top ear
Ilustrasi perempuan mengenakan masker (Pixabay)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi perempuan mengenakan masker (Pixabay)

Pelanggaran Protokol Kesehatan Solo Meningkat, Sebagian Ngaku Tak Percaya Covid-19

Jumlah pelanggaran protokol kesehatan Kota Solo meningkat, bahkan ada yang terang-terangan mengaku tidak percaya adanya Covid-19.
Diterbitkan Jumat, 4/12/2020 - 18:52 WIB
oleh Solopos.com/Mariyana Ricky P.D
3 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Jumlah pelanggaran protokol kesehatan Kota Solo terus meningkat selama masa pandemi Covid-19 yang telah memasuki bulan ke-10.

Dari hasil razia Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Solo, warga yang abai mengenakan masker pada November jauh lebih banyak ketimbang bulan sebelumnya.

Mayoritas yang tertangkap mengaku lupa, sedang makan atau merokok, serta tak sedikit yang terang-terangan mengaku tidak percaya adanya virus SARS CoV-2.

Geger Penembakan Mobil Pemilik Duniatex Di Tengah Penjualan 2 Mal dan 1 Hotel

Kepala Satpol PP Solo, Arif Darmawan, menyampaikan ihwal pelanggaran protokol kesehatan tersebut kepada wartawan, Jumat (4/12/2020).

Arif mengatakan temuan tersebut mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Solo menambah durasi hukuman kerja sosial dari yang semula 15 menit menjadi delapan jam.

Lamanya masa hukuman merupakan hasil musyawarah bersama Forkopimda, Kamis (3/12/2020). Mereka yang kedapatan tidak memakai masker tak hanya harus membersihkan parit selama 15 menit tapi hingga sehari penuh.

Geledah Rumah Tersangka Penembakan Mobil Bos Duniatex, Polisi Solo Temukan Lebih Banyak Peluru

Menyediakan Makanan

Hukuman juga berlaku bagi pelanggaran protokol kesehatan lainnya di Solo yakni berkerumun dan mengabaikan jarak. Pemkot Solo menyediakan makanan bagi pelanggan yang menjalani hukuman itu.

Sanksi yang lebih berat tersebut mulai berlaku per 10 Desember. “Lokasi bersih-bersih enggak lagi sungai, tapi parit sekitar Beteng Vastenburg dan seharian atau delapan jam. Kami sedang menunggu Surat Edaran [SE] terkait itu jadi, kemudian kami terapkan,” imbuh Arif.

Ia mengatakan pendeknya durasi hukuman yang hanya 15 menit selama ini membuat sebagian warga cenderung menyepelekan. Mereka menganggap hukuman itu terlalu ringan dan mudah lantas abai menerapkan protokol kesehatan.

Berat Lur! Sanksi Bersihkan Sungai Bagi Pelanggar Protokol Kesehatan Solo Ditambah Dari 15 Menit Jadi Sehari

Sementara itu pada saat yang sama, kasus Covid-19 terus melonjak. Kapasitas ruang isolasi rumah sakit (RS) mendekati penuh dan angka kematian perlahan terkatrol naik.

“Padahal pencegahannya mudah, protokol kesehatan itu harus jadi kebiasaan. Jumlah pelanggaran protokol kesehatan Kota Solo pada November mencapai 1.026, September dan Oktober jauh lebih tinggi,” jelasnya.

Arif mengakui pengenduran aturan kegiatan bikin jumlah kasus naik karena masyarakat juga semakin abai dengan protokol kesehatan. "Kami sangat prihatin dengan fakta ini. Apalagi yang benar-benar tidak percaya. Kami kesulitan sosialisasi kalau ada warga yang bebal," katanya.

Penembakan Mobil Bos Duniatex Berawal Dari Persoalan Tanah Dan Utang Rp16 Miliar, Begini Ceritanya

Haul Habib Ali

Selain mengawasi pelanggaran protokol kesehatan, Satpol PP Kota Solo saat ini tengah menghalau pendatang dari luar kota yang berencana mengikuti Haul Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi.

Padahal, kegiatan tersebut sudah jauh-jauh hari diumumkan ditiadakan. Satpol PP menggelar pasukan untuk menghalau mereka pada sejumlah pintu masuk Kota Solo maupun stasiun dan terminal.

Petugas meminta mereka kembali pulang ke kota asal. Aturan karantina 14 hari di Beteng Vastenburg baru berlaku per 15 Desember.

5 Hari Jelang Pilkada Sukoharjo, Tim EA Laporkan Akun FB Yayoek Yayoek Ke Polisi, Ada Apa?

Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, mengatakan kasus Covid-19 Solo menjadi salah satu dari 10 besar terbanyak se-Jawa Tengah.

Guna memutus mata rantai penularan virus itu, Rudy, sapaan akrabnya, memandang perlu memperberat sanksi bagi pelanggaran protokol kesehatan di Kota Solo.

Lukas Jayadi Tersangka Penembakan Mobil Bos Duniatex Ternyata Pebisnis Sukses Bidang Otomotif Di Solo

Sanksi tersebut juga merupakan masukan Muspida. Termasuk larangan berkerumun untuk warung makan. Namun, perincian aturan bagi pelaku usaha kuliner akan ia sampaikan lebih detail dalam Surat Edaran (SE).

“Kerumunan itu paling banyak menyumbang kasus baru. Misalnya ada kerumunan lalu kami sweeping, saya yakin pasti ada yang positif Covid-19,” ucapnya.


Editor : Profile Suharsih
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com

    berita terpopuler

    Iklan Baris

    Properti Solo & Jogja

    berita terkini