PBB Serukan Penghapusan Senjata Nuklir, Turki Malah Pengin Beli Rudal

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, menyatakan senjata nuklir harus dilenyapkan dari dunia dan era baru dialog, harapan dan perdamaian harus dimulai.
PBB Serukan Penghapusan Senjata Nuklir, Turki Malah Pengin Beli Rudal
SOLOPOS.COM - Sekjen PBB, Antonio Guterres. (Reuters)

Solopos.com, NEW YORK — Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, menyatakan senjata nuklir harus dilenyapkan dari dunia dan era baru dialog, harapan dan perdamaian harus dimulai.

Hal itu ditegaskan Antonio Guterres saat berbicara pada Hari Internasional untuk Penghapusan Total Senjata Nuklir. Menurutnya, mengatasi ancaman senjata nuklir sudah menjadi tugas utama PBB sejak awal.

“Pada 1946, resolusi Majelis Umum pertama mengupayakan penghapusan persenjataan nasional senjata atom dan semua senjata utama lainnya yang dapat disesuaikan dengan pemusnahan massal,” kata pejabat tertinggi PBB itu, seperti dilansir Antaranews, Senin (27/9/2021).

Baca Juga: Diserang soal Papua, Indonesia Tampar Balik Vanuatu

Pimpinan PBB menunjukkan bahwa meski secara keseluruhan jumlah senjata nuklir menurun selama beberapa dekade, namun sekitar 14.000 senjata di seluruh dunia masih ditimbun.

Kondisi itu, menurut Guterres membuat dunia menghadapi tingkat risiko nuklir paling tinggi dalam hampir empat dekade.

“Kini saatnya untuk mengusir ancaman ini selamanya, melenyapkan senjata nuklir dari dunia kita dan mengantarkan era baru dialog, harapan dan perdamaian bagi semua orang,” ujarnya.

Baca Juga: Tepi Barat Memanas, Pasukan Israel Bunuh Empat Warga Palestina

Tidak Bisa Ikut Campur

Namun di sisi lain, Presiden Tayyip Erdogan mengatakan Turki justru akan membeli lebih banyak sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia. Washington mengatakan S-400 menimbulkan ancaman bagi jet tempur F-35 dan sistem pertahanan NATO yang lebih luas.

Turki mengatakan tidak dapat memperoleh sistem pertahanan udara dari sekutu NATO mana pun dengan persyaratan yang memuaskan.

“Di masa depan, tidak ada yang bisa ikut campur dalam sistem pertahanan seperti apa yang kami peroleh, dari negara mana dan pada tingkat apa. Tidak ada yang bisa mengganggu itu. Kami adalah satu-satunya yang membuat keputusan seperti itu,” kata Erdogan, Minggu (26/9/2021).

Baca Juga: Akhirnya Indonesia Pilih Kapal Perang Baru Desain Inggris

Amerika Serikat memberlakukan sanksi terhadap pimpinan Direktorat Industri Pertahanan Turki, Ismail Demir, dan tiga karyawan lainnya pada Desember setelah Turki memperoleh kiriman gelombang pertama S-400.

Pembicaraan berlanjut antara Rusia dan Turki tentang pengiriman gelombang kedua, yang berulang kali dikatakan Washington hampir pasti akan memicu sanksi baru.

“Kami mendesak Turki di setiap level pertemuan untuk tidak mempertahankan sistem S-400 dan menahan diri dari membeli peralatan militer tambahan Rusia,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri AS ketika ditanya mengenai Erdogan.

“Kami terus menjelaskan kepada Turki bahwa setiap pembelian senjata baru Rusia yang signifikan akan dikenai sanksi di bawah Undang-Undang Melawan Musuh Amerika Melalui Sanksi [CAATSA],” tambah juru bicara itu.

Baca Juga: Susahnya Mencari Keadilan untuk Mendiang Adelina di Malaysia

Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS menganggap Turki sebagai sekutu dan teman dan mencari cara untuk memperkuat kemitraan mereka bahkan ketika mereka tidak setuju.

Erdogan akan bertemu dengan Presiden Vladimir Putin di Rusia pada Rabu (29/9/2021) untuk membahas berbagai isu termasuk kekerasan di barat laut Suriah.

Erdogan juga mengatakan bahwa Presiden AS Joe Biden tidak pernah mengangkat masalah rekam jejak hak asasi manusia Turki.

Berdasarkan data dari Komite untuk Melindungi Jurnalis (CPJ), Turki merupakan salah satu negara yang memenjarakan jurnalis paling banyak.

Berita Terkait
    Promo & Events
    Berita Terkini
    Indeks Berita

    Apa yang ingin anda baca?

    :
    :
    Night Mode
    Notifications
    Support
    Privacy
    PasswordUpdated 15 days ago