkan perbaikan, kata dia, harus segera diperbaiki. “Kami keluarkan biaya di depan biar pun itu mahal. Akan tetap terasa murah saat bencana itu hadir. Bicara kebencanaan, investasi kesiapsiagaan dalam rangka mengurangi risiko masyarakat.”



Berita Terkait
    Promo & Events
    Ekspedisi Ekonomi Digital 2021
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago