Pandemi Covid-19 Belum Reda, Apa Kabar Anak Belajar Daring di Rumah?
Solopos.com|soloraya

Pandemi Covid-19 Belum Reda, Apa Kabar Anak Belajar Daring di Rumah?

Pada akhirnya, orang tua harus mengambil peran sebagai orang tua, teman, guru, dan peran lain saat anak "dipaksa" belajar daring di rumah.

Solopos.com, KARANGANYAR — Pandemi Covid-19 membawa perubahan di berbagai sektor kehidupan di dunia. Selama ini orang sibuk berpikir upaya menghambat persebaran Covid-19 tidak sejalan dengan kegiatan perekonomian dan berdampak terhadap kesejahteraan sosial. Orang seakan lupa pandemi Covid-19 yang dirasakan lebih dari 1,5 tahun ini juga berdampak pada sektor lain.

Mari menengok sektor pendidikan. Pandemi ini tidak hanya membuat sektor “seksi” sekelas ekonomi dan kesejahteraan sosial menangis. Sektor pendidikan pun berada pada tahap berubah wajah. Dunia pendidikan menyesuaikan kehidupan new normal atau kenormalan baru.

Nyaris tidak ada pembelajaran tatap muka (PTM) atau pembelajaran luring selama 1,5 tahun ini. Kalaupun ada sangatlah minim. Entah pada kesempatan berikutnya apakah masih memungkinkan penyelenggaraan PTM secara berkelanjutan.

Baca juga: Cita Rasa Unik Teh Gambyong Buatan Pengusaha Karanganyar Tembus Berbagai Pulau

Anak-anak, guru, tenaga pendidik, orang tua, masyarakat, hingga pemerintah berbondong-bondong beradaptasi. Anak-anak diminta belajar di rumah. Praktis, kehadiran guru dan tenaga pendidik digantikan smartphone.

Sepertinya sederhana ya? Sistem pembelajaran yang jamak disebut pembelajaran jarak jauh atau daring itu. Solopos.com berbincang dengan salah satu ibu dua anak yang berkarier di bidang politik di Kabupaten Karanganyar, Endang Muryani.

Berulang kali Endang menghela napas saat Solopos.com menyinggung tentang PJJ atau daring. Dia terkekeh mengawali obrolan perihal suka duka mendampingi anak belajar di masa pandemi Covid-19.

Butuh Support Ekstra

Perempuan berkerudung itu membuat kesimpulan di awal perbincangan bahwa semangat anak belajar secara daring tidak sama seperti saat tatap muka.

“Di rumah santai, bangun siang. Mboke [ibu] sing cerewet. Mereka butuh support ekstra untuk belajar dibanding saat PTM. Muncul kebiasaan baru. Terjadi sistem ‘tawar menawar’. Itu karena anak merasa dekat dengan ibu jadi tidak ada sungkan. Berbeda saat berhadapan dengan guru di sekolah,” cerita Endang mengalir, Senin (19/7/2021).

Dia mencontohkan saat mengingatkan anak sulungnya yang duduk di kelas 5 sekolah dasar (SD) untuk melakukan hafalan surat tertentu dan menjalankan salat Duha. Itu salah satu tugas sekolah anaknya. Anak sulungnya itu bersekolah di salah satu sekolah swasta di Karanganyar.

Baca juga: Bupati, Polres, dan Kodim Karanganyar Bagikan Beras untuk Warga Terdampak PPKM Darurat

Seperti inilah obrolan ibu dan anak itu. “Saya ingatkan salat. ‘Salat mas’. Dia jawab ‘iya sebentar’. Kacau kabeh [semua]. Di sekolah diajari ketaatan ibadah. Anak-anak nurut karena sungkan kepada guru. Sama ibunya di rumah kadang harus pakai bargaining [tawar-menawar]. Pakai reward [hadiah],” ujar dia.

Pada akhirnya, orang tua harus mengambil peran sebagai orang tua, teman, guru, dan peran lain. Peran orang tua menjadi besar karena menggantikan guru di sekolah. Orang tua harus menjadi serba bisa.

“Seperti ini benar-benar menyadari guru punya andil besar mendidik anak bertanggung jawab, ibadah, belajar. Orang tua kudu greteh [harus cerewet], pintar, sabar di situasi begini. Kami dituntut memenuhi ekonomi juga mengambil peran mendidik anak yang sesungguhnya. Pada akhirnya sekolah menyiapkan materi, kami yang mengajar,” ujar dia terkekeh.

Baca juga: Bupati Minta RSUD Karanganyar Hanya Fokus Tangani Pasien Covid-19

Dia tidak bisa membayangkan orang tua yang bekerja di sektor jasa, bekerja sebagai karyawan di pabrik, perkantoran, dan lain-lain. Mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan ekonomi juga harus mengemban tanggung jawab pendidikan anak secara akademik dan karakter.

“Tugas berat di bagian pendidikan karakter. Kalau saya masalah pelajaran [akademik] tidak menjadi target maksimal. Hal terpenting anak nyaman dulu,” jelasnya.

Setali tiga uang dengan warga Kota Solo, Tri Andani Kurnia Dewi. Ibu dua anak remaja itu mengaku prihatin dengan kondisi pendidikan saat ini. Bahkan, dia mengaku sering berkonsultasi dengan wali kelas dimana anaknya belajar.

Mengawasi Aktivitas Anak

Anak sulungnya duduk di kelas 9 sekolah menengah pertama (SMP) dan anak bungsunya duduk di kelas 8 SMP. Dani, sapaan akrabnya, mengaku beruntung bisa mengawasi aktivitas anaknya belajar di rumah secara online selama pemerintah menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Darurat.

Instansi tempatnya bekerja wajib menerapkan work from home (WFH) selama PPKM Darurat. “Aku jadi bisa mengawasi anak-anak. Untuk kesehatan, masalah di lingkungan, makanan, belajar, semua terpantau. Cuma saat saya kerja tidak bisa. Bahkan sekadar mengecek handphone dia untuk membuka apa saja selain mengerjakan tugas. Biasanya buka Youtube, game, dan lain-lain,” cerita dia saat berbincang dengan Solopos.com melalui sambungan telepon Senin.

Dani mengaku serba salah memikirkan nasib pendidikan anaknya di tengah pandemi Covid-19. Di satu sisi Dani mengaku bahagia anaknya bisa belajar di rumah. Setidaknya anaknya aman dari sisi kesehatan. Di sisi lain, Dani khawatir dengan pendidikan karakter anak.

Baca juga: Berjuang Bersama Menuju Karanganyar Maju dan Berdaya Saing

“Susah untuk pendidikan karakter di masa daring. Bahkan, anak saya yang nomor dua itu saja jadi pemalu bertemu dengan orang luar. Seperti takut bersosialisasi dengan orang lain selain keluarga. Saya jadi khawatir. Bagaimana kalau ini [pembelajaran daring] terus berlangsung,” ungkapnya.

Kekhawatiran Dani ini tidak mungkin hanya dia rasakan sendiri. Solopos.com yakin masih ada ibu lain di luar sana yang sama khawatirnya dengan Dani dan Endang. Terutama berkaitan dengan perubahan kebiasaan, perilaku, tabiat, dan karakter anak selama 1,5 tahun belajar di rumah ditemani smartphone.

“Semoga pandemi lekas berakhir. Mereka bisa sekolah lagi. Kami eman dengan karakter mereka. Anak saya ini belum pernah kenal apalagi ketemu dengan teman SMP-nya. Pola pikir masih terbawa kebiasaan saat SD. Karakter ini menjadi penting supaya mereka bisa ‘bertarung’ di luar sana tanpa mengandalkan orang tua,” tutur dia.

Baca juga :Ketika Sekolah Tak Lagi Digunakan untuk Belajar Akibat Pandemi Covid-19

Pada akhir obrolan, Dani berharap pemerintah lekas mendistribusikan vaksin Covid-19 untuk anak usia 12-17 tahun dalam jumlah besar. Selain itu, obat-obatan penunjang kesehatan selama pandemi tersedia dalam jumlah banyak. Harapannya saat ruang kelas kembali dibuka, seluruh sarana prasarana penunjang kesehatan tersedia.

“Anak-anak aman sekolah lagi. Saya rasa harapan semua orang tua sama,” beber dia.

Dihubungi secara terpisah, Pejabat Humas Dewan Pendidikan Kabupaten Karanganyar, Hartono, menyampaikan memahami kegelisahan orang tua selama penyelenggaraan pembelajaran daring. Hartono juga tidak menutup telinga bahwa sejumlah orang tua mengeluhkan karakter anak berubah drastis selama belajar di rumah.

“Banyak keluhan anak malas. Saya melihat hikmahnya. Pandemi ini ‘memaksa’ orangtua mendidik anak secara benar-benar terutama karakter. Justru sekarang kesempatan orang tua mendidik karakter anak di rumah,” tutur Hartono saat berbincang dengan Solopos.com, Senin.

Membudayakan Pendidikan Agama

Dia mencontohkan anak-anak diajarkan membantu pekerjaan rumah. Dia mengingat waktu kecil diajari mengecat tembok, memperbaiki alat elektronik, dan lain-lain. Selain itu, orang tua bisa membudayakan pendidikan agama selama PJJ, misalnya membaca Alquran setiap sore.

“Semua tergantung orang tua,” ujarnya.

Lelaki yang juga menjabat Ketua Dewan Pengawas Yayasan Pendidikan Karanganyar Surakarta itu menyampaikan pemikirannya perihal metode pembelajaran selama pandemi Covid-19. Solopos.com mengingat saat Bupati Karanganyar, Juliyatmono, mengajak stakeholder terkait bidang pendidikan mengikuti rapat koordinasi secara virtual.

Baca juga: Inovasi Sekolah Gelar MPLS Daring, Memanfaatkan Kelompok dan Aplikasi

Saat itu Bupati menanyakan kesiapan sekolah menyelenggarakan PTM. Jauh sebelum kasus terkonfirmasi positif Covid-19 melambung dan pemerintah menelurkan kebijakan PPKM Darurat. Hartono mendukung rencana pemerintah menerapkan PTM.

“Waktu itu kasus Covid-19 melandai dan belum ada PPKM Darurat. Kalau sekarang, kami mengusulkan kombinasi metode PTM dan daring. Tidak bisa PTM murni. Daring jalan, PTM jalan saat praktik,” usul dia.

Sistem itu sudah diterapkan di sekolah menengah kejuruan (SMK) dan universitas tertentu. Siswa SMK akan menjalani PTM saat praktik kejuruan. Mereka datang sesuai kelompok yang telah diatur.

“Misal dalam satu pekan ada PTM sehari dulu. Lalu praktik. Daring harus tetap dilakukan tapi tidak sepenuhnya. Anak-anak perlu tahu metode pembelajaran daring mengingat saat ini kan era 4.0 dan 5.0. Anak-anak disiapkan sejak dini,” jelasnya.



Berita Terkait
Indeks Berita
Promo & Events
Terpopuler
Berita Terkini
Indeks
Berita Video
View All

Apa yang ingin anda baca?

:
:
Night Mode
Notifications
Support
Privacy
PasswordUpdated 15 days ago