top ear
Ilustrasi tersangka pencurian. (Antara-R. Rekotomo)
  • SOLOPOS.COM
    Ilustrasi tersangka pencurian. (Antara-R. Rekotomo)

Pandemi Covid-19, Anak-Anak Mencuri Meningkat, Ada Apa dengan Wonogiri?

Kasus pencurian dengan pelaku anak-anak di Kabupaten Wonogiri meningkat selama pandemi Covid-19 sebagaimana dicatat dinas sosial.
Diterbitkan Jumat, 30/10/2020 - 01:30 WIB
oleh Solopos.com/Aris Munandar
4 menit baca

Solopos.com, WONOGIRI — Kasus pencurian dengan pelaku anak-anak di Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah mengalami peningkatan selama pandemi Covid-19. Data itu dihimpun Solopos.com dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Wonogiri.

Selama pandemi Covid-19, terdapat delapan kasus pencurian dengan pelaku anak-anak.  Jumlah itu lebih banyak dibandingkan dengan kasus pencurian dengan pelaku anak pada 2019. Pada 2019, hanya terdapat dua kasus.

Pencurian memasuki urutan kedua sebagai penyebab meningkatnya kasus atau perilaku menyimpang anak selama masa pandemi. Kasus menyimpang anak paling tinggi disebabkan karena persetubuhan atau kekerasan seksual. Selama pandemi sudah ada 15 kasus.

Anime Demon Slayer atau Kimentsu No Yaiba: Mugen Train Tayang

Selain dua faktor di atas, ada dua faktor lain yang menyebabkan perilaku anak-anak Wonogiri menyimpang, namun jumlahnya tidak signifikan. Pertama, laka lantas, sebanyak satu kasus. Kedua, pencabulan, sebanyak dua kasus.

Jadi, selama pandemi sudah ada 26 kasus yang menimpa anak di Wonogiri. Adapun jumlah korbannya sebanyak 12 orang dan pelakunya berjumlah 14 orang. Dengan rincian, 12 laki-laki dan 14 perempuan.

Didominasi Laki-Laki

Sementara itu, pada 2019 terdapat 19 kasus yang menimpa anak di Wonogiri.  Dengan perincian dua kasus pencurian, lima kasus persetubuhan, enam kasus sodomi, dua kasus penganiayaan, satu kasus penyalahgunaan napza dan tiga kasus laka lantas. Dari 19 kasus tersebut terdiri dari 14 laki-laki dan lima perempuan.

Kaki Tag Golden Child Cedera, Woolim Entertainment Salahkan Fans

Kepala Dinsos Wonogiri, Kurnia Listiyarini, melalui Pekerja Sosial (Peksos), Rizki Cahya, mengatakan dalam satu bulan biasanya ia bersama tim hanya mendampingi kasus anak sebanyak satu hingga tiga orang. Namun, di masa pandemi ini bisa enam hingga delapan orang dalam waktu satu bulan.

Ia mengatakan ada beberapa faktor atau penyebab kasus pencurian dengan pelaku anak meningkat di masa pandemi ini. Mulai dari menurunnya aktivitas karena tidak masuk ke sekolah hingga faktor ekonomi keluarga.

Selama pandemi, menurut dia, anak diwajibkan belajar di rumah secara online atau dalam jaringan (daring). Ada sebagian dari mereka mungkin tidak diberi uang saku karena tidak masuk sekolah. Sehingga kebiasaan setiap hari mereka dikasih uang saku tidak lagi ia terima.

Potret Bayi Tarik Masker Dokter di Dubai Viral, Asa Netizen Kembang

“Meski tidak masuk sekolah, anak mungkin terkadang pengin jajan, beli pulsa atau menginginkan sesuatu. Nah, karena ia tidak mendapatkan uang saku selama masa pandemi, akhirnya mencari jalan lain. Kalaupun diberi uang saku, tentunya tidak sebanyak seperti biasanya,” kata dia saat ditemui Espos, di ruang kerjanya, Jumat (23/10).

Selain itu, kata Rizki, faktor pandemi Covid-19 yang menyebabkan perekonomian keluarga menurun juga dimungkinkan menjadi penyebab anak-anak di Wonogiri melakukan tindak pencurian. “Pandemi ini memang hampir memukul semua pihak, maka harus disikapi bersama. Semua pihak bisa mengambil peran untuk mencegah tindakan atau perilaku anak yang menyimpang. Keluarga dan lingkungan juga harus berperan aktif,” kata Rizki.

Sakti Peksos, Dinsos Wonogir, Wahyu Widi Pertiwi, mengatakan rata-rata anak yang melakukan tindak pencurian berusia 13-18 tahun. Mareka yang saat ini tengah duduk di bangku SMP dan SMA.

Endah Laras Meriahkan Prambanan Jazz Festival Bareng Sinten Remen

Ia mengatakan, di Wonogiri kasus seperti itu banyak terjadi justru di daerah pedesaan. Di wilayah perkotaan hampir tidak ditemukan. Menurut Widi, hal itu disebabkan karena orang tua di pedesaan cenderung kurang menguasai elektronik atau handphone.

Padahal, lanjut dia, saat ini hampir semua anak-anak di Wonogiri memegang handphone untuk belajar di rumah. Orang tua mungkin menduga handphone itu digunakan untuk belajar. Pada kenyataannya, sebagian anak memenfaatkan handphone sebagai jalan untuk melakukan perilaku menyimpang.

“Bagi masyarakat pedesaan, mungkin untuk membelikan handphone mampu, namun untuk mengontrol penggunaanya kurang begitu memahami. Maka pengawasan terhadap anak harus betul-betul dilakukan. Tidak hanya orang tua, lingkungan juga berhak mengawasi anak agar tidak melakukan perilaku menyimpang,” kata dia.

Paduan Suara Virtual Persembahkan Ya Lal Wathon dan Indonesia Jaya

Sementara itu, di masa pandemi terdapat satu kasus perceraian di Pengadilan Agama (PA) Wonogiri yang disebabkan karena kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Kasus terjadi pada Juni. Hal itu disampaikan oleh Panitera PA Wonogiri, Tri Purwani, kepada Solopos.com di ruang kerjanya, Jumat.

Perselisihan & Pertengkaran

Ia mengatakan, sebagian perceraian di Wonogiri disebabkan karena perselisihan dan pertengkaran secara terus menerus dalam keluarga. Dari Januari hingga September sudah ada 817 perkara.

Jika ditelusuri lebih jauh, menurut dia, perselisihan dan pertengkaran di dalam keluarga itu rata-rata disebabkan karena faktor ekonomi juga. Selain itu juga karena faktor KDRT secara verbal maupun psikis.

Foto Jae-hyun NCT dan Park Hye-soo Tersebar, Syuting Drama Dear M?

Dalam kasus perceraian, kata dia, jika tercatat penyebab perceraian karena KDRT, jenis KDRT yang dimaksud yakni kekerasan fisik. Dari Januari hinga September terdapat satu kasus.

Di tengah lesunya ekonomi di masa pandemi, lanjut dia, mungkin juga menjadi salah satu penyebab perceraian dalam satu keluarga. “Biasanya orang yang mengalami kesulitan ekonomi di keluarganya timbul perselisihan atau pertengakaran yang tidak kunjung selesai. Dan itu yang dijadikan alasan perceraian,” kata dia.

Angka perceraian selama pandemi tidak selalu meningkat, terkadang juga turun. Dari Januari hingga September ada 1.109 kasus perceraian di Wonogiri. Januari sebanyak 147 perkara, Februari 132 perkara, Maret 99 perkara, April 73 perkara, Mei 121 perkara, Juni 142 perkara, Juli 96 perkara, Agustus 166 perkara dan September 133 perkara.

KLIK dan LIKE untuk lebih banyak berita Solopos


Editor : Profile Rahmat Wibisono
LIKE di sini untuk lebih banyak informasi terbaru di Solopos.com


berita terkait

berita terpopuler

Iklan Baris

Properti Solo & Jogja

berita terkini