top ear
Sudirman Said (Antara)
  • SOLOPOS.COM
    Sudirman Said (Antara)

Pandemi, Keluarga, dan Komunitas

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu, 21 Oktober 2020. Esai ini karya Sudirman Said, Ketua Institut Harkat Negeri.
Diterbitkan Minggu, 25/10/2020 - 21:18 WIB
oleh Solopos.com/Sudirman Said
7 menit baca

Solopos.com, SOLO -- Angka orang dengan Covid-19 telah mencapai jumlah yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Pada awalnyaada keyakinan Indonesia punya jenis kemampuan tertentu sehingga Covid-19 diperkirakan tidak akan masuk.

Setelah diumumkan pada awal Maret 2020, sejak itu secara perlahan-lahan angka terus bergerak naik. Dari catatan diketahui bahwa 50.000 ribu kasus pertama butuh waktu 115 hari (2 Maret 2020-25 Juni 2020), sementara penambahan dari 250.000 ke 300.000 butuh waktu hanya 11 hari (23 September 2020-4 Oktober 2020). Ketika tulisan ini disusun, angka telah menunjukkan 353.461 kasus.

Kita semua tentu menyadari angka tersebut bukan sekadar simbol matematika, tetapi merupakan peristiwa kehidupan yang menyangkut jiwa manusia. Sejauh ini, yang dipahami dari angka yang diumumkan adalah tentang jumlah mereka yang terpapar, jumlah mereka yang sembuh, dan jumlah mereka yang meninggal dunia.

Bagi kita, angka-angka tersebut sesungguhnya berpotensi digali lebih jauh agar diperoleh hal-hal yang tidak langsung terungkap. Terutama tentang jumlah mereka yang telah terpapar Covid-19. Misalnya, apabila pada Sabtu (17/10/2020) dilaporkan ada penambahan 4.301 kasus, maka angka tersebut tidak hanya berarti jumlah mereka yang tertular.

Angka tersebut juga bisa dilihat sebagai peristiwa yang menunjukkan telah terjadi penularan virus corona kepada 4.301 orang. Dengan menyebut sebagai terjadi kasus penularan, dengan sendirinya layak untuk ditanyakan: siapa yang telah menularkan virus kepada jumlah yang telah diumumkan?

Jika ada yang tertular, pasti ada yang menularkan. Perkataan ”tertular” telah menunjukan peristiwa yang berlangsung adalah proses yang tidak disengaja dan tentu tidak diketahui yang bersangkutan. Yang tertular telah terungkap, sementara sang penular masih tersembunyi atau tidak diketahui keberadaanya.

Berapa orang di luar sana yang telah menularkan kepada para pengidap Covid-19? Apakah orang yang menularkan ini adalah ”ujung” atau dia sendiri juga adalah korban penularan? Jika dia adalah ujung, atau bukan pihak yang merupakan korban penularan, apakah hal tersebut mungkin?

Status ini rasanya hanya boleh disandang oleh persebaran awal di Wuhan. Dalam konteks kekinian dan kedisinian, setiap yang disebut ”penular” pada dasarnya adalah juga korban penularan, alias ada pihak yang telah menularkan virus kepadanya.

Ada kemungkinan bahwa yang menularkan, segera setelah terjadi proses penularan, dia sendiri sembuh akibat sistem imum dalam tubuh baik. Hal ini tidak membatalkan kenyataan dari jumlah yang diumumkan secara implisit termuat pesan bahwa ada sejumlah orang di luar sana yang tidak diketahui, bertindak sebagai yang menularkan.

Masalahnya apakah jumlah mereka sama dengan jumlah yang tertular, lebih kecil atau justru lebih besar? Artinya, apabila hari ini diumumkan sebanyak x kasus, dapat dikatakan besar kemungkinan jumlah yang terpapar di luar sana jauh lebih besar daripada yang dapat dideteksi.

Kita ketahui kasus ini tidak dapat dideteksi secara kasat mata dan membutuhkan laboratorium untuk mengetahui secara persis bahwa seseorang telah tertular Covid-19. Ada gejala yang dapat diamati, namun hal tersebut tidak dapat digunakan sebagai penentu. Kepastian seseorang terinfeksi virus atau tidak sepenuhnya bergantung pada proses laboratoriun atau proses pengecekan medis.

Makin tinggi kemampuan tenaga medis mengecek dan melacak akan makin besar pula kasus harian yang terdeteksi. Jika boleh dikatakan bahwa dalam konteks hari-hari ini, setelah angka mendekati 350.000 kasus, rasanya jumlah kasus yang diumumkan setiap hari bukan lagi menggambarkan tingkat persebaran Covid-19 di suatu wilayah.

Jumlah kasus tersebut lebih menggambarkan kemampuan tenaga medis melakukan deteksi melalui pengetesan, pengecekan, atau mereka yang datang ke rumah sakit karena mengalami gejala yang mengindikasikan terinfeksi virus corona.

Apa yang hendak dikatakan di sini adalah masalah pandemi global Covid-19 sesungguhnya telah demikian meluas dan telah membentuk tantangan yang lebih kompleks. Mengapa dikatakan demikian?

Pertama, upaya pengendalian persebaran virus, sesuai dengan standar kesehatan dunia, dalam bentuk pembatasan mobilitas penduduk, yang meskipun berarah tunggal (memutus mata rantai penyebaran), namun dalam kenyataannya membawa dampak besar pada bidang ekonomi dan sosial.

Kita tentu telah merasakan dampak ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi, berupa resesi di banyak negara. Kedua, upaya pembatasan mobilitas penduduk dan penerapan protokol kesehatan sesungguhnya bergantung pada tingkat kesadaran warga.

Apabila kesadaran tetap rendah, sementara pembatasan telah menjadi kebijakan, yang terjadi adalah keadaan ekonomi yang terdampak, sementara kasus persebaran tetap tidak terkendali. Dalam hal kasus tidak terkendali maka potensi untuk menyerang kapasitas layanan kesehatan akan terbuka.

Kita tidak ingin sistem layanan kesehatan mengalami gangguan akibat kasus yang ditangani melampaui kemampuan. Jika hal tersebut terjadi, tantangan akan semakin besar dan meluas. Oleh sebab itulah, kita semua (tanpa terkecuali) diharapkan dapat menjadi subjek dalam pengendalian persebaran Covid-19.

Dari uraian di atas sebenarnya telah sangat jelas bahwa berhenti atau meluasnya persebaran virus ditentukan oleh kesadaran warga. Apa yang sebaiknya kita lakukan? Ulasan ini memandang kunci utama membangun kesadaran warga terletak pada keluarga dan komunitas.

Mungkin tidak saja kesadaran untuk menjadi bagian dalam memutus mata rantai persebaran, namun juga kesadaran untuk suatu cara hidup baru yang lebih baik dan sehat.

Keluarga

Kita menyebut keluarga sebagai kekuatan utama karena keluarga merupakan satuan terkecil dalam masyarakat. Dalam keluarga berlangsung interaksi yang intensif. Ketika pengetahuan lengkap tentang pandemi sampai ke dalam keluarga, maka akan berlangsung proses belajar yang paling produktif.

Akan mudah melahirkan perubahan perilaku yang sangat penting, yang mendukung upaya menghentikan persebaran virus. Perilaku apa yang kita harapkan segera tumbuh dalam keluarga-keluarga? Pertama, perilaku sadar protokol.

Senantiasa menghindari kerumuman, meskipun dalam bentuk acara-acara keluarga yang penyelenggaraannya dapat ditunda, atau dapat digantikan dengan metode daring. Kesadaran akan bahaya keluarga menjadi klaster persebaran membuat segala bentuk kebiasaan lama akan diubah dan diberi makna baru.

Misalnya, jika bertemu harus berjabat tangan, dan bentuk-bentuk lain yang menunjukan keakraban dan persaudaraan, akan segera diubah dengan bentuk ekspresi yang lebih sejalan dengan protokol kesehatan. Senantiasa menjalankan protokol standar, yakni menjaga jarak fisik (kendati dalam acara keluarga), memakai masker di tempat ramai, dan mencuci tangan dengan sabun.

Sebagai orang timur, kita menyadari penerapan ketat dan disiplin merupakan kebiasaan baru yang penerapannya sangat membutuhkan effort dan menimbulkan kecanggungan-kecanggungan.  Misalnya, ketika berkunjung atau bersilaturahmi dengan keluarga, apakah pada momen ngobrol tetap menggunakan masker atau harus dilepas, karena sopan santun mengajarkan demikian?

Belum lama ini Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mengungkapkan 90% pasien di Wisma Atlet, yang adalah pengguna masker, dinyatakan terinfeksi ketika acara makan bersama. Artinya, dalam acara makan bersama, yakni ketika masker tidak digunakan dan protokol (jaga jarak fisik) tidak dijalankan secara disiplin, peluang penularan sangat besar. Inilah pentingnya kesadaran protokol di tingkat satuan terkecil: keluarga.

Kedua, perilaku sadar hidup bersih dan sehat. Untuk menopang kesadaran menerapkan protokol kesehatan perlu senantiasa menjaga kebersihan diri orang per orang dalam keluarga dan senantiasa menjaga kebersihan rumah dan lingkungan.

Perlu juga senantiasa menjaga asupan, yang sehat dan menyehatkan, sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga. Hal ini seharusnya juga menjadi kepedulian  pemerintah, untuk mengupayakan agar asupan gizi warga relatif terjaga selama masa pandemi.

Faktor ini merupakan hal penting dalam menjaga imunitas tubuh. Tak kalah penting adalah senantiasa berolahraga dan kegiatan sehat lainnya, termasuk membiasakan diri berjemur pada waktu yang tepat dengan takaran yang sesuai petunjuk ahli kesehatan. Semua ini jika dapat berlangsung tentu akan menghadirkan keluarga sehat, yang akan menyumbang kualitas imunitas warga.

Komunitas

Kapasitas komunitas dalam kerangka pengendalian persebaran virus pada dasarnya merupakan pengembangan dari kesadaran keluarga. Hal ini dibutuhkan karena kesadaran di tingkat keluarga sangat membutuhkan lingkungan eksternal yang mendukung.

Tidak mungkin kesadaran keluarga akan bertahan manakala lingkungan justru bertindak sebaliknya. Mereka yang ketat menerapkan protokol akan mudah mendapatkan tekanan komunitas, atau sejenisnya, sehingga ketika berada di ruang komunitas, justru tidak tersedia kesanggupan untuk menerapkan protokol secara disiplin.

Seharusnya komunitaslah yang memberikan dukungan bagi penerapan di tingkat keluarga. Komunitas yang sadar protokol akan menjadi ruang sehat bagi keluarga dan individu, untuk membentuk kebiasaan baru.

Tidak hanya dibutuhkan dukungan yang bersifat moril, namun kesadaran di tingkat keluarga dan individu juga membutuhkan dukungan lain, terutama ketika masalah terjadi. Hal yang harus dihindari adalah kejadian ketika ada anggota komunitas yang terkena Covid-19, yang terjadi bukan bentuk solidaritas komunitas, malah sebaliknya, berupa stigmatisasi atau pengucilan.

Bagaimana pun yang menjadi korban penularan sangat membutuhkan bantuan dan dengan itu komunitas menjadi punya data tentang siapa yang telah tertular dan siapa saja yang punya potensi menularkan. Adanya peta sebaran di tingkat komunitas menjadi kekuatan tersendiri.

Berarti komunitas menjadi subjek utama di wilayahnya dalam rangka mengatasi masalah yang muncul.       Dengan kedua hal tersebut, dan ditambah terintegrasinya komunitas dalam gerakan edukasi yang bersifat masif, berjenjang dan terukur, maka komunitas akan menjadi arena saling belajar yang sangat penting.

Pembelajaran di tingkat komunitas tidak saja berpotensi menjadi ruang untuk membahas masalah-masalah yang langsung terkait dengan kesehatan, tetapi juga dapat menjadi tempat masalah-masalah umum yang menimpa anggota komunitas dibahas dan dicarikan jalan keluar. Jika hal ini dapat berlangsung, tentu kita optimistis pandemi segera teratasi, dengan warga sebagai subjeknya.


Editor : Profile Ichwan Prasetyo
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini