Tutup
Scroll untuk melanjutkan membaca

Panen Jagung Melimpah, Distribusi Susah, Ini Penyebabnya

Kepala NFA Arief Prasetyo Adi mengatakan pihaknya tengah melakukan sinergi dengan Kementerian Perhubungan mendorong percepatan mobilisasi hasil pangan dengan optimalisasi fungsi pelabuhan sebagai upaya mempercepat arus pergerakan barang terutama bahan pangan.
SHARE
Panen Jagung Melimpah, Distribusi Susah, Ini Penyebabnya
SOLOPOS.COM - Petani memanen jagung untuk bahan baku pakan ternak ayam di Dusun Cikatomas, Kecamatan Cijengjing, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, beberapa waktu lalu. Kementerian Pertanian menargetkan produksi jagung nasional 2022 mencapai 23,1 juta ton dengan luas tanam 4,26 juta hektare. (Antara/Adeng Bustomi)

Solopos.com, JAKARTA–Badan Pangan Nasional (National Food Agency/NFA) mengatakan Provinsi Nusa Tenggara Barat memiliki potensi jagung berlimpah.

Namun, tidak dapat terdistribusi dengan cepat lantaran kelemahan sistem logistik pangan.

PromosiJos! Petani & Peternak Klaten Bisa Jadi Penopang Kedaulatan Pangan

Padahal, jagung juga menjadi salah satu sumber pakan ayam ras dan ayam petelur yang saat ini harganya meroket.

Kepala NFA Arief Prasetyo Adi mengatakan pihaknya tengah melakukan sinergi dengan Kementerian Perhubungan mendorong percepatan mobilisasi hasil pangan dengan optimalisasi fungsi pelabuhan sebagai upaya mempercepat arus pergerakan barang terutama bahan pangan.

Selain Kemenhub, pihaknya pun terus melakukan kolaborasi dengan BUMN dan swasta.

Baca Juga: Panen Jagung Nusantara di Grobogan, Mentan Pastikan Stok Aman

“NFA bersama Kementerian Perhubungan, Bulog, PT Berdikari member of ID FOOD, PINSAR, PT. Seger Agro Nusantara, serta Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Pemerintah Kabupaten Sumbawa, dan Kabupaten Dompu, bergotong royong percepatan logistik pangan, ujarnya saat meninjau lokasi panen jagung, Sumbawa lewat rilisnya, Sabtu (25/06/2022).

Jika ekosistem pangan ini sudah berjalan, Arief meyakini bahwa produksi pangan yang ada di NTB seperti jagung yang cukup berlimpah akan menjadi sumber pangan bahkan bisa didorong untuk ekspor.

“Kalau stoknya cukup kita bisa simpan untuk sampai panen berikutnya, sisanya kita dorong ekspor ini adalah waktunya kita bersaing keluar sesuai arahan Bapak Presiden,” ujarnya.

Tenaga Ahli Menteri Perhubungan Andre Mulpyana mengungkapkan bahwa pihaknya akan fokus dalam membantu mengurai penyempitan-penyempitan arus keluar (bottle neck) komoditas pangan melalui jalur laut sebagai upaya memperlancar distribusi pangan antarwilayah.

“Di NTB ini kita banyak melakukan studi untuk pembukaan jalur supaya tidak terjadi bottle neck tadi. Selama ada pasar, selama ada sumber, selama ada barangnya kita akan optimalisasikan,” ungkap Andre.

Baca Juga: Jokowi: Sorgum, Alternatif Pangan Pengganti Beras dan Jagung

Untuk mempercepat aktivtas bongkar muat khususnya komoditas jagung yang menjadi andalan wilayah ini, akan diupayakan percepatan produktivitas pelabuhan Badas Sumbawa dengan menambah jumlah crane operasional dan alat grain pump.

Begitu pula di Pelabuhan Bima dibutuhkan perluasan fasilitas pelabuhan dan penambahan frekuensi kapal.

Sementara itu, Perum Bulog saat ini tengah membangun Pabrik Corn Drying Center (CDC) atau pusat pengeringan jagung di Desa Nusajaya Kecamatan Manggelewa Kabupaten Sumbawa.

CDC ditargetkan akan beroperasi pada September 2022 untuk mendukung proses hilirisasi jagung sebagai komoditas unggulan yang berlimpah produksinya di Dompu dan Bima.

Kepala Kanwil Bulog Provinsi Nusa Tenggara Barat Abdul Muis mengatakan keberadaan CDC ini akan dioptimalkan untuk memenuhi dua kepentingan antara produsen petani dan konsumen atau peternak.

Baca Juga: Grontol Jagung, Pop Corn Khas Jawa Tengah

“Bulog hadir di tengah sehingga akan tercipta stabilisasi harga, saya yakin Dompu adalah daerah yang punya potensi besar dengan hadirnya Bulog di sini akan menjadi price leader dan penyeimbang ketersediaan kebutuhan Bulog,” ujar dia.

Terdapat silo atau tempat penyimpanan sebanyak tiga unit dengan kapasitas total 14.000 ton.

Sementara untuk alat pengering kapasitas per harinya mencapai 150 ton jagung.

Jika Kadar Air (KA) jagung 18 dibutuhkan waktu sekitar 1-2 jam untuk menjadi KA 15-16. Dengan KA tersebut dapat menjaga daya simpan 2 – 3 bulan dan menekan aflatoksin.

Selain itu, Bulog pun menyerap jagung petani dengan harga Rp4.400 per kg, di atas harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp3.150 per kg.

Hal ini bertujuan Bulog menyerap jagung dengan harga standar, dapat menyelamatkan petani jagung dari kerugian, dan meningkatkan semangat petani untuk bertanam.

Penyerapan Bulog ini bersinergi dengan swasta, salah satunya dengan PT Segar Agro Nusantara.

Berita telah tayang di Bisnis.com berjudul Hasil Jagung NTB Melimpah, tapi Distribusi Susah

 



Berita Terkait
Indeks Berita
Berita Terpopular
Indeks Berita
Berita Lainnya
Indeks Berita
      Promo & Events
      Berita Terkini
      Indeks Berita
      Part of Solopos.com
      Punya akun? Silahkan login
      Daftar sekarang...
      Support - FaQ
      Privacy Policy
      Tentang Kami
      Kontak Kami
      Night Mode